Quindici

7.8K 599 34
                                        

Kabar status omega Haruto telah menyebar hingga ke seluruh istana, terutama Junhoe dan sang istri. Sang istri memekik girang dan hendak menghampiri sang menantu namun Junghwan dengan cepat mencekal pergelangan tangan ibunya.

"Bu.. Nanti saja yaa. Ru hyung masih dalam masa heat dan bukan waktu yang tepat untuk menjenguknya sekarang. Jeongwoo hyung akan menjaga Ru hyung" Sang Ibu mengangguk mengerti, masih dengan senyuman lebar di wajahnya. Bukannya tidak senang dengan status Haruto sebelumnya, dia menerima menantunya apa adanya tapi mendengar jika Haruto ternyata seorang omega membuat wanita paruh baya itu bahagia. Jika kalian mengira Ibu Jeongwoo bahagia akan segera memiliki cucu, kalian salah besar. Sang Ibu bahagia dengan status Haruto yang baru karena sang suami tidak akan menjelek- jelekkan Haruto lagi dengan membawa-bawa status beta yang sebelumnya di sandang oleh putra bungsu Watanabe itu.

Matanya melirik sang suami yang hanya terdiam sedari tadi.

"Sudah tidak ada alasan bagimu memandang rendah menantu kita, Park Junhoe." ucap sang istri. Junhoe hanya melirik sang istri sekilas lalu berlalu meninggalkan istri dan putra bungsunya. Junghwan menggeleng pelan melihat tingkah ayahnya yang masih saja tidak bisa menerima Haruto. Terkadang dirinya merasa iba melihat Rowoon yang begitu berusaha berbicara dengan Junhoe begitupula Haruto yang rela menurunkan ego nya dan menghormati Junhoe sebagai ayah mertuanya. Namun balasan untuk mereka? Tidak ada. Ayahnya tetap acuh dan menganggap keduanya seperti orang asing namun Junghwan mengerti, diam-diam ayahnya memperhatikan Rowoon saat belajar dengannya. Junghwan hanya bisa berdoa agar sang ayah dapat melunakkan hatinya untuk menantu dan cucu nya.

Junghwan mengerjapkan matanya saat merasakan tepukan pelan di bahunya. Di lihatnya sang Ibu yang menatapnya khawatir.

"Kau tidak apa-apa? Kau melamun"

Junghwan terkekeh pelan lalu mencium pipi sang ibu.

"tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan Rowoon."

"Ah yaa!! Rowoon, aku merindukannya" Junghwan terkekeh pelan lalu merangkul lembut pundak sang ibu dan membawanya menuju taman belakang. Sesampainya di sana, keduanya mendudukkan diri di bangku panjang.

"Satu minggu lagi Rowoon akan di jemput. Seharusnya dia pulang hari ini karena hari ini tepat sudah seminggu anak itu di rumah kakek neneknya. Tapi berhubung Haru hyung heat jadi Rowoon sementara ini di titipkan di Pack Barat"jelas Junghwan. Sang Ibu mengangguk lesu mendengarnya. Rupanya nenek Rowoon satu ini sedang rindu berat dengan sang cucu. Junghwan tertawa pelan lalu mengalihkan pembicaraan mereka ke pembahasan yang lainnya.

.

.

.

"Hnngghh.. J-Jeongwoo menyingkir dari leherkuu uhh" Haruto mencoba mendorong kepala suaminya yang ada di lehernya. Jeongwoo mengangkat kepalanya dan menatap mata bulat itu lekat.

"Aku hanya mengagumi bekas gigitanku di lehermu, sayang" Haruto mendengus kasar mendengarnya . Pasalnya, Jeongwoo sudah mengatakan itu berpuluh-puluh kali semenjak Haruto mengelami heat pertama seminggu yang lalu. Haruto merasa jauh lebih baik, tubuhnya tidak lagi demam seperti hari-hari sebelumnya.

Jeongwoo meletakkan telapak tangannya ke dahi Haruto dan mengangguk puas.

"Demam mu sudah turun. Sepertinya masa heat mu sudah berakhir" ucap Jeongwoo. Haruto mengangguk dan mencoba mendudukkan dirinya. Ringisan pelan dari sang istri membuat Jeongwoo dengan sigap membantunya untuk duduk dan menyanggah punggung Haruto dengan bantal.

"Jangan terburu-buru sayang. Kau belum sepenuhnya pulih" tegur Jeongwoo. Haruto terkekeh pelan melihat tatapan khawatir suaminya. Satu minggu ini cukup membuat Haruto semakin jatuh pada sang suami. Jeongwoo adalah sosok suami yang tanggap dan perhatian bahkan terhadap hal-hal kecil sekalipun. Haruto semakin yakin untuk memberikan hatinya kepada suaminya.

DESTINO S1 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang