2

1.4K 95 2
                                        

"Sha.. Ni.. Shayla.. Nirvana..", ucap Shayla sambil menunjuk badge nama di baju seragamnya.

Dari kejauhan, aku hanya mengulum senyumku. Merasa bangga karena menjadi orang pertama yang telah menyadari paraf aneh tersebut.

Dan, tanpa adanya prosesi selametan bubur merah bubur putih, hari-hari setelahnya Shayla lebih dikenal sebagai Shani. Hanya guru-guru dan beberapa siswa kelas lain yg masih memanggilnya dengan nama panjangnya.

Shani..
Entah mengapa mataku tak pernah lepas mengawasi gerak geriknya, serta apapun yang melekat padanya. Dia anak yang kalem, tak banyak bicara, namun sekalinya mengeluarkan kata-kata, seakan siapapun bisa tunduk kepadanya. Dia anak yang ramah namun tak mudah didekati, lebih tepatnya disegani. Seolah kami sadar diri dan merasa tak pantas masuk ke circle-nya.

Biar aku perkenalkan teman-teman dekatnya. Ini berdasarkan pengamatan dan hasil curi dengarku. Kita mulai dari Anin, si anak petinggi abdi negara. Aku baru ingat, dia pernah satu kelas denganku saat kelas 7. Penampilannya berubah drastis hingga aku tidak mengenalinya. Potongan rambut barunya membuat ia nampak lebih keren. Anaknya cukup aktif, selalu butuh kepastian, juga kepoan. Berkat introgasi di jam istirahatnyalah aku bisa tau siapa dan bagaimana ketiga orang teman lainnya. Ohya, saat kelas 7 Anin juga pernah sebangku denganku. Tapi itu tak lama, mungkin Anin bosan denganku karena aku tak akan bicara jika tak ditanya, dan saat diajak bicara hanya jawab iya iya saja. Introgasi Anin tak mempan untukku. Ia hanya terlalu cepat menyerah. Untuk urusan akademik, tak perlu diragukan lagi. Ia berasal dari SD favorit dan berhasil masuk dengan NEM yang cukup tinggi. Untuk urusan bersosialisasi, ia bisa dibilang mudah bergaul, dan tak peduli pandangan orang terhadapnya. Toh meskipun satu kelas membencinya, ia masih bisa hidup, jajan enak, dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.

Selanjutnya ada Feni. Dia anak yang bisa membuatku takut meskipun tidak melakukan apapun. Dia selalu menatap siapapun dengan tajam. Dia dingin, cuek, dan punya selera humor yang tinggi, alias tak mudah tertawa. Akan tapi sangat berbeda saat sedang bersama teman-temannya. Ia juga berasal dari keluarga berada. Terlihat dari ponselnya yang selalu keluaran terbaru, juga tas ransel branded-nya. Tidak seperti tas ranselku yang bunda beli di pasar malam.

Sisca. Dia anak yang paling bisa diajak bicara di antara teman-temannya. Beberapa kali dia juga ikut tertawa atau menimpali saat aku, Adel, Olla, dan Flora sedang bercanda. Tapi dia juga si paling mood swing yang tak bisa jauh dari teman-temannya. Pernah sekali waktu Olla mengajaknya bercanda, namun tiba-tiba ketiga temannya datang dan berbicara serius dengannya, seketika itu juga ia tiba-tiba nampak ketus. Olla seakan menggantung diri dalam candanya. Giginya sampai kering menunggu reaksi yang tak kunjung datang dari Sisca. Secara akademik pun Sisca bisa dibilang paling biasa saja. Sesekali ia juga ikut remedial bersamaku, Adel, Olla, dan Flora. Tapi yang kusalut dari pertemanannya, mereka akan saling membantu. Tak jarang ketiga temannya rela pulang terlambat demi membantu Sisca belajar. Hasilnya pun terlihat nyata. Kini sudah sangat jarang kami remedial bersama.

Okay, sekarang apa kalian juga penasaran dengan teman-temanku?
Baiklah, aku perkenalkan singkat saja. Flora dan Olla sama-sama anak guru sepertiku. Bundanya Flora bertugas di tata usaha bagian keuangan, sementara ayah Olla adalah guru elektro. Meskipun selama ini prestasi akademik kami tidak baik-baik saja, tapi kami berhasil masuk ke sekolah favorit ini murni karena NEM kami yang meskipun pas-pasan tapi layak.

Vibes Flora sebenarnya hampir sama dengan Feni. Tak banyak bicara dan nampak tak suka bercanda. Tapi sebenarnya ia sama receh dan bobroknya dengan Olla. Mungkin itu mengapa mereka bisa sangat dekat bahkan sebelum masuk ke SMP.

Untuk urusan akademik, Olla dan aku berada di level yang sama. Mudah bingung dan sulit memahami pelajaran. Tapi ia lebih mudah hilang fokus. Saat sedang belajar matematika, ia bisa tiba-tiba mengeluhkan urusan rumah tangga. Orang tuanya hobi beranak pinak. Adiknya banyak dan mungkin masih akan terus bertambah lagi. Tapi, Olla adalah si paling pengertian. Meskipun imejnya bobrok, tetapi sebenarnya ia juga si paling bijak dan penuh solusi.

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang