9

639 66 0
                                        

Aircukup, 2008

Pembangunan gedung kelas baru telah rampung. Tingginya tiga lantai. Ruang kelas dibuat berderet, menyambung tegak lurus dengan gedung di sisi kanan yang kutempati saat kelas 7 dulu. Perpustakaan dan lab komputer dipindah dan menempati lantai paling atas gedung tersebut. Dan, ruang kelasku pun dipindah ke lantai duanya. Lebih lapang, lebih terang.

Pintu masuk yang terletak di sisi depan sebelah kiri ternyata berdampak serius bagiku yang terbiasa menjadi makhluk deret belakang. Dulu tak banyak yang aku lihat. Pintu kelas yang berada tepat di belakang bangkuku ditambah keadaan ruangan yang cukup gelap membuatku tak pernah menyadari banyak hal di kelasku ini yang ternyata diisi oleh para pemilik paras rupawan. Dan, aku merasa bangga karena beruntung tak salah menjatuhkan hati pada Shani. Dia yang terindah.

Sejak pindah ruangan, rasanya ada tuntutan tak tertulis yang mendorongku untuk berpenampilan lebih baik saat akan memasuki kelas. Sadar akan lebih banyak pandangan mata yang mengarah kepadaku tiap kali aku datang di pagi hari. Aku bahkan membeli beberapa buah jaket baru untuk aku kenakan saat pergi sekolah naik motor bersama bunda. Setidaknya, sedikit lebih bergaya saat tiba di kelas.

Pagi ini cuaca nampak kurang bersahabat. Memang tidak sampai turun hujan, namun awan kelabu menyelimuti langit sejak dini hari. Angin dingin pun terus berhembus tiada henti. Pelan dan pasti. Setelah tiba di lantai dua, aku berbelok ke sebelah kiri menuju kelasku. Tak banyak orang yang berpapasan denganku. Memasuki kelas, ternyata sudah ramai teman-teman yang datang, padahal pagi ini bunda mengajakku berangkat jauh lebih awal dari biasanya. Keburu hujan katanya.

Masih saja tak pernah terbiasa. Satu dua sorot mata menyambutku tiap kali melangkah masuk ke kelas ini. Kulewati deretan bangku depan secara perlahan. Tepat di balik sisi daun pintu yang terbuka, terdapat meja yang ditempati oleh Zee dan Nabil. Di belakangnya, ada meja yang ditempati oleh Gito dan Deo. Mereka bisa dibilang mirip dengan Shani dan ketiga temannya. Bedanya, mereka versi laki-laki.

Jujur saja, semenjak ruang kelasku dipindah, tatapan mataku sesekali tertuju pada Deo. Mataku seolah menemukan medan magnet barunya. Tidak. Tidak. Tidak. Bukannya aku menduakan Shani, dia memiliki tempat istimewanya sendiri di benakku. Hanya saja, sebagai anak perempuan yang menginjak masa remaja, wajar saja bukan bila aku begini..

Fiony menyambutku dengan senyuman dari tempat duduknya yang sejajar dengan bangkuku, namun terhalang oleh Lulu. Baru saja aku meletakan ranselku, Fiony tiba-tiba menghampiriku sambil membawa buku catatannya. Ada apa ini??

"Hmm, Niel.. Kamu udah bikin tugas biologi belum?
"Yang rangkuman itu?"

Fiony mengangguk-angguk cepat.

"Udah.."
"Hmm.. Boleh liat ga?.."
"..."
"Hmm.. Aku udah sih, cuma takut ada yang kelewat aja.."
"Ooh.. Boleh.. Boleh.. Sebentar"

Fiony lantas kembali ke bangkunya setelah aku menyerahkan buku catatanku.

"Kenapa sih tuh orang, aneh banget", celetuk Adel sambil sibuk bermain tetris di ponselnya.

"Aneh?"

Adel hanya mengedikkan bahunya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

Aku tak memedulikannya. Lebih baik aku arahkan saja pandanganku ke depan sambil menunggu bel masuk berbunyi. Lagi pula ada dua pemandangan indah di sana. Beruntung sekali aku. Yang kumaksud tentu mereka. Duduk sejajar, berdekatan, dan hanya terpisahkan lorong meja.

Waktu berjalan terasa amat lambat. Bel masuk belum juga berbunyi. Adel masih asyik bermain tetris, dan Fiony masih memeriksa buku catatanku. Pinggangku rasanya sungguh pegal karena tak banyak yang bisa aku lakukan.  Shani bersama ketiga temannya juga keluar. Mungkin nongkrong cantik di koridor kelas. Melihat hiruk pikuk suasana pagi dari tepi pagar besi setinggi ulu hati.

"Kelompok Inggris mau gabung sama Lulu?", kata Adel tiba-tiba, sadar atas kegabutanku.

"Ga jadi bareng Ashel?", jawabku sambil merebut ponsel Adel dan melanjutkan permainan tetrisnya.

"Ashel udah bareng yang lain"
"Hmm.. Sama siapa aja?"
"Paling kita berempat aja?"
"Berempat?"
"Bareng Fiony juga"
"Ooh.."

Tanpa terinterupsi obrolan bersama Adel, aku bermain dengan baik. Ternyata seru juga memainkan permainan sederhana ini, terlebih kala suntuk seperti sekarang ini.

"Niel.. Niel.."
"Eh bentar bentar.. Sedikit lagi ituuu.. Yaampun ga sabar banget Del.."
"Udah bel ih.."
"Lah? Kapan?"
"Bener bener ya kamu Niel.. pas main tetris doang bisa fokusnya.."
"Ya gimana ya.."

Suara derap langkah yang terburu-buru terdengar semakin dekat ke kelas. Anin dan Feni muncul dari balik pintu, disusul oleh Sisca yang langsung menutup pintu kelas.

Eh eh sebentar, ke mana Shani-ku??

***

Kami sedang berdisukusi tugas kelompok Bahasa Inggris. Olla dan Flora yang kini tempat duduknya pindah agak jauh dari tempatku, memutuskan untuk bergabung dengan kelompokku. Kami duduk berdesak-desakan mengelilingi mejaku. Fiony yang duduk di sampingku nampak begitu antusias dengan tugas ini. Beruntung bagiku, Fiony memang jagonya.  Tapi sayangnya waktunya sedang tidak tepat. Aku suka drama. Tugas kami adalah menampilkan drama singkat. Tapi.. Aku benar-benar tak dapat berkonsentrasi. Pikiranku masih terikat pada visual yang aku dapati tadi pagi.

"Keren ya mereka, bisa ga ada yang tau gitu..", bisik Adel sambil mengetuk pelan lenganku dengan pulpennya.

Kulihat Nabil membuka pintu kelas. Ia menahan tangannya di pegangan pintu. Shani masuk dengan anggun. Wajahnya berseri, segar sekali. Nabil menutup pintu tersebut perlahan. Berjalan di belakang  mengikuti Shani. Mereka duduk di bangkunya masing-masing. Mereka bertukar pandangan. Shani tersenyum. Raut wajah itu sungguh asing bagiku. Satu semester lebih ini aku memerhatikan Shani, belum pernah sekalipun aku melihat Shani berekspresi seperti itu.

Aku hancur. Haha. Tanpa sebab aku hancur..

"Yaudah kalo gitu, siapa yang mau jadi Si Jack-nya?"
"Kamu aja Lu.. Mumpung penampilan mendukung.."
"Apaan sih La.. Ogah ah.. Dialognya panjang-panjang gitu.."
"Yaudah, kalo gitu jadi Rose.."
"Ga mauuu.. Panjang banget ya ampun dialognya Rose.. Ngomong terus dia.."
"Yaelah Lu.. Jadi kurcaci mau? Ga ada dialog sekalian.."
"Nah boleh-boleh deh, mendingan pake kostum aneh-aneh deh, daripada harus ngapalin dialog.. Hiiih.."
"Yaudah.. Hmm Fio plis jadi Rose ya.. Jangan nolak.. Bahasa Inggris kamu paling bagus di antara kita.."
"Hmmm.. Tapi La.."
"Jack-nya Oniel ko Fio.. Iya ga Niel?"
"Iya,. Eh?! Apaaa?!"
"Hahaha udah fiks ya.. Jangan ada yang ganggu gugat lagi.. Hahaha lagian kamu bengong aja sih Niel.. Asal ngeiyain Si Adel gitu aja lagi.. Hahaha selamat bekerja keras ya Niel.. Hahaha"
"Eh ga gitu ya.. Plis deh kalian mah.. Ih.."
"Bantuin Oniel-nya ya Fio.. Harus agak sabar kalo sama dia emang.."

***

Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil menggenggam teks drama Bahasa Inggris pemberian guruku. Alur ceritanya memang agak aneh. Entah dari mana bu guru mendapatkannya. Seleranya memang luar biasa. Beruntung waktu tesnya masih lama, setidaknya ada waktu bagiku untuk menghafal semua dialog ini. Sudah panjang, harus berakting jadi laki-laki pula, sungguh menyebalkan..

Di hadapanku, televisi cembung kecilku yang  sedari tadi kubiarkan menyala, menampilkan sinetron Namaku Mentari yang kurang menarik bagiku. Bisa-bisanya pemain favoritku tidak ada di sana.. Padahal pemeran pendukungnya banyak yang berasal dari sinetron favoritku sebelumnya. Bahkan pemeran utamanya pun tidak berubah.. Bagaimana bisa dia tidak ikut serta..

Mengapa aku harus mengalami perasaan menyebalkan ini secara serentak?? Semua yang kuidolakan seolah pergi bersamaan.. Menikmati kehidupannya sendiri. Sedang aku yang sebatas pengagum hanya bisa terus mengagumi, dan berusaha berbahagia atas apapun kebahagiaan yang mereka dapati..

つづく


Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang