14

510 56 1
                                        

Kenapa aku ini, tak bisa sekejap saja melepaskan padanganku dari punggung Shani..

Ya, entah mengapa.. Memandangi punggung Shani rasanya membawa kedamaian bagiku. Ciri khas punggung seorang pelindung, seseorang yang bisa diandalkan. Aku merasa aman hanya dengan menatap punggungnya. Meski demikian, aku merasa semakin ingin melindunginya. Menjadi seseorang yang ada di saat lemahnya. Terlalu utopis memang, tapi ah sudahlah..

Lagi pula Shani sudah kembali ke tempat asalnya. Kembali ke kejauhan. Itu lebih membuatku senang. Daripada ia duduk di dekatku, tapi auranya meredup. Lebih baik seperti ini. Tetap bersinar, meski tak tergapai.

Tepat saat bel masuk berbunyi, Anin memasuki kelas. Ada kesungguhan dalam setiap langkahnya. Ya, seperti yang pernah kubilang bukan.. Meski ia dimusuhi.. Ia tetap dapat menjalani hidupnya, dan tak pernah kehilangan karakternya.

Ohya, aku juga memuji keprofesionalan Anin dan ketiga.. Mantan temannya (?) dalam menjalani keseharian sebagai pelajar. Meski tarjadi perpecahan di antara mereka, Anin tetap sebangku dengan Shani. Bahkan bila ada kerja kelompok yang melibatkan mereka berempat, tugas mereka tetap keluar menjadi yang terbaik. Hebat bukan?

Dan, tentang gosip itu.. Itu membuatku jadi semakin bingung sendiri. Tentang sesuatu yang melibatkan Kak Sani. Karena.. Hal apa lagi yang dapat membuat Anin marah selain itu.. Aku pun pernah menjadi korbannya.. Kalian ingat kan?

Tapi masalahnya.. Shani dan Nabil terlihat masih bersama. Perlakuan hangat dari Nabil tak pernah Shani hindari. Ohya, aku sendiri tak tahu pasti sejak kapan dan bagaimana mereka berbaikan, tapi kenyataan yang kulihat sekarang, ya seperti ini.. Jadi.. Mungkin kesimpulannya begini. Gosip yang beredar mungkin hanyalah gosip semata. Yang disebarkan oleh seseorang yang tidak menyukai Shani, atau mungkin seseorang yang iri dengan persahabatan Shani dan ketiga temannya. Di sisi lain, Anin yg sensitif dengan apapun yang berkaitan dengan Kak Sani, pasti naik pitam sebelum menunggu kejelasan, lagi pula Shani dan Nabil pernah tiba-tiba tidak akur. Seolah membenarkan keadaan. Dan mungkin, untuk Feni juga Sisca, sepertinya mereka lebih tidak memedulikan gosip itu. Tapi.. Jika Shani dan Nabil bisa berbaikan, kenapa dengan Anin tidak bisa? Dan jika yang bermasalah adalah Anin dan Shani, mengapa Feni dan Sisca juga ikut menjaga jarak?? Hmm..

"Flo, Olla ke mana?"
"Ga masuk.."
"Lah, bapaknya ada tadi aku liat"
"Ya emang kalo misalnya Olla ga masuk, bapaknya harus ikutan ga masuk juga? Ada-ada aja kamu Del.. Sakit dia.. Udah ah aku balik ke bangku aku dulu.."
"Lah, bisa sakit juga tuh anak? Hahaha"
"Parah banget Adel.. Temen sakit dibercandain.."
"Serius banget sih Shel.. Tapi dia kan emang si paling ga pernah sakit kan cuy?"

Sebentar, perhatikan ucapan Flora barusan. Ini darurat. Serius. Ini gawat darurat. Kalau Olla tidak masuk.. Gawat.. Di pelajaran elektro nanti aku sebangku dengan siapa? Tidak lucu bukan, kalau sampai tidak kebagian tempat duduk.. Dan.. Malu gak sih, harus ribet membawa-bawa kursi sendiri saat pindah kelas nanti.. Tidaaak.. Ini benar-benar gawat..

***

Bak gayung bersambut, semua yang Atin harapkan selalu terjadi sesuai dengan keinginannya. Meski dengan cara yang ekstrim dan kelewat gila, keinginannya untuk lebih sering berinteraksi dengan idolanya, Jessi, nyatanya terjadi juga.

Panggilan-panggilan iseng yang dilakukan Atin pada Jessi pada akhirnya berubah menjadi obrolan satu arah. Ya, aku menyaksikannya sendiri. Dengan mata kepalaku.

Mulanya Atin mengontak nomor Jessi sebanyak dua kali, namun hanya beberapa detik saja dan mematikan panggilan tersebut sebelum terangkat.

Tak lama, Jessi membalas dengan melakukan satu kali panggilan singkat dan dengan cepat kembali mengakhirinya. Jika sudah demikian, maka Atin akan mengontak nomor Jessi lagi hingga Jessi benar-benar mengangkatnya. Bukannya dia, Jessi-lah yang justru memulai pembicaraan. Ia seolah bercerita dengan mesin penjawab otomatis. Mengatakan dengan bebas apapun yang sedang ingin ia katakan. Atin pun mengikuti alur permainan yang terjadi secara ajaib ini. Atin tak bersuara sedikit pun, dan jika sudah selesai maka Jessi akan memutus panggilan itu dengan sendirinya.

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang