Baru kali ini rasanya aku merindukan mengerjakan PR..
Ya.. Setidaknya aku punya sesuatu untuk dikerjakan..
Hari Minggu pun rasanya jadi sia-sia jika kurang kerjaan begini. Ditambah lagi ayah bunda pergi, Kak Jesslyn pergi, Kak Mira.. Juga ikut-ikutan pergi.. Bahkan jarum jam pun terasa amat lambat putarannya..
Aku menatap layar cembung televisi di hadapanku dengan tatapan tak berselera. Acara kartun mingguan rasanya sudah mulai membosankan bagiku. Saat hendak mengambil remot, tanganku malah bergerak mengambil ponsel. Karena sudah terlanjur memegangnya, akhirnya kumainkan ponselku. Menggulir asal ke atas ke bawah pesan-pesan masuk yang memusingkan mata dari Atin. Kembali ke layar utama, lalu kugulirkan secara asal daftar kontak. Hingga gulirannya secara otomatis berhenti di kontak Shani, yang terletak di paling akhir. Aku menatapnya beberapa saat.
Pikiranku mulai nakal lagi.
Tiba-tiba muncul hasrat yang besar untuk mengirim pesan kepada Shani.
*Pilihan > Tulis Pesan Teks >
[PESAN ANDA]
Hai Shani..
*Kirim > [Mengirim Pesan] > Batal > [Pesan Gagal terkirim]
Tulis. Kirim. Batal. Tulis. Kirim. Batal. Berulang kali aku melakukan tindakan yang sama. Kurasakan sensasi yang mencandu saat melakukannya. Rasa mendebarkan bercampur geli yang entah terletak di sebelah mana dari bagian tubuhku ini.
Semakin kecanduan, semakin meningkat pula sensasi yang ingin aku rasakan. Manusia memang tak ada pusanya. Aku mulai menulis pesan yang lebih panjang dan berani.
[PESAN ANDA]
Hai Shayla Nirvana..
Tau ga, aku sll berdoa sm Tuhan utk dksh smgt buat jalanin hdp. Secara aku anak'a malesan prh n ga tertarik apapun.. Aku smp janji, klo Tuhan ngasih itu lwt kehadiran seseorang, aku bkl ikhlas jadiin dia pacar aku. Kaya semangat yg Tuhan kasih ke Anin lewat Kak Sani. Juga yg Tuhan kasih ke Ashel lwt Rico. Tp ternyata Tuhan ngasih aku semangat'a lwt km..
Jd.. Blh ga aku, Cornelia Syafa Agatha, minimal jadi sodara km deh..
Aku tertawa geli sendiri membaca pesan yang baru saja kuketik. Kubaca sekali lagi. Dan kutekan tombol kirim sambil tertawa girang.
*Kirim > [Mengirim Pesan] > Batal > [Pesan Sedang Diproses] > batal > [Pesan Sedang Diproses] > batal > [Pesan Berhasil terkirim]
Mataku membulat.
*Kembali > [PESAN TERKIRIM]
📨Shani-8b
📨Kathrin-Fam
📨########
📨#####
Oh my God.. Mampus..
Napasku tercekat. Jantungku berdegup tak karuan. Badanku lemas seketika.
Ya Tuhan.. Boleh menghilang saja tidaaaaak..
***
"Kamu tuh kebiasaan ya, cepet pake seragamnya.. Bunda telat nih, mana kebagian jadi pembina upacara lagi.. Haduuuh.."
"Tapi aku ga enak badan Bun.. Coba pegang deh kening aku.."
"Mana.. Ga panas juga.. Udah cepetan pake seragamnya.."
"Yaah Bunda mah.. Ga sayang anak.."
"Eeeh.. Cepet.. Di sini aja pake seragamnya, sambil Bunda suapin sini.."
"Bun..."
"Bunda gamau ya.. Kamu kenapa-napa pas lagi upacara kaya yang udah-udah.. Nyusahin guru lain pula, minta dianterin pulang segala.. Manja kamu tuh.. Kalo disuruh sarapan ya cepetan sarapan.. Udah tau gampang pusing kalo telat makan apalagi kepanasan.. Belajar kamu tuh ngurus diri sendiri.. Gimana mau SMA di luar kota kalo kamu kaya gini terus Niel.. Niel.."
Aku hanya bisa mengehentakkan kakiku sambil memakai seragamku. Sementara bunda terus mengomel sambil menyuapiku nasi bercampur sayur kacang merah dan potongan kecil telur mata sapi.
***
"Niel, kamu ko diem terus sih? Lagi dapet?"
"Engga.. Cuma ga enak badan aja.."
"Mau nitip beli apa ga?"
"Engga.. Makasih Del.."
"Yaudah deh.. Kalo mau minum, ambil aja botol di tas aku ya.."
"Iya, makasih La.."
Aku pun menelungkupkan kepalaku ke meja. Rasanya sungguh tak nyaman. Rasa malu yang sudah melampaui batasnya membuat hariku seakan runtuh dan lumpuh. Ingin aku meminta maaf pada Shani atas ketidakjelasanku, tapi nyaliku benar-benar menciut tak bersisa. Di sisi lain aku juga tak mau sampai Shani jijik apalagi benci kepadaku. Sedari tiba di kelas, aku tak mampu memandang ke depan, apalagi curi-curi pandang ke arah Shani seperti biasanya. Aku bahkan benar-benar tidak tahu apa yang sedang dilakukannya atau bahkan apakah dia hari ini hadir di kelas atau tidak. Dan sialnya, aku tak bisa berperilaku biasa saja dan seolah tak terjadi apa-apa seperti yang telah aku rencanakan. Ternyata sungguh sulit untuk berakting seperti tidak berakting..
***
Hari-hari kubiarkan berlalu begitu saja. Kurasakan sensasi yang sama seperti saat kelas 7 dulu. Aku benci sekolah. Kukerjakan tugas sebisaku tanpa usaha lebih dan segera meninggalkan kelas saat bel berdenting.
Beban di pundakku terasa begitu nyata dan berat. Ternyata begini rasanya menanggung malu. Benar-benar seberat dan semengganggu itu. Belajar jadi tidak fokus. Jam istirahat jadi waktu yang paling tidak dinanti. Canda tawa teman-teman pun terasa hambar di telingaku. Ingin cepat pulang saja rasanya.
Kuharap teman-teman tak menyadari perubahanku. Ku tak mau mereka menjauhiku. Tak mungkin pula aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Beruntung mereka tidak sebegitu pedulinya kepadaku. Progres kisah romansa Ashel dan Rico yang semakin baik dan menggemaskan itu sudah cukup untuk mengalihkan kekepoan mereka dariku.
Aku duduk seorang diri di dalam perpustakaan menunggu bunda selesai dari kelas. Lewat jendela bervitrase, aku memandang siswa-siswi yang berlalu lalang melintasi lapangan dan parkiran. Ada yang sedang beristirahat sebelum kegiatan ekskul dimulai, ada pula yang bergegas menuju gerbang, menghentikan angkot atau menghampiri para penjemputnya. Beberapa anak OSIS berjalan mendekat sambil bercanda tawa. Tangan mereka dipenuhi minuman dan jajanan bersaus merah mencolok. Mungkin mereka sedang menunggu jam rapat. Aku sedikit bersembunyi saat mereka semakin mendekat, khawatir kalau-kalau vitrase ini tak cukup untuk menahan pandangan mereka ke dalam perpustakaan. Ruang OSIS memang terletak tepat di lantai atas ruang perpustakaan ini. Jadi wajar saja kalau banyak di antara mereka yang melintas.
Aku menunduk sambil memijat pelipis dengan tangan kiriku. Aku benci menunggu. Terlalu lama menunggu bunda sudah cukup membuat kepalaku pening. Karena bosan, kubuka deretan pesan baru dari Atin di ponselku.
[PESAN MASUK]
Dari: Kathrin-Fam
eeeee
ue6uede7 ye6ua+ !p >Iomo) ewes >Ieqwa+!p e!p snja+ 'ye+7n !ssa? >Ie>I
Sebelah sudut bibirku terangkat. Membacanya membuatku rindu pada Shani dengan teramat sangat, padahal dia jelas-jelas sekelas denganku. Memang aku yang menghindarinya, tentu karena rasa malu dan bersalahku.
Aku menarik napasku dalam-dalam dan kembali kuarahkan pandanganku ke luar. Namun apa yang terjadi?
Kulihat Shani berdiri tepat di balik jendela di hadapnku. Ia sibuk memperhatikan pantulan bayangan sendiri di kaca, membetulkan poninya sambil terus bercengkrama dengan teman sesama OSIS-nya. Jantungku berdegup tak karuan. Sejengkal saja ia memajukan wajahnya ke jendela, maka terlihatlah aku.
Aku mematung berusaha tak membuat gerakan sedikitpun. Kucurahkan semua rasa yang ingin kusampaikan lewat tatapan yang tak berbalas ini.
Maafin aku Shani..
Shani..
Aku rindu..
つづく
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
FanfictionMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
