Aku mengayuh sepedaku dengan cepat. Menghindari sinaran mentari yang semakin memanas. Ke mana aku menuju?
Ya, ke rumah Atin tentunya. Setelah sekian lama janji untuk bermain bersama tak kunjung terwujud.
Aku memarkirkan sepeda Caribou warna biruku di antara mobil Panther hijau ayah Atin dan pagar rumput yang dipangkas membentuk persegi. Atin menyambutku sambil menenteng sebuah kandang kecil berisi marmut.
"Kembarannya mati Kak, dimakan induknya.. Terus induknya ga lama mati juga.."
"Hmm.."
"Ehya.. Aku udah lama mau nunjukin sesuatu ke Kakak.. Aku yakin banget Kak Oniel pasti mau juga ngikutin aku.."
"Apa tuh? Asyik banget kayanya?"
"Sumpah, asyik banget Kak, bikin nagih.. Aku berani jamin deh.. Yuk ah.."
Aku berjalan membuntuti Atin menuju kamarnya. Kamar Atin nampak lebih berantakan dari terakhir kali aku berkunjung. Sambil mencoba merapikan tempat untuk aku duduk, Atin meletakkan kandang kecil itu di meja mungil dekat tempat tidurnya. Ia kemudian mengambil sebuah sim card berwarna kuning di samping kandang tersebut, lalu melepas casing bagian belakang ponselnya, dan memasukkan kartu tersebut di balik baterai.
"Hehe. Liat nih Kak.."
"Wih, SMS-an sama siapa Tin? Luki Luki itu?"
"Ih bukaaan.. Liat dong Kak, siapa nama pengirimnyaaa"
"Jessi?"
Atin mengangguk bangga.
"Aman?"
"Banget"
"Kalo ketauan gimana? Kamu ngakunya siapa? Ko dia ladenin?"
"Hehe lebih ke maksa sih aku Kak.. Coba pake teknik cowok-cowok random yang suka tiba-tiba ngirimin SMS.. Eh taunya dia nanggepin.. Yaudah aku lanjutin.."
"Tapi ko berantem gini sih Tin?", aku membaca semua kotak masuknya yang diisi oleh pesan-pesan panas penuh keributan.
"Iya sih.. Agak salah akunya juga.. Tapi untungnya dia anaknya ngejawab terus.. Ga mau kalah hahaha. Ya untung di aku kan Kak, jadi bisa ngobrol terus sama idola.. Plus tau sisi lainnya dia.. Yang ternyataaaa.. Kalo lagi marah gemesin banget.. Jadi pengin gangguin terus kan akunya.. Hehehe"
"Agak psiko yaaa.."
"Hahahah iya sih.. Kakak mau coba gak?"
"Isengin Jessi?"
"Shani dong Kaaaak.. Duuuh.. Gini deh.. Kakak coba nih ya isengin dia pake nomer aku yang ini, mumpung masih ada bonus gratis kirim SMS 10 kali.."
"Hmm.. Ngeri tapi.."
"Tenaaaaang aku bantuin deh.."
"Hmm.. Yaudah.. Boleh.."
Aku mengabil ponsel Atin dan mulai memasukkan nomor kontak Shani yang aku salin dari daftar kontak di ponselku.
"Kirim apa ya Tin.. Kalo nyapa-nyapa doang gitu aja malah takut risih dianya"
"Hmm.. Ini aja Kak, coba kirim dia lirik laguuu"
"Hmm boleh boleh.."
"Lagu kesukaan Kakak aja.. Apa?"
Aku pun mulai mencari lirik lagu Ruang Rindu dari band Letto yang sedang aku sukai. Aku ketikkan sepenggal liriknya.
[PESAN ANDA]
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Tak lama, notifikasi SMS terbaca pun masuk. Shani membacanya. Jantungku berdetak lebih cepat, namun tak sepanik seperti saat kelepasan kirim SMS beberapa waktu yang lalu. Atin tak tahu tentang itu.
"Ga dibales..", kataku sedikit berharap.
"Hmm.. Beda orang beda metode kali ya Kak, kalo Kak Jessi bisa-bisa udah langsung nerusin liriknya tuh"
Shani-ku memang beda, tak mudah digoda. Apalagi sekarang statusnya adalah pacar Nabil. Mungkin dia tipe yang setia? Menjaga hubungan..
***
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Menatap kosong langit-langit kamarku. Tanpa sadar aku terlalu lama menatap lampu kamarku yang terang benderang. Kualihkan pandanganku ke dinding polos di samping lemari bajuku, namun bayang-bayang bercak berwarna hijau malah melekat dalam pandanganku, tak mau hilang. Tiba-tiba ponselku berdering singkat. Tanda ada pesan yang masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
FanficMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
