1

3.2K 128 1
                                        

Aircukup, 2007

Aku turun dari motor tepat di depan gerbang sekolah dan segera berjalan cepat membaur ke sekelompok siswa lain yang berjalan menuju kelas, tak ingin banyak orang tahu bahwa aku adalah anak guru.

Di kejauhan, terlihat bunda turun dari motornya meninggalkan parkiran, dan masuk ke dalam perpustakaan yang tak jauh dari situ. Ya, selain menjadi guru mapel bahasa, bunda juga merupakan kepala perpustakaan. Saat pulang sekolah, aku seringkali menyembunyikan diriku di antara tumpukan buku sambil menunggu bunda selesai mengajar, untuk kembali pulang bersama saat keadaan sekolah mulai sepi.

Sebenarnya tak ada yang salah untuk menjadi anak seorang guru di tempatku bersekolah. Hanya saja aku yang tak percaya diri dan takut dengan ekspektasi orang-orang. Banyak orang mengira bahwa aku sama seperti kakakku yang  berprestasi secara akademik dan langganan juara umum. Kakakku lulus saat aku masuk. Dan semua guru memusatkan perhatiannya kepadaku. Merasa kehilangan murid pintar kesayangannya yang tak tergantikan. Masalahnya, penggantinya benar-benar berbeda 180°.  Aku sendiri tak mengerti mengapa aku benar-benar gagal hampir dalam semua mata pelajaran. Setiap ulangan, pasti selalu disertai dengan remedial. Dengan nilai hasil remedial yang lebih buruk padahal aku benar-benar sudah belajar. Apakah di antara kalian ada yang sama denganku? Please lah bukan aku sendirian kan yang seperti ini??

8B. Di daftar kelas tersebut namaku tercantum.
Aku memasuki kelas dengan langkah yang sedikit canggung, memori di kelas 7 masih lekat dalam ingatanku. Bagaimana aku yang gagal dalam bersosialisasi dan dalam akademikku. Bisa naik kelas saja sudah syukur buatku. Entah itu murni karena nilaiku yang layak atau karena aku anak bundaku. Entahlah..

Keadaan kelas sudah cukup ramai. Aku memindai cepat bangku-bangku di hadapanku. Tak terlihat bangku kosong di manapun. Jantungku berdegup makin cepat. Sial. Tak ada satupun yang aku kenal di sana. Bagaimana ini?

Tiba-tiba..

"Niel..!"
"Sini.. Sini..".

Wah, ternyata ada Adel dan Ashel di sana, luput dari pemindaianku. Mereka teman sekelasku di sekolah dasar dulu. Senyumku merekah. Setidaknya, meskipun tidak akrab, aku sudah mengenal mereka selama 6 tahun, itu cukup buatku.

Ruangan di kelas ini diisi dengan meja-meja siswa yang cukup untuk dua orang, dan semua meja telah terisi. Adel dan Ashel berada di meja yang sama. Adel sedikit bergeser dan berbagi kursinya denganku. Aku duduk di setengah pantatku dan kakiku menopang tubuhku kuat-kuat.

"Katanya, ini kelas sementara..", Ashel membuka pembicaraan, "Siswa kelas kita lebih dari tiga puluh katanya, jadi bangkunya gak cukup".

Aku mengangguk sambil melihat ke sekeliling. Entah mengapa siswa lain nampak telah begitu akrab dan mulai bercanda satu sama lain.
Mataku tertuju pada sekelompok siswi di hadapanku yang nampak sangat ber-damage yang sepertinya sedang saling berkenalan. Salah satunya terdengar memperkenalkan diri sebagai Anin. Ia berjabatan tangan dengan dua orang siswi yang duduk di belakangnya, kemudian memperkenalkan teman sebangkunya kepada dua orang tersebut. Orang yang diperkenalkannya tersebut nampak cuek namun ramah dalam waktu yang bersamaan.

"Shayla..", katanya memperkenalkan diri sambil menyibakkan rambut panjangnya yang terurai menutupi sebelah matanya.

Matanya berbinar. Tajam namun lembut. Tak memandangku, namun menusuk ke hatiku. Senyumnya indah, melebar, dan nampak damai. Menenangkan sekaligus membuat jantungku semakin berdegup kencang. Suaranya yang halus bertengger di tangga nada yang tepat.
Aku memutar kepalaku dengan kasar saat ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arahku. Adel sedikit tersentak kaget karena aku tiba-tiba menoleh ke arahnya, sehingga wajah kami saling berdekatan. Aku yang juga kaget dan canggung buru-buru membungkukkan tubuhku, membetulkan tali sepatuku yang baik-baik saja.

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang