12

511 60 2
                                        

Aku menyandarkan punggungku dengan lesu di bangkuku. Dimarahi bunda karena telat bangun rasanya menguras emosi jiwa. Memang salahku, malam-malam berani-beraninya mengisengi Shani. Kualat jadinya.

Di sampingku, dengan semangat Adel memainkan ponselnya. Dia baru men-download tetris versi terbaru katanya. Sesekali aku mengintipnya.

"Harus coba kamu Niel, sumpah harus coba.. Ini seru banget", katanya berkali-kali namun tak juga meminjamkan ponselnya kepadaku.

Kupandangkan lamunanku ke depan. Tiba-tiba Shani berjalan memasuki kelas, dan membuyarkannya. Tumben dia baru datang, biasanya tidak setelat ini. Nabil masuk beberapa saat kemudian. Tampilannya sangat kacau. Rambutnya acak-acakan, begitu juga dengan baju seragamnya yang keluar. Ia bahkan tidak mengenakan sabuk sekolah, jika ketahuan guru piket, bisa kena hukuman dia.

Ini mengejutkan. Shani duduk tidak di bangkunya. Ia meminta Muta dan Christo yang kini duduk satu meja di depanku untuk bertukar bangku dengannya. Mereka menurutinya. Anin yang sedang tiduran di mejanya sampai terbangun kebingungan saat tiba-tiba dibangunkan oleh Christo dan diminta untuk pindah. Meski setengah sadar, Anin tetap menurutinya.

Nabil menyaksikan semua itu dari bangkunya. Baru kali ini aku merasa iba kepadanya. Entah apa yang terjadi antara dia dan Shani. Tapi tatapan mata Nabil seolah menceritakan segalanya. Ada masalah dalam hubungan mereka. Nabil terlihat sedikit mengulum bibirnya, seperti sedang menahan tangis.

Shani duduk di bangkunya dengan kasar. Aku jadi merasa bersalah, apa jangan-jangan ada kaitannya dengan aku yang terus-menerus mengisenginya dengan panggilan-panggilan misteriusku? Jantungku berdetak lebih cepat jadinya.

Sementara itu Adel semakin heboh di sampingku. Sesekali ia memukul-mukul pundakku karena panik sendiri dengan permainannya. Anin yang sedang mencoba menenangkan Shani sampai berbalik ke belakang beberapa kali. Mungkin merasa terganggu. Sisca dan Feni juga turut serta. Mereka membalikkan badannya ke belakang dan terus mencoba mengajak bicara Shani yang diam seribu bahasa. Shani.. Kamu kenapa?..

Jam istirahat pertama tiba. Tak seperti biasa, Shani dan ketiga temannya tetap di bangkunya. Aku yang baru kembali dari kantin sekilas mencuri pandang ke arah mereka. Mencekam sekali.

Seharusnya aku senang, Shani duduk dekat denganku. Seharusnya jantungku berdegup kencang. Seharusnya aku..

"Nih Niel gantian.. Mau makan dulu..", kata Adel tiba-tiba merusak drama di kepalaku.

"Jangan sampe kalah.. Nanti ngulang lagi dari nol..", katanya sambil sibuk mengunyah.

Pikiranku teralihkan. Permainan ini ternyata merenggut seluruh konsentrasiku. Aku sepertinya menggila. Level meningkat. Kecepatan meningkat. Tanpa sadar aku sampai mengguncang-guncangkan pundak Adel karena saking paniknya. Aku baru melepaskan pandanganku dari ponsel Adel saat aku berhasil menyelesaikan level tersebut. Aku terengah-engah sambil tertawa-tawa kecil. Adel mengipasiku dengan buku catatannya juga sambil tertawa-tawa. Tertular euforia.

"Nonton apaan sih?". Fiony tiba-tiba memegang kedua pundakku dari belakang. Aku tak menjawabnya dan hanya memperlihatkan layar ponsel Adel.

"Ih ga ngajak-ngajak.. Ikutaaan". Heboh Lulu sambil menarik kursinya dan kursi Fiony ke belakangku. Adel memberi sedikit ruang. Supaya permainanku bisa terlihat oleh semua.

"Yaaah kirain nonton apa..", kata Lulu kecewa, tapi tetap ikut bergabung karena sudah terlanjut duduk.

"Mau gantian gak?", tawarku pada ketiganya.

"Engga, lanjutin aja", jawab Adel yang kembali sibuk dengan makannya.

Aku mengangguk kecil. Kumulai permainan.

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang