Prolog

4.6K 157 1
                                        

Libur lebaran baru saja usai. Menyisakan segunung pundi-pundi bahan renungan, bukannya cuan. Menjadi dewasa tak seasyik yang aku kira. Bertemu dengan sanak saudara yang sebelumnya tak dapat dijumpai akibat pandemi, nyatanya bukanlah sekedar ajang melepas rindu, tetapi juga ajang pembuktian ekspektasi antarkeluarga. Dalam dua tahun ini, bagaimana karir sanak A.. Bagaimana kabar rumah tangga sanak B.. Bagaimana pendidikan sanak C.. Bagaimana kesehatan sanak D.. Dan, bagaimana kehidupan sanak E.

Sebagai cucu terakhir dari anak terakhir, tiba saatnya aku menjadi pusat perhatian pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama, usiaku sudah matang, namun belum juga berkeluarga. Kedua, di saat orang-orang sibuk mencari pekerjaan, aku malah keluar dari pekerjaanku. Biasa, karena alasan pribadi, hilangnya kenyamanan di lingkungan kerja. Lelah bercampur dengan mental yang lemah. Niat hati beristirahat sejenak, yang ada malah terlalu lama hingga hilangnya kepercayaan diri untuk memulai kembali. Tak dapat dimotivasi. Dinilai bebal dan keras kepala. Menjadi beban keluarga.

Mereka berkata kepadaku untuk melupakan masa lalu. Memaafkan kesalahan yang pernah terjadi. Baik yang orang-orang perbuat kepadaku ataupun yang aku perbuat sendiri. Dan, menjadikan keluarga sebagai alasan untuk bangkit, meningkatkan derajat serta harga diri.

Bukannya tak mengerti, apalagi tak mau. Aku hanya masih mencoba menata hati. Menguatkan sanubari. Menguatkan pikiran. Aku termasuk orang yang bergerak sesuai pemikiran. Hanya mungkin  terlalu banyak berpikir. Terlalu lama, hingga orang-orang mengira aku malas, tak berkeinginan, abai, dan tak peduli. Padahal yang sedang benar-benar kuperlukan adalah waktu, dukungan, doa, serta rasa sabar orang-orang sekitar.

Dalam dua tahun, sarjana baru pasti sudah banyak bermunculan. Dengan skill yang mumpuni, dengan kepercayaan diri yang sedang menjadi, dan semangat yang berapi-api. Bisa kalah aku jika maju hanya dengan modal nekad. Pengalaman seumur jagung dan skill yang menumpul tak dapat aku jadikan senjata. Aku perlu waktu untuk menyiapkan diriku sekali lagi. Untuk mengasah otak dan melenturkan persendian.

Selain itu, menemukan pasangan juga tak semudah menemukan cemilan di minimarket. Banyak ragamnya, tinggal pilih ini itu, bayar, bawa pulang, nikmati, selesai.

Terlebih lagi aku bukan orang yang mudah akrab dan membaur dengan lingkungan sekitar. Aku saja baru akrab dengan teman sekelasku semasa SMA beberapa tahun belakangan ini. Padahal itu telah 10 tahun berlalu. Tak mudah bagiku membuka diri. Pernah mencoba, namun sayangnya bukan dengan orang yang tepat dan pada akhirnya hanya melukai diri sendiri. Meninggalkan trauma dan ketidakpercayaan diri.

Secara penampilan, aku memang tidak sesemampai model-model yang berseliweran di media sosial. Rupaku juga tak secetar dewi-dewi yang tampil setiap hari di iklan televisi atau yang wajahnya terpampang di baliho besar di pinggiran jalanan ibu kota. Yang membuatku percaya diri adalah, aku pernah ditembak beberapa kali selama kuliah, salah satunya bahkan hingga berkali-kali. Bukankah itu artinya bagaimana pun aku, akan ada yang menyukai sosok seperti aku? Namun sayangnya, aku tak pernah tertarik untuk memiliki hubungan. Aku tak mudah memiliki rasa kepada seseorang, meski itu hanya sekedar suka. Akalku tak dapat menerima bila aku harus hidup bersama dengan orang yang tidak aku sukai, dalam artian bukan juga aku membenci. Jika ada seseorang yang aku sukai, itu artinya dia telah mendapatkan tahta tertinggi dalam kamus perbucinanku.

Dan, itu pernah terjadi.
Belasan tahun yang lalu..
Meski hanya roman picisan, namun sepertinya hatiku telah jatuh sepenuhnya kepadanya..

Meski jatuh di tempat yang salah..

Namun..

Melepaskan tak pernah semudah mengedipkan kelopak mata. Buktinya, sudah bertahun-tahun berlalu, sudah ratusan orang baru yang kutemui, namun ingatanku masih saja terpancang kepadanya. Hingga aku merasa bahwa aku adalah orang yang setia. Iya, setia pada kesendirianku, egoku, serta segala macam prinsipku..

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang