24

474 39 2
                                        

Aircukup, 2009

Ini bukan untuk pertama kalinya. Ya, lagi-lagi guru les privatku berganti. Kali ini tutor yang menanganiku adalah seorang mahasiswi rantau asal Tanah Panjang. Setiap kali datang untuk mengajar, ia diantar oleh pacarnya yang selalu tidak mau diajak masuk ke dalam rumah. "Iya gapapa, biar saya nunggu di luar aja", begitu katanya tiap kali ayah atau bunda mempersilakannya untuk ikut menunggu di dalam. Lagi pula waktu lesku tidak lama, hanya satu jam setengah untuk setiap sesi pertemuannya.

Sebenarnya aku ikut les pelajaran adalah atas hasutan bunda. Ingat, aku dan Kak Jesslyn hanya terpaut usia tiga tahun saja. Dan itu artinya, Kak Jesslyn juga sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan. Tidak sepertiku, Kak Jesslyn lebih serius dalam mempersiapkan ujian itu. Ia mengikuti les pelajaran di beberapa tempat bersama beberapa orang teman sekelasnya. Sungguh sibuk sekali, membuatku lelah hanya dengan melihatnya saja. Bagaimana tidak, jarak sekolah Kak Jesslyn dari rumah ke sekolah saja sudah begitu jauh, ditambah les pelajaran yang membuatnya hampir setiap hari baru tiba di rumah pukul tujuh malam bahkan lebih bila jalanan ramai. Bisa dibilang akhir-akhir ini aku jarang sekali berkomunikasi dengannya. Ia banyak menghabiskan waktu di kamar yang tertutup rapat untuk belajar. Bahkan mengobrol dengan ayah dan bunda pun hanya sesekali saja.

Satu-satunya waktu yang dapat dengan efektif digunakan untuk mengobrol bersama adalah saat sedang sarapan. Ya, beruntung kami selalu menyempatkan sarapan bersama di meja makan. Dan saat itu pulalah Kak Jesslyn menginformasikan kepada ayah dan bunda bahwa salah satu tempat les pelajaran Kak Jesslyn baru saja membuka layanan les privat. Jangan dibayangkan bagaimana reaksi ayah dan bunda saat mendengarnya.. Tentu saja mereka langsung melihat ke arahku tanpa mengatakan apapun. Berakhir dengan aku mengiyakan untuk ikut les tapi hanya untuk dua mata pelajaran saja. Matematika dan Fisika. Titik kelemahan terbesar dalam hidupku sebagai pelajar..

Di pertemuan pertama hingga beberapa pertemuan setelahnya, tutorku adalah seorang bapak berperawakan kurus kecil. Tingginya tak jauh denganku. Dan jika dilihat-lihat ia mirip sekali dengan Mas Yan, ojek langganan keluargaku yang serba bisa, dan rutin mengantar Kak Mira pergi ke sekolah setiap harinya. Sepanjang pelajaran, pikiranku malah dipenuhi oleh, "Hmm.. Ini satu dari 7 kembaran Mas Yan.. Sisanya jadi apa ya..".

Setelah beberapa kali mengajarku, tutorku tiba-tiba diganti. Aku sendiri merasa bingung, mengapa begitu mendadak. Cara mengajar tutor pertama sebenarnya memang kurang cocok buatku. Tapi ingat ya, bukan aku loh yang minta untuk ganti. Ia nampaknya menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi padaku, dan tak siap dengan aku yang ternyata masih kesulitan untuk hal-hal yang mendasar. Seperti menyelesaikan hitung-hitungan. Ya memang, kalau aku jago menghitung, tak mungkin aku bekerja sama dengan Adel setiap kali ulangan kan? Hehe. Hal ini membuat aku membutuhkan lebih banyak waktu hanya untuk menyelesaikan satu sub pembahasan, mungkin ini membuat targetnya sering kali tidak tercapai.

Okay. Tutor keduaku adalah seorang anak muda. Ia tak pernah memberitahukan statusnya, tapi sepertinya dia seorang mahasiswa, atau kalau tidak ya baru lulus. Nah, entah hanya imanjinasiku saja atau memang begitu.. Tutor keduaku ini mirip sekali dengan Derby Romero. Ya.. Wajahnya.. Perawakannya.. Dan parahnya suaranya juga mirip. Satu hal yang membuatku yakin dia bukan Derby Romero hanyalah rambutnya yang ikal.. Kalau begini, sudah dipastikan otakku teracuni sinetron Kepompong yang selalu kutonton di sore hari itu..

Ohya mumpung sedang membahas sinentron Kepompong, aku jadi teringat sesuatu yang sangat.. Sangat apa ya.. Memalukan? Mengejutkan? Entahlah.. Tapi kalian tahu kan bagaimana rasanya kegep? Ya.. Pemeran favoritku di sinetron tersebut adalah Chacha. Jangan membayangkan karakter yang sama dengan pemeran favoritku di sinetron Lia ya, karena memang bertolak belakang sekali karakternya.. Nah, saking aku sukanya, aku sampai mengunduh beberapa fotonya yang aku anggap keren lalu kujadikan wallpaper di ponselku. Lalu, saat aku sedang tidak ada kerjaan dan hanya memandanginya saja, tiba-tiba bunda duduk di belakangku dan melihat dengan jelas apa yang sedang aku pandangi. Dan sialnya, refleks jari jemariku sedang sangat buruk sehingga aku tak sempat mematikan layar ponselku. Dengan nada tidak suka, bunda memintaku untuk segera menggantinya. Bunda juga menceramahiku panjang lebar untuk berhati-hati dan mulai belajar memfilter mana yang baik dan buruk. Hmm mengapa bunda sensitif sekali ya, padahal aku hanya memajang foto pemeran favoritku di kehidupan sehari-harinya saat sedang berpose sambil merokok.. Iya..

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang