Aku duduk bersandar di pijakan anak tangga menuju kamar abangnya Atin yang sudah lama tidak ditempati. Sementara di hadapanku, Atin sibuk membolak-balik lembar demi lembar buku harian milik abangnya itu. Katanya, lagi-lagi ada hal menarik yang ingin ia tunjukkan kepadaku.
Sepertinya Atin memiliki seribu cara unik untuk membuat harinya terasa menarik. Tak kehilangan akal semenjak 'putus hubungan' dengan Jessi saja sepertinya sudah menjadi hal yang sangat keren buatku. Bagaimana tidak, hampir dua semester terus berkomunikasi, tiba-tiba berakhir dengan sangat tidak menyenangkan. Bisakah seseorang tetap baik-baik saja?
"Ketemu Tin?"
"Bentar Kak, harusnya sih ada di sini.. Tapi mana ya.. Apa jangan-jangan ada di buku yang satunya ya?"
"Ehya minggu kemarin abang pulang kan?"
"Aaah.. Iya.. Bener.. Apa jangan-jangan bukunya abang bawa ya Kak?"
"Hmm bisa jadi.."
"Yaah.. Bete banget.. Hmm.."
"Hmm.."
"Ngapain dong Kak kita?"
Atin merebahkan tubuhnya dengan frustrasi di kasur lantai milik abangnya. Buku yang sejak tadi dipegangnya, ia lemparkan ke sisi dekat kakinya. Jika sudah melihatnya seperti ini, aku yakin sebenarnya Atin sedang tidak baik-baik saja.
Aku perlahan mengeluarkan ponsel yang kusimpan di saku belakang celanaku.
"Tin..", ucapku ragu.
Atin menolehkan wajah datarnya ke arahku.
"Liat aku punya ini..". Aku menghadapkan layar ponselku ke arah Atin.
"Waah kemajuaaaan.. Udah dicobain Kak?", heboh Atin mendadak nampak bersemangat. Mudah sekali anak muda berganti perasaan..
"Hmm, ga.. Ga berani.."
"Ih sayang banget kalo cuma jadi pajangan doang Kak..", ucap Atin sambil membalikkan badannya, memunggungiku.
Apa dia merajuk? Hmm, niat awalku datang ke rumah Atin memang untuk menghiburnya. Tapi kalau jadinya begini, aku malah merasa gagal menjalankan misiku.
Aku bangkit kemudian bergerak ke arah Atin, ikut merebahkan tubuhku di sisi kasur yang masih kosong. Kutatap atap rendah yang hanya berjarak kurang dari dua meter di atas kepala kami.
"Tin.. Sebenernya aku juga pernah kelepasan.."
Aku terkejut sendiri dengan perkataanku. Haruskah aku mengakui apa saja yang sebenarnya pernah kulakukan? Termasuk yang itu?
Atin tiba-tiba membalikkan badannya ke arahku. Raut wajahnya terlihat meminta penjelasan.
"Hmm.. Aku pernah iseng nelponin Shani berkali-kali.. Sampe tiba-tiba diangkat sama ayahnya.."
"What? Bwahahahahaha.. Bisa-bisanya salah sasaran.."
"Kayanya Shani udah kesel gitu jadi mungkin dia kasiin ke ayahnya.. Dan itu berhasil sih, abis itu aku berhenti isengin dia lagi.."
"Hmm.. Pantensan nomer kedua Kak Oniel udah ga aktif.."
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Teringat kejadian mengirim 'SMS nembak' dengan menggunakan nomor pribadi yang sehari-hari aku gunakan. Dan hebatnya aku tetap menggunakan nomor tersebut, padahal kasusnya lebih fatal bukan?
"Hmm, kamu.. Mau denger suara ayahnya juga ga Tin?", racauku tiba-tiba. Kenapa tidak sinkron apa yang ada di pikiran dengan apa yang diucapkan?
"Ih ayo Kak! Telepon rumah ini kan? Jadi aman kalo pake nomer asli Kak Oniel juga"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
Fiksi PenggemarMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
