17

463 62 6
                                        

Aku berjalan keluar kelas untuk membuang daun bungkus bacangku. Kulihat Shani masih asyik mengobrol dengan Fiony. Suara mereka sangat pelan sehingga aku tak dapat mendengar apapun. Aku sengaja memperlambat gerakanku agar bisa lebih lama curi-curi pandang pada Shani-ku.

Tiba-tiba Fiony melihat ke arahku. Aku kaget bukan main. Mungkin jadi terlihat seperti seseorang yang kepergok hendak mencuri sesuatu.

"Hey Niel.. Buat nanti udah siap?"

Aku menyeringai canggung sambil mengangguk pelan. Di belakang Fiony, Shani tersenyum ramah ke arahku. Jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan.

Jujur aku sangat bingung dengan Shani ini. Aku benar-benar tak bisa memahami dirinya. Mengapa dia bisa bersikap biasa saja dan tak memberikan respon apapun kepadaku padahal jelas-jelas aku pernah kelepasan mengirim SMS 'nembak' itu kepadanya. Dan tak berselang lama, aku juga mengisengi dia dengan nomor keduaku. Belum lagi tindak tandukku. Apakah Shani tidak sedikit saja menaruh curiga kepadaku? Atau bila ia mengerti apa yang terjadi, mengapa tetap biasa saja kepadaku??

Aku memasuki kelas dengan langkah santai yang dibuat-buat. Dari bangkunya, Adel yang masih sibuk mengunyah makanannya memperhatikanku.

"Lama banget, buang sampah doang.."

Aku hanya mengedikkan bahuku. Duduk, dan kembali melihat ke tempat di mana Shani berdiri.

Hmm Shani..

***

Olla memulai dialognya. Adel dan Flora tertawa-tawa geli mendengar cara bicara Olla yang kocak. Sebenarnya Olla dengan serius membawakan perannya, hanya saja ia masih berusaha untuk menghafal dialognya jadi logatnya terbawa aneh. Sedangkan Fiony dengan sungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai sutradara drama singkat ini. Berulang kali ia mengoreksi cara pengucapan dan ekspresi kami.

"Aku boleh ya nanti improv pas bagian ini?", kataku sambil menunjuk dialogku sendiri yang kurasa sangat menggelikan. Ya, sangat menggelikan. Sambil menunggu pulih beberapa hari belakangan ini, aku tak henti-hentinya menghafal dialogku dalam naskah Bahasa Inggris yang jalan ceritanya sungguh aneh ini. Di akhir adegan, Jake, tokoh yang aku perankan harus menyatakan cintanya pada Rose di hadapan teman-temannya sebelum getek yang mereka tumpangi tenggelam. Iiiih memalukan sekali meski ini hanyala akting. Akhirnya aku kepikiran untuk memberikan coklat saja daripada nanti harus berakting lebay di depan kelas.

Tak lama, bu guru masuk. Beruntung Lulu mendapatkan undian urutan terakhir untuk penampilan kami.  Sambil menunggu giliran, kulihat teman-teman sekelompokku komat-kamit merapalkan dialognya masing-masing. Aku menarik napasku dalam-dalam beberapa kali, mencoba untuk mengusir rasa tegang yang sedari tadi kurasakan. 

Penampilan Shani dan kelompoknya terlihat amat normal. Zee, Nabil, Deo, dan Gito juga tergabung dalam kelompok mereka. Hanya saja penampilan mereka agak terasa hambar. Sudah kubilang ada yang salah dengan mereka. Tapi karena aku bukan siapa-siapa, apa kuasaku? Mana ada hakku untuk tahu ini dan itu.. 

Akhirnya tiba juga giliran penampilan kelompokku. Kami berdiri berjajar di depan kelas sambil memperkenalkan diri beserta karakter yang akan kami bawakan. Mataku menyisir semua siswa yang ada di hadapanku. Tatapan mereka terasa mengintimidasi bagiku. Mataku bahkan sempat bertemu dengan mata Feni yang tajam itu. Aku segera mengalihkan pandanganku dan berhenti pada pemandangan Fiony yang membalas senyuman Shani dengan amat manisnya. Aku benar-benar iri pada Fiony.

Tak kukira penampilan kami mengundang gelak tawa dari penonton. Selain alur ceritanya yang absurd, cara pembawaan kami yang serius ternyata malah menambah kekonyolan penampilan kami. Padahal, kami benar-benar tidak bermaksud untuk menampilkannya secara komedi. Dan untuk sejauh ini, sepertinya Lulu Si Kurcaci-lah yang akan keluar menjadi MVP-nya.

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang