Apa sudah bawaan naluri manusia, kalau tertarik pada seseorang, tanpa sadar bisa jadi lebih banyak cari perhatian?
Interaksi-interaksi kecilku bersama Shani yang belakangan ini terjadi, tak ayal membuatku berbangga hati. Menimbulkan rasa candu tersendiri yang selalu aku rindukan untuk segera kunikmati. Memicuku untuk turut serta menarik perhatiannya melalui perilaku serta tindakan kecil yang mungkin sebenarnya tak berarti.
Aku sedang menikmati semangkuk mie goreng dengan taburan sawi di atasnya saat Olla tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan menepuk bahuku dengan lumayan kencang.
"Niel.. Niel.. Pinjem spidol Niel.."
Aku menoleh ke sepatunya. Paham.
"Buruan... Pak Awan udah nyampe di kelas sebelah ih.."
Aku mengambil tempat pensilku dan mengeluarkan spidol snowman kecil warna hitam. Olla segera menyambarnya dan mewarnai motif berwarna putih yang ada di sepatunya dengan terburu-buru. Ya, sekolahku memang mengharuskan kami untuk mengenakan sepatu berwana hitam penuh. Kemungkinannya hanya ada dua. Olla datang lebih awal sebelum guru piket berjaga di gerbang, atau guru piketnya yang kurang teliti.
Tak lama, Adel masuk ke dalam kelas dengan terburu-buru sambil memegang semangkuk mie kuah panas yang hampir saja tumpah ke arahku. Ashel dan Marsha menyusul sambil tertawa-tawa. Hal tersebut malah membuat Adel semakin panik.
"Eh La pinjem dong La.. Anak kelas sebelah udah mulai dihukum tuh lari sambil nyeker di lapangan.."
"Siapa suruh kelamaan jajannya.."
Aku menarik napas dalam-dalam sembari tetap menyantap makananku. Merasa kedamaianku terusik akibat kepanikan mereka.
"La buruan La..."
"Ih berisik banget Adel, ga liat nih putih-putihnya masih banyak", katanya dengan penuh penekanan. Adel semakin panik dan malah mengguncang-guncang pundak Olla, memperlambat kerjanya.
"Adel! Ih!", sentak Olla.
Shani menoleh ke belakang. Ini saatnya. Dengan wajah sok tenang, aku mengeluarkan spidol hitam besarku dan menyerahkannya pada Adel.
"Buset, udah kaya fotokopian aja Niel punya segala..", celetuk Sisca yang ternyata dari tadi memperhatikan. Shani tertawa kecil. Tatapannya yang teduh mengarah kepadaku, kemudian kembali menghadap ke depan, memainkan ponselnya.
Sekali lagi satu bunga mekar di hatiku.
***
Sebatang spidol ternyata mampu membuat perang dingin antara aku dan Adel berakhir. Sikap Flora juga sudah kembali seperti sedia kala, mungkin kemarin-kemarin hanya efek bulanan.. Hari-hari berikutnya pun berlangsung seperti biasa.
"Niel.. Kenapa sih ga pernah bales SMS", kata Adel tiba-tiba saat kami tengah sibuk mengerjakan soal.
"Cuma manggil doang kan?"
"Ya kan nyapa dulu.. Ini malah ga disautin.."
"Sayang pulsa, intinya aja udah.."
"Ih kaya orang susah aja kamu Niel.. Lagian beramal bantu temen yang lagi punya masalah apa sih susahnya.."
"Masalah apa?"
"Ya mana saya inget ya.. Kelamaan nunggu respon dari anda.."
"Tuh kan berarti tanpa aku juga masalahnya bisa selesai sendiri kan?
"Ih ngeselin banget ya anda.."
Aku hanya mengerling ke arah Adel. Ekspresi wajahku pasti menyebalkan karena Adel sampai kesal melihatnya.
Di jam istirahat, Olla, Flora, dan Ashel ikut duduk mengelilingi mejaku dan Adel. Ashel heboh memamerkan isi SMS-nya dengan salah satu cowok kelas sebelah, Rico. Olla dan Flora sibuk memakan mie gorengnya sambil merespon cerita Ashel sekenanya. Sementara Adel tak peduli sama sekali dan malah kepo padaku yang sedang asyik berkirim pesan dengan Atin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
FanfictionMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
