"Nih ah ga seru, ga ada game-nya.."
"Ada itu.. Music Dj"
"Gamau.. Yang dorong-dorong boks itu loh, dihapus?"
"Hmm, lupa.. Download aja lagi nih.. Cari di Waptrick.."
"Ada pulsa?"
"Ada.."
"Wiiih hokeee.."
Aku menyandarkan punggunggku di kursi bambu yang sengaja diletakkan memunggungi etalase toko. Memang pebisnis sejati bapak pemilik toko ini. Tahu saja di hari Minggu ini banyak siswa yang akan mengerjakan tugas kelompok di sekolah. Dan benar saja, sejak tadi aku diam di sini, entah berapa banyak siswa yang datang dan pergi sekadar untuk membeli alat tulis maupun fotokopi. Letak tokonya pun amat sangat strategis. Bersebelahan dengan sekolahku, di sisi terdekat pintu gerbang.
"Ih Niel.. Dicariin dari tadi.. Ayo cepeeet..". Ashel datang tiba-tiba dengan wajah paniknya.
"Sabar kali Shel.. Aku belum selesai nih mainnya.."
"Lah emang kita sekelompok?"
"Enggaa.. Ini aku lagi main di HP-nya Oniel.."
Ashel merebut ponselku dari tangan Adel. Dan langsung menarik lenganku.
"Udah.. Udah ya.. Kita pergi duluuuu.."
"Eh emang kelompok kalian ga ngerjain di sekolah?"
"Enggaaa.. Kita mau ke rumah Zee.."
Langkahku dan Ashel terhenti di samping mobil Karimun Estilo warna hijau yang berhenti agak di tengah jalan, menghalangi lalu lintas jalan raya yang cukup sempit ini. Tiba-tiba pintu penumpang belakang sebelah kiri terbuka. Ada Zee memegang kemudi. Di sampingnya ada seorang dewasa yang mungkin omnya Zee, dan di deret belakang ada Nabil dan Deo.
Jantungku mendadak berdetak lebih kencang. Bisa-bisanya aku lupa sekelompok dengan mereka berdua juga. Pacar Shani dan.. Si dingin, Deo.
Ashel mendorongku masuk. "Kamu duluan, naik.."
Di dalam, Deo menggeser tubuhnya sedikit ke depan, menyisakan ruang yang cukup banyak di belakang badannya. Aku masuk, dan sedikit bergeser ke ruang kosong tersebut. Ashel masuk, disusul oleh Laras yang juga sekelompok denganku. Sempit. Tapi tak apa. Senang? Tentu.
Zee mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Beruntung dia punya postur badan yang mirip orang dewasa. Orang lain mungkin akan mengira dia anak kuliahan, bukannya anak kelas delapan sekolah menengah pertama. Om-om yang duduk di samping Zee terlihat sedikit tegang. Ya.. Memang sangat beresiko, mengingat Zee yang masih di bawah umur, harus mengemudikan mobil yang bisa dibilang kelebihan beban penumpang ini.
Di sampingku, Ashel sibuk memainkan ponselnya. Sesekali ia mengajak bicara Laras dan tertawa-tawa kecil. Mereka memang tidak dekat, tapi Ashel pandai melekat ke siapa saja.
Meskipun Zee, Nabil, dan Deo teman dekat , tapi jika sedang bergabung dengan orang lain seperti sekarang ini, mereka tak banyak berbicara. Bahkan tak saling bicara sama sekali. Nabil terlihat asyik sendiri melihat ke luar jendela, padahal aku ingin sekali melihat momen di belakang layar dia dengan Shani. Meskipun hati kecilku masih tak terima bahwa dialah kini yang mengisi hati Shani.
Saat menghadap ke depan, aku mencoba untuk bernapas dengan perlahan. Khawatir hembusan napasku terlalu kencang dan mengenai kuduk Deo. Deo sendiri terpejam. Keningnya ia tumpukan di sandaran kepala kursi Zee. Aku baru tersadar, untuk ukuran seorang anak laki-laki, bisa dibilang Deo memiliki kulit yang sangat cantik. Sangat bersih dan juga wangi.
Setelah hampir 30 menit perjalanan, kami tiba di rumah Zee. Rumahnya terlihat sederhana dari bagian depan. Namun saat masuk, dalamnya ternyata sangat luas. Terdapat banyak ruang yang hanya disekati partisi berongga. Barang-barangnya pun terlihat mewah. Secara keseluruhan, rumahnya terlihat bersih dan rapi.
Kami disambut oleh mamanya Zee. Sangat ramah. Kami kemudian menyalami tangannya bergiliran, lalu mamanya Zee masuk ke ruangan lain dan kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan berbagai camilan.
Ekonomi memang bukan mata pelajaran favoritku. Mau berusaha seserius apapun, otakku rasanya menolak untuk ikut serta berdiskusi. Bahkan kerja kelompok ini lebih pantas disebut sebagai panggung pertunjukkan, dengan Zee dan Deo yang menjadi pemeran utamanya. Mereka memang pandai di semua mata pelajaran. Laras sesekali mencoba angkat bicara, namun nampaknya tak begitu membantu. Ashel asyik mencoba satu persatu camilan sambil diam-diam memainkan ponselnya. Berkirim pesan dengan Rico.
Sambil mendengarkan pembicaraan Zee dan Deo, mataku berkeliling menyapu ruangan. Lihat. Manusia itu malah asyik sendiri di sana. Memetik-metik dawai gitar elektrik milik Zee. Tidak berusaha sedikitpun memperlihatkan andilnya dalam diskusi kelompok ini. Oh Shani-ku.. Apa yang kamu lihat darinya..
***
Aku turun dari angkot tepat di seberang gerbang kompleks rumahku. Rasa kesal bergumul di hatiku. Karena lapar sebenarnya. Saat diskusi kelompokku selesai, mamanya Zee mengajak kami ke ruangan sebelah. Ternyata di meja sudah tersedia ayam goreng dan juga nasi yang masih mengepul. Mamanya Zee memaksa kami untuk makan terlebih dahulu. Jujur, saat itu aku sangat lapar, karena hanya sempat sarapan sedikit karena terlambat bangun. Tapi saat hendak masuk antrean untuk mengambil piring.. Ashel tiba-tiba mengolok-olok kami sebagai tamu yang tidak tahu malu. Katanya, sudah tidak ikut kerja, tapi makannya paling serius. Sangat tipis antara candaan dan sindiran. Ashel bahkan dengan berani menjadi juru bicara kami, menolak tawaran makan dari mamanya Zee. Aku jadi tak berkutik karena teman-teman yang lainnya pun hanya diam saja. Hanya Deo yang pada akhirnya menemani Zee melahap ayam goreng tepung renyah tersebut. Dan sialnya, memang benar hanya mereka berdua yang bekerja serius. Aku sadar, tindakan kami sungguh buruk. Mamanya Zee sudah repot-repot menyiapkan segalanya, tapi aku malah ikut-ikutan menolak hidangan yang sudah disiapkannya. Sungguh tidak sopan.. Maafkan aku mamanya Zee..
Karena saking laparnya, tanpa sadar kakiku membawaku masuk ke dalam rumah makan padang yang terletak tepat di samping gerbang kompleks. Aku memesan nasi rendang dengan tambahan siraman kuah gulai dan perkedel kentang di atasnya untuk dibawa pulang. Saat sedang membungkus pesananku, terlihat si abang penjual curi-curi pandang ke arahku. Aku yang mulai risih lantas mengalihkan pandanganku. Dan, hal buruk pun terjadi.
"Berapa Bang?"
"Udah gausah.."
"Engga ini jadinya berapa?"
"Udah buat Eneng gratis.. Eneng mau yah jadi pacar Abang.."
Aku mematung. Rasanya seperti tersambar petir ribuan volt. Tatapan si abang penjual sangat memuakkan. Ia memindaiku dari ujung kepala hingga setengah badanku. Kembali. Dan berhenti di bibirku.
Aku takut. Buru-buru aku mencabut tatapanku dari wajahnya. Kuambil bungkusan pesananku dengan sedikit kasar. Dan, sebelum tunggang langgang meninggalkan tempat itu, aku letakkan uang 20 ribuan di meja kasirnya. Tak peduli berapa harga pesananku pula kembaliannya. Yang penting nyawaku aman bukan??
Sial, sungguh menyebalkan hariku. Aku berjanji tak akan pernah berbelanja di tempat itu lagi, tak peduli seberapa enak masakannya. Cukup sudah, Abang penjualnya yang cabul membayang-bayangiku, merusak mental masa remajaku..
Bagaimana pun, pada akhirnya aku tetap mengunyah makananku dengan lahap. Demi Tuhan aku benar-benar lapar. Ditambah aku kesal pada Ashel, aku kesal pada diriku sendiri atas ketidaksopananku, aku kesal pada si abang nasi padang. Dan yang utama, aku sangat kesal pada Nabil. Tanpa sebab?? Sudah jelas sebabnya bukan? Ya, apalagi..
Aku cemburu.
つづく
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
FanfictionMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
