19

437 55 2
                                        

Tidak terlalu luas, namun cukup untuk melihat sampai puas.

Ya, lahan kosong di belakang rumahku itu entah siapa kini pemiliknya. Bekas persawahan warga desa. Terhimpit perumahan di keempat sisinya. Teriming-iming uang yang langsung diserahkan di depan mata, warga desa pun melepasnya. Hingga kini lahan tersebut belum dijadikan apa-apa. Dibiarkan menjadi tanah lapang tempat membuang puing-puing sisa bangunan.

Tepat dari sisi aku melihat, selepas lahan kosong tersebut pandangan mataku dibatasi gunung yang memanjang, melingkar, melingkupi kota.
Sambil melihat lembayung yang menghiasi senja kala, aku memainkan bolpoin di tanganku. Berpikir keras tentang bait apa yang harus aku tuliskan. Temanya bebas. Begitu kata guru Bahasa Indonesiaku.

Menulis puisi sebenarnya adalah kegemaranku. Tapi jika disuruh seperti ini, rasanya malah jadi tak berselera. Tak banyak kata yang tersedia dalam benakku. Akhirnya kupaksakan apa saja untuk keluar dari hatiku. Mulanya aku ingin menuliskan sesuatu secara tersirat untuk Shani-ku. Tapi tak bisa, terlalu banyak yang ingin aku sampaikan kepadanya. Terlalu menggebu. Terlalu berbahaya.

***

Aku menarik napasku dalam-dalam beberapa kali secara perlahan. Berharap rasa tegang ini segera menghilang sebelum giliranku maju ke depan. Membacakan puisi karyaku sendiri di depan banyak orang.

Guruku memanggil nama kami satu persatu secara acak. Karena saking tegangnya aku jadi tak fokus pada mereka yang sedang membacakan puisi di depan kelas. Adel kembali ke bangkunya sambil menghela napas lega. Aku tersenyum canggung kepadanya. Semakin lama menunggu, semakin tegang jadinya aku.

Fiony dan Lulu yang sudah tampil sedari tadi malah sudah bisa haha hihi kembali. Benar-benar berbanding terbalik denganku. Di depan kelas, Flora membacakan puisinya dengan penuh penghayatan. Sedangkan Olla membacakan puisinya sendiri dengan tak berselera.

Bulu kudukku tiba-tiba berdiri saat kudengar guruku memanggil namaku. Berselang beberapa orang setelah giliran teman-temanku. Adel mendorong punggungku supaya aku lekas berdiri. Maju ke depan menyampaikan isi hati.

Dan di sinilah aku, berdiri tepat di antara dua papan tulis yang menempel anteng di belakangku. Kusapa guru dan teman-temanku. Kulonggarkan genggamanku, mengurangi getaran ketegangan yang nampak pada buku catatanku.

"Janjiku Saat Itu". Aku menarik napas sambil menegakkan badan dan mengangkat kepalaku. Pandangan mataku tak sengaja malah berhenti pada Shani-ku. Buru-buru kupalingkan wajahku dan mulai membacakan puisiku.

"Sekejap dunia ini seakan sepi
Ku terdiam di pelupuk senja
Ketika mentari seakan sudah lelah bekerja
Menyinari seisi dunia.."

Ketika kupejamkan mataku, seraya menghitung mundur
Ku seakan dapat melihat-Nya menghancurkan seisi dunia..
Segala yang pernah kubanggakan tak lagi bisa menolongku
Kuhanya gelisah dalam sepi, tanpa teman di sisiku

Tiba-tiba aku terhempas
Ke dalam segara lautan dosa yang pernah kubuat sendiri
Sepi, sunyi, tiada berisi
Dan tiba-tiba Kau menolongku meski kecil niatku dulu..

Ooh Tuhanku.., maafkanlah aku
Jauhkanlah aku dari malapetak itu
Meski aku belum tentu berjanji
Karena janji itu, tak mudah untuk ditepati.."

Kubuang napas panjang legaku. Kubungkukkan sedikit tubuhku, setelah kuakhiri penampilanku. Teman-teman bertepuk tangan menyaksikan penampilanku. Aku kembali ke bangkuku dengan langkah yang canggung. Rasa malu mulai menggangguku.

"Kayanya dosanya banyak banget ya mbanya..", celetuk Adel saat aku baru mendaratkan pantatku.

Tanpa berkata-kata, aku tersenyum kesal kepadanya.

Shani bertepuk tangan pelan sambil tersenyum manis saat guruku menyerukan nama Gito. Pandangan matanya mengantarkan perjalanan Gito hingga ke depan kelas. Tak lama, Gito mulai membacakan puisinya.

"Ayah", ucap Gito membacakan judul puisinya. Suaranya yang lembut seolah mengelus hangat hatiku. Nampak sedikit bertolak belakang dengan penampilan dan ekspresi dinginnya.

"Ayah,
Bukankah waktu tak dapat kembali terulang?
Aku rindu menghabiskan waktu luang
Bercengkrama riang canda tawa bersama

Di saat aku libur, kau malah lembur
Di saat aku tertidur, waktumu baru mengendur

Ayah,
Kapan kita bisa bertemu?
Memancing bersama
Bersepeda keliling kota
Bertukar cerita tentang suka mapun duka

Satu atap tapi tak pernah kita bertatap
Sekali saja, Ayah..
Jangan sampai kita saling lupa pada rupa.."

Wah, dengan susah payah aku membendung air mataku. Jago juga dia memainkan kata. Penampilan canggung Gito saat membacakan puisinya malah semakin menambah rasa haru itu. Rasa rindu yang datang dari seluk terdalam ruang di hatinya. Di balik sikap dinginnya, ia nyatanya hanyalah seorang anak laki-laki yang merindukan kehadiran ayahnya. Aku jadi teringat pada ayahku. Sungguh beruntung aku ini. Ayah selalu meluangkan waktunya untukku.  Celetukkan konyolnya mampu membuat aku melupakan rasa kesalku saat aku sedang mengambek padanya. Ayah bahkan tanpa diminta bersedia mengepangkan rambutku sebelum aku berangkat sekolah. Juga membuatkan susu yang diberi sedikit kopi di setiap pagiku. Bagaimana aku bisa jauh dari ayah? Aku ingin ayah ikut mendampingiku jika kelak aku kuliah di luar kota.

Kulihat tatapan haru Shani saat menyambut Gito kembali ke bangkunya. Gito membalas tipis senyuman Shani yang seolah menenangkannya. Ya Tuhan.. Aku merasakan cinta tulus yang begitu kuat di antara keduanya. Menyaksikan seseorang yang aku sukai berkasih-kasihan seperti itu di hadapanku rasanya begitu aneh. Aku ingin menangis karena cemburu, tapi aku juga suka melihat interaksi mereka berdua. Cara mereka berpacaran terlihat begitu dewasa di mataku. Tak perlu mengumbar kemesraan, hanya interaksi-interaksi kecil yang diperlihatkan, tapi nampak begitu saling menjaga dan saling percaya.

***

Rasanya gemas juga aku, jadi ingin menceritakan kepada kalian sedikit saja tentang Gito. Karena memang sedikit juga yang kutahu tentangnya.

Gito. Lelaki yang sama sekali tidak menarik bagiku. Ia memang rupawan dan pintar. Tipikal lelaki 'papan atas'-lah.. Tapi ia tidak ramah, apalagi kepada para perempuan. Ekspresinya selalu datar sepanjang hari. Dan nampak malas saat berinteraksi. Entah apa masalahnya. Makanya aku sampai kaget, ketika tahu ia menjalin hubungan dengan Shani. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana cara mereka pendekatan.. Juga bagaimana saat salah satunya menyatakan perasaan. Gito terlalu hambar bagiku sampai imajinasiku tak mau bekerja.

Gito sebenarnya adalah orang yang sangat rapuh. Ia ringkih. Jarang masuk sekolah juga. Belakangan baru aku tahu saat satu kelompok olah raga dengannya. Ia punya penyakit asma. Sering kambuh katanya. Di sini juga aku heran, kenapa Shani selalu menjalin hubungan dengan mereka yang bahkan kurang bisa menjaga diri.

Ditambah lagi ia sebangku dengan Deo. Anak lelaki dingin yang pernah aku sukai. Iya, sekarang sudah tidak. Gara-garanya apa? Hmm.. Waktu itu sedang ada tes olah raga. Kami berbaris secara acak sebanyak lima banjar. Awalnya aku sangat senang saat di hadapanku ada Deo. Itu artinya, aku yang akan membantunya menghitung gerakan. Saat giliran gerakan sit up, aku memegangi sepatu Deo supaya kakinya tidak terangkat. Ya, memang disuruhnya seperti itu. Tapi apa yang terjadi?? Deo malah sewot kepadaku. Katanya, ia tak bisa melakukan banyak-banyak karena aku yang salah, tidak melakukan tugasku dengan benar. Ya ampun. Detik itu juga, semua rasa kagumku kepadanya sirna. Menyebalkannya, aku jadi lebih sering sekelompok dengannya. Dan kelompokku tak pernah damai karena ada dia si perfeksionis itu. Suatu hari aku pernah kebagian menerjemahkan sebuah paragraf ke dalam Bahasa Inggris. Aku sudah melakukannya dengan serius. Aku bahkan meminta bantuan Kak Jesslyn yang sudah mahir berbahasa Inggris untuk membantuku menerjemahkan serta mengoreksinya. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Saat aku menyerahkan hasil pekerjaanku pada Deo.. dia malah mengerjakan ulang dari awal. Apa yang telah aku kerjakan benar-benar tidak ia anggap. Ya Tuhan.. Memang sudah paling benar hanya suka pada Shani seorang..

Eh kenapa juga aku malah jadi cerita tentang Deo.. Maaf.. Maaf..

Intinya, hati-hati saja dekat-dekat dengan duo kulkas itu.. Memang nyatanya jika tidak punya kekuatan hiper seperti Shani, bisa bikin kita terkena hipotermia..

つづく

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang