Aircukup, 2012
Lebih baik mana?
Jauh tapi dekat, atau dekat tapi jauh?
Bukankah keduanya hanya masalah perspektif saja? Dan sisi mana yang kita pilih untuk menafsirkannya..
Iya..
Benar, aku sedang membicarakan tentang dia..
Shayla Nirvana.. Shani-ku, satu-satunya yang selalu melekat dalam hati dan ingatanku.. Seseorang dari masa lalu yang tanpa sepengetahuannya telah berhasil menyekap sebagian besar alam pikiranku.
Dekat, saat kami menjadi teman sekelas..
Dekat, karena aku bersekolah di SMA yang lokasinya tak jauh dari rumah Shani..
Jauh, karena kami tak pernah benar-benar menjadi teman..
Jauh, karena kami berbeda sekolah..
Namun, meski rindu ini begitu menggebu.. Entah mengapa aku tak bisa dengan mudahnya menyapa dirinya di media sosial.. Kami bahkan tidak berteman di sana.. Mungkin ia yang memang tak pernah dengan sengaja mencariku, pula aku yang tak berani menambahkannya sebagai temanku, atau mengajukan pertemanan.. Rasanya terlalu berbahaya.. Aku tak punya keberanian, pula alasan yang kuat untuk tiba-tiba kembali hadir dalam hidupnya. Lagi pula, saat satu kelas dulu kami tidak dekat sama sekali.. Ia terlalu istimewa hingga aku segan untuk sekadar berbasa-basi ataupun menyapanya. Aku tak mau bila semua kesabaran, perjuangan, serta konsistensiku harus berakhir sia-sia hanya karena Shani ilfil kepadaku.. Bisa hancur aku..
Aku bahkan menyembunyikan dan menyimpan rapat-rapat perasaan ini dari semua orang terdekatku.
Begitu masuk SMA, rasanya sungguh konyol saat teman-teman sekelasku melabeliku sebagai cewek paling dingin..
Tak seperti kebanyakan siswa lainnya yang mewujudkan lirik lagu tentang kisah kasih di sekolah, cinta remaja, ataupun lagu lainnya yang menyatakan masa SMA sebagai masa dengan kisah romansa terbaik.. Meski dipancing bagaimanapun, aku tidak pernah menunjukkan ketertarikanku kepada siapa pun. Ya, hanya karena aku memperlakukan semua teman sekelasku dengan cara yang sama. Siapa pun.
Sebenarnya, dengan sadar aku bersikap seperti itu.. Dalihku adalah, belajar dari pengalaman..
Mengagumi seseorang dengan keterlaluan, hingga membatasi pergerakan.. Aku juga yang pada akhirnya merugi..
Oleh karenanya, aku mulai belajar untuk mengendalikan pergerakan pula perasaanku. Meski sebenarnya aku tertarik pada seseorang, aku akan bersikap biasa saja. Dan ternyata, dengan melakukan hal itu semesta justru tak pernah lagi menghalang-halangiku.
Namun sepertinya, sekali lagi aku keterlaluan..
Aku terlalu menyembunyikan semuanya di dalam hati, hingga pada akhirnya ekspresiku tidak berfungsi. Ada yang bercanda aku diam, digoda aku diam, bahkan dimarahi pun aku diam.
Saat kelas 10, bibit-bibit mengagumi seorang teman sekelasku pun mulai muncul kembali. Dia adalah seorang siswi yang duduk tepat di depanku. Paras serta gayanya mirip sekali dengan Geum Jan Di dalam serial Boys Before Flowers. Dia sangat pandai, menguasai hampir seluruh mata pelajaran.
Meskipun aku masih sama payahnya seperti saat SMP, tapi entah bagaimana justru dialah yang lebih sering memulai interaksi denganku. Mungkinkah sikapku yang biasa saja itu membuat dia penasaran? Entahlah, yang pasti hanya kepadanya aku bisa sedikit lebih hangat. Menguntungkan buatku. Aku bahkan tanpa canggung bisa memintanya untuk mengajariku cara mengerjakan soal matematika, fisika, kimia.. Bahkan menyontek jawabannya saat aku sudah tak bisa diselamatkan..
Tapi karena aku terlalu dingin untuknya, justru aku juga yang merugi. Hubungan kami tak menjadi lebih dekat dari itu. Dan aku, tidak menjadi orang pertama yang ia tuju untuk menceritakan kebahagiaan pula kesedihannya. Mungkin ia segan karena mengira aku tidak akan peduli..
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
FanfictionMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
