Apakah salah, jika yang melulu kupikirkan semuanya adalah tentang Shani?
Hmm, rasanya tak apa bukan.. Lagi pula tidak ada satu pun pihak yang dirugikan akibat ulahku ini. Ya.. Sepertinya sih begitu..
Shani.. Shani.. Shani..
Seperti yang pernah kubilang, berkat Shani aku setidaknya jadi punya semangat untuk memantaskan diri. Ya.. Meskipun masih tidak berpengaruh apa-apa pada hubungan kami. Aku tetap di sini, dan dia tetap di sana. Tak tergapai.
Tapi.. Untuk masalah perbaikan nilai.. Aku cukup serius. Ada kepuasan yang tak ternilai saat namaku tidak disebut dalam daftar siswa yang harus mengikuti remedial. Enak sekali. Cukup menunggu di luar ruangan, dan sesekali bisa menyelinap pergi ke warung jajan. Dan terlebih lagi.. Curi-curi pandang kepada Shani tentunya.
Aku lihat, Shani dan Fiony jadi semakin akrab saja. Enak sekali Lulu, teman sebangku Fiony, yang otomatis terbawa-bawa juga.. Tapi untung ada Lulu sih, yang selalu tak tahan bercerita tentang ini dan itu. Ya.. Meskipun iri kepadanya, tapi kehadirannya tetap aku nantikan juga. Hitung-hitung dapat bocoran karena sudah tak bisa lagi memantau Shani lewat Friendster seperti yang sebelumnya kulakukan.
Selain itu, aku jadi berpikir. Bagaimanapun, sebenarnya Fiony juga termasuk 'orang papan atas', hanya saja lebih merakyat. Tak heran jika Shani ataupun Anin bergantian mendekatinya kan..
Maka dari itu, aku memberanikan diri untuk meminta kepada bunda supaya diperbolehkan mengikuti les yang diselenggarakan oleh beberapa guru pengajar kelasku. Ya, setidaknya untuk meningkatkan kepercayaan diriku. Bahkan untuk masalah Bahasa Inggris, bunda menyuruhku untuk mendaftarkan diri ke tempat les yang tak jauh dari tempat tinggalku, padahal aku sudah mengikuti les yang diselenggarakan oleh Ma'am Lidya, ibu guru Bahasa Inggrisku.
Masih terekam jelas dalam ingatanku. Sore itu, telapak tanganku terasa sangat dingin. Selalu saja begitu tiap kali memulai hal baru. Ayah berjalan di depanku dan aku mengikutinya dengan langkah yang ragu. Memasuki sebuah area dengan banyak ruangan terpisah. Dialogue. Begitu tulisan yang tersemat di atas pintu masuknya.
Seorang bapak bertubuh kurus kering memperkenalkan dirinya sebagai Pak Marteen. Jika kuperhatikan, wajahnya sekilas mirip dengan Fariz RM, pendendang lagu Sakura kesukaanku itu. Ya, dia pengajar di tempat les tersebut.
Seusai menyelesaikan urusan administrasi, ayah melambaikan tangannya kepadaku. Meninggalkanku di tempat asing itu bersama-orang-orang yang tidak aku kenali. Ya, aku memang setidak mandiri itu.. He..he..
Pak Marteen memperkenalkanku kepada beberapa orang yang nampak sebaya denganku. Aku duduk di kursi bermeja yang baru diambil dari gudang. Di depanku ada seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan yang nampak ambisius. Dan disampingku ada seorang anak perempuan berpenampilan tomboy yang tatapannya sangat mengintimidasi. Membuatku merasa telah berbuat kesalahan besar kepadanya. Namanya Freya kalau tidak salah. Dia satu tahun lebih tua dariku. Tak lama, datang seseorang yang amat tidak aku duga. Seorang anak lelaki pendiam yang aku kenali. Gabriel. Dia teman sekelasku. Makhluk paling misterius yang ambisius namun tak banyak berbicara, tak banyak bertingkah, dan entah berteman dengan siapa. Tapi anehnya, berkat kehadirannya di tempat itu, aku sudah tidak merasa terlalu tegang lagi. Mungkin karena setidaknya ada orang yang aku kenali?
Meskipun bagiku menegangkan, pada akhirnya aku bisa menjalankan seluruh kegiatanku dengan baik. Les Bahasa Inggris bersama Ma'am Lidya di hari Jumat sepulang sekolah, dan les di Dialogue setiap hari Rabu pukul 16.30 dan Sabtu pukul 10.00. Ada juga Les komputer di hari Selasa. Dan tak lupa ekskul kesenian di hari Kamis.
Satu-satunya yang sebenarnya aku butuhkan namun aku hindari adalah les fisika. Nilai fisikaku tak pernah mengalami peningkatan. Tapi aku seakan alergi dengan mata pelajaran itu. Lagipula bunda juga tidak pernah memaksaku untuk mengikuti les bersama bapaknya Kak Sani itu. Rumahnya jauh.. Alasan bagus buatku.
***
Sungguh tak terasa berbulan-bulan berlalu. Rasanya seluruh waktu yang telah aku lewati tak pernah cukup untuk mengagumi Shani-ku. Hal terbesar yang paling aku sesali adalah mengapa hingga sejauh ini aku tak pernah bisa dekat dengan Shani. Seolah memang sudah ditakdirkan tidak sefrekuensi. Tak ada kesinambungan dalam hal apa pun. Sungguh menyebalkan. Ohya satu-satunya yang kubanggakan hanyalah tanda tanganku dan tanda tangannya yang mirip cara penulisannya. Hanya nama depan yang ditulis dengan gaya. Maaf, memang dasar pengagum, hal kecil tidak penting begitu saja bangganya bukan main.. Dasar aku..
Hal yang paling membuatku sedih adalah.. Ini adalah kesempatan terakhirku bisa bersama dengan Shani. Aku tak bisa lagi dengan bebas memilih siapa teman yang aku inginkan sekelas denganku. Keistimewaan anak guru.. Memang begitu, untung bunda berteman baik dengan bapak guru yang menangani masalah penempatan kelas bagi siswa. Tapi untuk kelas 9 nanti, terlalu mustahil untuk melakukan itu. Shani berasal dari kelas 7A, sementara aku berasal dari kelas 7F. Kata bapak guru tersebut, untuk kelas 9 nanti, siswanya tidak akan diacak seperti saat kelas 8. Rumusnya adalah ½A + ½B. Shani akan kembali ke kelas A.. Dan aku akan kembali ke kelas F bersama ½ teman sekelas baru yang berasa dari kelas E.. Kesenanganku akan segera berakhir. Bertemu kembali dengan orang-orang yang membuat trauma itu terasa bahkan sebelum semua itu terjadi.. Itu akan sangat buruk. Bisakah aku mengikuti pelajaran dengan baik? Aku takut kalau sampai tidak lulus sekolah. Menakutkan sekali..
Aku menatap punggung Shani dengan perasaan haru. Ada rindu yang begitu besar yang tak pernah tersampaikan. Entah apa yang harus aku lakukan untuk bisa dekat dengannya. Tuhan pun seakan enggan mengabulkan doaku. Bahkan untuk sekedar berkhayal aku ternyata berjodoh dengan saudara kandungnya pun rasanya aku tak layak..
Aku hanya ingin Shani. Bagaimana ini??
"Hey.. Hey.. Hey.. Would you open book please?..". Teriak Ma'am Lidya dari depan kelas sambil mengacung-acungkan buku paket yang dipegangnya. Membuat perhatianku teralihkan dari punggung Shani kepada beliau.
"Perhatikan halaman 365.. Buku kumpulan soal.. Kita kerjakan bersama ya.. Pokoknya Ma'am ingin di kelas 9 nanti, kalian udah ngelotok di luar batok itu 16 tenses.."
Aku membuka halaman demi halaman dengan malas.
"Ohya kalian sudah lihat hasil ulangan terakhir kalian? Ma'am bangga sekali.. Ya.. Ada beberapa orang di antara kalian yang nilainya mengalami peningkatan.. Ma'am harap di kelas 9 nanti, nilai kalian semua bisa stabil di atas KKM.."
"Aamiin..", jawab kami serentak.
"Dan Oniel.. Nilai kamu bisa dibilang yang peningkatannya paling drastis.. Dari kelas 7 Ma'am ajar kamu.. Baru kamu kaya gini.. Semangat terus ya Nak ya.."
Sreeeng..
Wajahku mendadak terasa panas. Antara malu dan bangga, mungkin lebih banyak rasa malunya. Mengapa harus dipuji di depan kelas seperti ini sih. Bagaimana kalau tiba-tiba nilaiku anjlok lagi. Aduh, jangan berharap kepadaku..
Meski tak melihatnya, aku merasakan seluruh mata tertuju kepadaku. Mereka semua bertepuk tangan mengapresiasiku.
"Wiiih Oniel...". Berisiknya.
Aku mengangkat kepalaku sambil tersenyum canggung. Tiba-tiba mataku beradu dengan mata indah Shani. Matanya tersenyum. Raut wajahnya tulus memuji kehebatanku yang tak ada apa-apanya itu. Ia bertepuk tangan seakan ikut bangga akhirnya aku bisa berenang ke atas permukaan. Aku membalasnya dengan senyuman yang malu-malu.
Agak konyol rasanya. Hanya untuk bisa mencapai nilai KKM, aku sampai harus mengikuti les di dua tempat sekaligus. Tapi aku juga tak mau membandingkan diriku dengan siapa pun. Aku bangga dengan perjuanganku, melawan rasa malas dan takutku. Setidaknya untuk urusan yang satu ini, usahaku tidak mengkhianati hasil..
つづく
KAMU SEDANG MEMBACA
Tulang Hasta
FanfictionMenjadi pengagum rahasia itu sungguh berat, apalagi kalau sampai jatuh hati. Ingin melangkah lebih jauh, tak bisa. Ingin biasa saja pun mustahil rasanya.. Luangkanlah waktumu jika kamu bersedia menemaniku. Akan kututurkan sebuah kisah klasik tentang...
