23

526 48 1
                                        

Aku tidak mengenalnya.
Dia selalu saja duduk di sana, di pinggiran tembok taman seberang ruang kelas yang tegak lurus dengan arah kedatanganku. Agak risih sebenarnya, harus selalu berjalan lewat di hadapannya diikuti dengan tatapan datarnya yang terasa begitu mengintimidasiku.

Bagaimana tidak, coba saja kalian bayangkan.. Jalan yang kulalui adalah lorong sempit berukuran sekitar 1,2 meter. Di sebelah kiriku ada kolam ikan berbentuk memanjang yang airnya sering luber dan menciprat-ciprat. Mengganggu sekali. Sementara manusia tadi duduk menghadap jalan sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah selama aku menyusuri jalanan tersebut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.

Sebenarnya sih ada jalan lain, dari gerbang masuk langsung berjalan diagonal menyeberangi bagian sisi kiri lapangan menuju koridor kelas. Tapi, ya.. Aku tak mau.. Demi melihat Shani, aku rela menghadapi tatapan menyebalkan itu di setiap pagiku..

Supaya tidak terlalu menarik perhatian, aku biasanya memasang ekspresi datar. Pandangan mataku lurus ke depan, kuangkat sedikit daguku, dan tak lupa kupicingkan mataku. Cukup sulit melihat ke dalam ruang kelas Shani. Entah efek optik apa namanya, tapi ruang kelas terlihat sangat gelap jika dilihat dari luar.

Ohya, jalanan yang kulalui beruntungnya lebih tinggi dari ruang kelas Shani. Dan yang paling menyenangkan adalah jalanan ini tegak lurus dengan jendela kelas yang tingginya sampai ke langit-langit. Tapi yang tidak beruntung adalah.. Jendelanya jarang sekali terbuka. Mengesalkan sekali. Kalaupun jendela kisi kayunya dibuka, jendela kacanya yang ditutup. Sial, aku jadi bisa melihat wajahku yang nelangsa itu. Aku sungguh benci jendela dua lapis ini..

***

Di tengah-tengah keriuhan kelasku, aku yang kembali sebangku dengan Adel hanya bisa menyaksikan mereka-mereka yang menguasai kelas bercanda tawa dan membuat drama. Sudah kubilang kan, aku tak suka dengan teman-teman kelas 7-ku ini, apalagi sekarang bergabung dengan sebagian dari anak kelas E yang ternyata satu frekuensi dengan mereka. Ambyar, slebor, arogan. Rasanya begitulah mereka. Maaf kalau aku terlalu kasar dalam menggambarkan mereka.

Terlihat sekali jarak antara si pintar dan sinonimnya. Belum lagi kalau sudah menyangkut status ekonomi. Terlalu banyak kubu, terlalu tebal benteng pembatasnya. Malas sekali.

Meski sebangku dengan Adel, tapi pertemanan kami juga agak berbeda. Adel lebih akrab dengan dua orang kawan yang duduk di depan kami, Callie dan Indira. Sementara aku lebih akrab dengan Amanda dan Yori. Sudah pernah kami coba untuk bermain bersama. Bukan bermain juga sih, hanya pergi ke kantin bersama dan mengobrol ringan di jam istirahat. Tapi, tak bisa. Obrolan kami berbeda, cara kami dalam menanggapi sesuatu juga berbeda, dan.. Lebih parahnya, humor kami berbeda.. Sungguh disayangkan.. Tapi jangan khawatir, jika hanya berdua dengan Adel, tentu aku masih bisa.. Adel memang selalu menjadi rekan terbaikku saat ulangan. Aku si pengingat rumus dan teori, dan Adel si penghitung handal.. Masih begitu.. Ya meskipun entah apa yang aku ingat..

Sudah beberapa kali Adel mengajakku untuk mendaftar les pelajaran di tempat les yang baru saja dibuka tak jauh dari sekolahku. Tapi aku tak mau.. Ada rasa takut membebani orang tua kalau harus lagi-lagi menghabiskan uang mereka. Lagi pula aku tak bisa menjamin diriku ini bisa menjadi lebih baik.. Sayang bukan..

Jika diperhatikan, dari sejak awal masuk kelas 9, sebenarnya Adel-lah yang nampak sekali perubahannya. Ia menjadi lebih semangat untuk belajar. Setidaknya sudah lebih dari tiga tempat les pelajaran yang Adel tawarkan kepadaku. Tapi, aku menolak semuanya hingga pada akhirnya.. Adel menyerah.

Jika sudah begini.. Tambah nampak lagi perbedaanku dengan Adel. Nilai-nilai pelajaran Adel meningkat, meski tetap harus ikut remedial. Ya setidaknya sudah bisa lebih tinggi dari nilai-nilaiku. Bahkan saat ada try out pertama yang dikerjakan di rumah dan diperiksa oleh orang tua.. Bunda dan ayah sampai marah karena bisa-bisanya aku mendapatkan nilai di bawah KKM secara keseluruhan.

Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang