4

758 84 1
                                        

Lagi-lagi hujan.
Aku datang sedikit terlambat pagi ini. Alasannya? Aku lupa ini hari Jumat. Saat sudah 400 meter meninggalkan rumah, aku baru sadar kalau aku tidak menggunakan seragam batik. Akhirnya di perjalanan aku merengek pada bunda untuk kembali ke rumah. Sialnya di rumah seragamku tidak ada di lemari dan masih ada di tumpukan setrikaan. Dari luar, terdengar bunda membunyikan klakson berkali-kali. Akhirnya, aku tiba di sekolah dengan penampilan yang sangat kacau. Seragam yang lecek serta rambut acak-acakan karena tadi aku lupa untuk mengenakan helm kembali. Beruntung hujan baru turun tepat saat aku berhenti di gerbang sekolah..

Saat aku membuka pintu kelas, teman-teman yang sedang menelungkupkan kepalanya di meja sampai terkejut. Mengira bahwa yang masuk adalah bu guru. Bel sekolah memang sudah dibunyikan juga. Sungguh malu rasanya menjadi pusat perhatian apalagi saat penampilanku sedang kacau. Beruntung mereka seakan tidak peduli dan kembali tiduran di meja, karena, siapa juga aku?

Sejak aku duduk di bangkuku, Adel bersikap seolah tidak menyadari kehadiranku. Ia memunggungiku dan asyik mengobrol dengan Ashel dan Marsha. Rasanya sungguh tidak nyaman harus mengalami perang dingin seperti ini. Sebenarnya aku juga sudah biasa saja, tidak berlarut-larut mempermasalahkan tragedi kecambah beberapa hari yang lalu. Kami tidak saling menjauh, hanya saling diam saja. Malah Flora yang sedikit mejauh dariku. Kenapa? Aku juga tak mengerti.  Akibatnya, belakangan ini aku lebih banyak berinteraksi dengan Fiony.  Agak aneh rasanya, mungkin karena kami belum sekalipun menemukan bahasan yang pas dalam obrolan kami.

Shani. Kenapa dia juga terasa menjauh? Bahkan tak pernah lagi aku lihat dia berbalik ke belakang untuk sekedar berbincang dengan Feni dan Sisca. Saat jam istirahat tiba, ia lebih memilih untuk tetap di kelas dan sibuk dengan ponselnya. Sesekali begitu bel istirahat berbunyi, ia dan Sisca buru-buru meninggalkan kelas. Tak kembali hingga jam pulang tiba, dan mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran entah untuk urusan apa.
Rasanya begitu rindu. Sungguh menyebalkan.

Saat sedang membereskan barang bawaanku, teman-teman lainnya ramai membicarakan tentang carter-mencarter angkot.

Sebentar..

Aku lupa kalau hari ini adalah jadwal renang kelas 8.. Sial.. Masa aku harus tidak ikut renang lagi? Mana hari ini ada tes pula..

Baiklah, masih ada waktu satu jam. Aku bisa pulang ke rumah untuk mengambil baju renang dan minta ayah untuk mengantarku ke tempat renang. Mumpung ayah libur setiap Jumat.

***

Aku duduk di tepian kolam menunggu pak guru memanggil namaku. Ternyata hanya beberapa orang perempuan di kelasku yang turun ke air. Sisanya? Lebih memilih untuk mengerjakan LKS olah raga plus soal tambahan lainnya. Termasuk Fiony, teman berbincangku belakangan ini.

Shani, Anin, Sisca, dan Feni duduk berderetan jauh di seberangku. Di tepi bagian kolam yang lebih dalam. Ya, mereka berempat terkenal jago berenang. Berbeda denganku yang hanya bisa satu gaya. Itu pun sering megap-megap di tengah jalan. Jadi bahaya kalau aku sok-sokan memilih bagian kolam yang dalam.

Pak guru memberikan pilihan untuk tes kali ini. Empat kali bolak-balik jarak pendek di bagian kolam yang dangkal, atau satu kali jarak panjang. Sudah tahukan aku pilih yang mana?

Nama kami dipanggil berurutan sesuai abjad. Setidaknya, aku tidak terlalu lama deg-degan menunggu giliran. Aku juga bisa mandi dan pulang lebih awal. Aman bukan?

Saat aku hendak menuju ruang bilas, langkahku tiba-tiba terhenti tepat saat nama Shani dipanggil. Aku menoleh ke samping dan terlihat Shani sedang bersiap melompat ke dalam kolam. Tentu saja ia memilih jarak panjang. Dan aku berdiri mematung di seberangnya. Tanpa sadar berjalan mendekat ke tepi kolam di mana ia akan berhenti.

Begitu masuk ke dalam air, ia menghilang beberapa saat dan tiba-tiba muncul di tengah-tengah. Jauh meninggalkan perenang lainnya. Tubuh indahnya bergerak anggun melesat menghampiriku. Jantungku berdegup empat kali lebih cepat. Cipratan-cipratan air yang dihasilkannya membentuk efek visual yang begitu sempurna di mataku. Entah seberapa besar mulutku terbuka saat ini.

Entah apa yang menggerakkanku, aku tiba-tiba melakukan selebrasi konyol di hadapannya saat ia baru saja berhenti. "Kesatu.. Kesatu..", kataku sambil mengacungkan kedua telunjukku dan menggerakannya seperti pemain bola yang baru saja mencetak angka.

Shani masih mengatur napasnya. Reflek aku mengulurkan kedua tanganku untuk membantunya naik. Ia meraihnya.

Iya.. Benar.. Ini bukan khayalan..

Aku tak ingat apa yang terjadi hingga tiba-tiba Sisca, Anin, dan Feni menyerbu dari segala sisiku dan mengerubungi Shani seolah menyelamatkannya dari seranganku yang tak terduga. Aku terdorong mundur ke belakang dan perlahan pergi menjauh. Kaget.. Tak percaya dengan apa yang baru saja kuperbuat. Malu. Boleh menghilang saja tidak Aku?

***

Hari ini aku mendapatkan dispensasi untuk sekolah setengah hari.

Tok.. Tok.. Tok..

"Permisi Pak.. Ada pesan.. Cornelia dipanggil oleh Bu Jinan.."

Ada apa bunda memanggilku di jam pelajaran? Kenapa tidak tunggu sampai jam istirahat saja seperti biasa?

Dan di sinilah aku sekarang berada..
Puisi yang dulu pernah kubuat karena suruhan bunda ternyata bunda ikut sertakan dalam perlombaan yang diselenggarakan oleh sebuah perpustakaan pribadi milik seorang tokoh.

Aku duduk bersebelahan dengan Dirham, cowok kurus kecil berambut mangkuk, teman sekelasku saat kelas 7 dulu. Dirham mengajakku berbicara. Katanya, ia tak menyangka bahwa puisi yang ia buat, bunda ikut sertakan dalam sebuah perlombaan. Ini pertama kali untuknya.

Siswa-siswi dari berbagai sekolah bergantian mempersembahkan pertunjukan. Termasuk sekolahku. Mereka berderet rapi di pangung permanen yang ada di aula besar ini. Di antaranya terlihat ada Sisca juga Shani. Rupanya ini yang mereka persiapkan belakangan ini.. Penampilan mereka memang terlihat sangat keren dan fantastis. Pantas saja Shani sering terlihat begitu sibuk dan serius. Ia menjadi semacam komando atau apalah namanya, untuk pertunjukan ini. Damage-nya bertambah berkali-kali lipat.

Telapak tanganku sampai terasa panas karena tak henti-hentinya aku bertepuk tangan, kegirangan.

Tiba saatnya pengumuman pemenang perlombaan.
Nama bunda dipanggil. Ia menjadi juara pertama  lomba karya tulis tingkat guru. Okay.
Beberapa saat kemudian giliran namaku yang disebut sebagai juara dua lomba menulis puisi dan Dirham yang menjadi juara satunya. Puisi Dirham dibacakan oleh salah satu penyelenggara acara. Puisi yang dibuatnya terdengar nyaman di telinga. Susunan kata yang dipilihnya memang benar-benar indah dan unik. Ia pantas menjadi juaranya.

Aku menitipkan pialaku pada bunda. Rasanya ribet bila harus membawa-bawa piala berukuran tinggi ini. Lagi pula aku masih ingin menonton pertunjukan lainnya.

Rupanya siswa yang telah tampil menyerbu seluruh kursi kosong yang tadi tersedia. Penuh. Aku kemudian berjalan ke sisi sebelah kiri di mana teman-teman satu sekolahku berkerumun.
Mereka semua duduk, kecuali aku.

Saat aku sedang fokus melihat ke panggung, tiba-tiba aku merasakan ada yang menarik-narik rok samping kananku. Ternyata Shani pelakunya!
Aku mengangkat kedua alisku. Shani bergeser pada kursinya, dan menyisakan sedikit ruang kosong untukku. Tentu tidak aku sia-siakan.
Aku duduk berdesakan dengan Shani. Pandanganku ke depan, tapi pikiranku sibuk melakukan pertunjukkannya sendiri. Aku menari-nari di dalamnya. Dengan degup jantungku sebagai tabuhan iramanya.

"Selamat ya..", katanya pelan tepat di daun telinga kananku.

Mau pingsan.. Gawat.. Aku mau pingsan..

つづく









Tulang HastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang