3

26.7K 1.7K 40
                                        

Marisca tersenyum sepanjang jalan. Paginya terasa begitu menyenangkan, padahal ia kira dirinya akan langsung merindukan rumahnya dan hingar-bingar perkotaan.

Kemarin setelah obrolan serius yang Caca lakukan dengan Melviano, keduanya menjadi lebih luwes satu sama lain. Mereka menghabiskan malamnya dengan menonton film bersama lalu mengobrol seputar masa perkuliahannya. Yang mengejutkan ternyata mereka berasal dari almamater yang sama. Cuma ya beda jurusan.

Ada satu dua kemiripan selera diantara keduanya. Seperti sama-sama tak suka film horror, kemudian kesamaan selera musik. Bertemu seseorang dengan selera yang sama selalu menyenangkan, makanya mereka sampai tidur di atas jam 12 malam. Keasikan mengobrol. Mungkin kalau saja Tya dan Citra tahu kedekatan putra-putrinya, mereka akan bersorak kegirangan.

"Ca, menurut lo gue harus beli mobil gak?"

Fakta yang baru Caca ketahui, ternyata Melviano hanya memiliki motor sebagai kendaraannya di sini. Ya lagipula dia kan sebelum menikah kemana-mana sendiri, tak perlu lah pakai mobil. Medan jalan menuju tempat kerjanya juga tak memungkinkan untuk membawa mobil. Makanya Melviano hanya memiliki satu motor trail yang lebih praktis untuk dibawa kemana-mana.

Lalu mereka ke kota naik apa? Pinjam mobilnya Luki. Melviano jelas tak tega dan tak mungkin juga memboncengkan Caca naik motor trailnya. Kalau Jonas tahu tuan putrinya diajak jalan pakai motor, bisa keluar tanduknya.

"Emang butuh banget ya mobil?" Tanya Caca balik. Melviano tersenyum lebar, ini mungkin akan jadi salah satu sifat yang pria itu sukai dari Caca. Yaitu pengertian.

Melviano menyadarinya sesaat setelah obrolan seriusnya kemarin. Kalau Caca tak pengertian, tentu gadis itu tetap memilih untuk egois dan bahkan menyalahkan dirinya atas pernikahan ini. Dibanding langsung membuat suatu keputusan, Caca lebih memilih untuk berdiskusi terlebih dahulu. Seperti yang gadis itu lakukan barusan, ia tak langsung menyetujui ide Melviano untuk membeli mobil.

"Ada beberapa pertimbangan sih Ca. Kalo kita punya mobil kemana-mana jadi lebih aman dan nyaman. Semisal sewaktu-waktu kita mau ke kota gini, juga gak mungkin kan gue pinjam mobil ke Luki terus. Motor gue terlalu bahaya untuk boncengan. Terus gue rasa udah saatnya punya mobil juga. Gue juga udah janji sama Papi Jonas buat kasih apapun yang terbaik buat anaknya." Caca mengulum bibirnya, matanya menatap pada jendela di sebelah kirinya. Jangan sampai Melviano tahu kalo dia sedang salah tingkah.

"Gimana menurut lo Ca?"

"Ya kalo dilihat dari alasan lo sepertinya kita emang butuh mobil, kecuali lo mau ganti motor. Diganti sama yang lebih aman buat boncengan gitu."

"Kalo gitu mah mending gue nambah motor. Motor gue itu banyak kenangannya Ca, gak akan gue jual." Melviano dan motornya memang tak terpisahkan.

"Ih daripada nambah motor mending beli mobil lah." Protes gadis itu.

"Oke gue nanti bilang Pak Slamet biar bantuin cari-cari mobil yang cocok buat kita."

"Nanti bagi dua ya bayarnya?"

"Gak, tugas gue buat beliin lo mobil." Caca mengernyit tak suka.

"Ih apaan, gak ya! Lo kan udah beli rumah, gantian gue bantuin beli mobil. Kalo perlu gue bayar full."

"Kita terusin ngobrolnya nanti. Gue fokus nyetir dulu." Jawab Melviano tegas.

Sepanjang jalan Caca hanya terdiam. Ia takut bersuara, apalagi saat melihat ekspresi datar Melviano. Dia seperti sedang ujian, harus diam dan serius. Pasti Melviano kesal karena dia terus memaksa untuk ikut andil dalam membayar mobil. Tapi kan Caca memang mau ikut bayar, ada ego dalam dirinya yang menginginkan untuk tetap berguna dalam perekonomian, walaupun tak bekerja. Bagaimanapun juga ia kan punya tabungan untuk masa depan, dan ia pikir ini saatnya menggunakan uang itu.

A Blessing In DisguiseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang