Jevina mengerucutkan bibirnya saat Reno sudah memohon-mohon agar mereka bisa pulang dalam waktu 3 hari. Masa cutinya sih masih lama. Biarpun perusahaan milik keluarganya, tapi Reno kan masih punya tanggungan besar. Ratusan karyawan butuh dia sebagai pemimpin. Namun istri cantiknya itu malah merajuk karena harus dipisahkan dengan sahabatnya lagi. Kini wanita itu sedang berada di ruang tamu Caca, memohon pada Melviano agar Caca boleh ia bawa pulang.
"Gak ada ya Na! Masa gue harus LDR sama bini gue!" Ucap Melviano tegas. Caca masih di kamar, bumil itu masih sibuk merapikan pakaian yang baru selesai ia seterika.
"Tolonglah Mel, gue gak bisa hidup tanpa Caca." Ia menangkupkan kedua tangannya di atas kepala.
"Aneh banget sih, harusnya lo gak bisa hidup tanpa Reno bukannya Caca."
"Gue bilangin Om Jonas loh dengan alasan lo melarang Caca buat ketemu keluarganya!" Ancam Jevina.
Pria itu menghembuskan nafas. Kalau bawa-bawa Jonas ya dia takut lah. Melviano langsung menelepon Reno yang sedang sibuk menata pakaian-pakaiannya ke dalam koper.
"No, bawa bini lo balik!" Ucap Melviano singkat lalu langsung mematikan telepon itu tanpa menunggu Reno menjawab perintahnya.
"Ih apaan sih pake nelfon Reno. Dia kesini gak akan ngaruh sama permintaan gue buat ngajak Caca balik." Melviano memijit keningnya. Di minggu pagi yang cerah begini, mengapa ada saja gangguannya.
"Na tolong lah, gue kan pengantin baru. Caca lagi hamil, gue gak akan tega ngebiarin dia pergi-pergi jauh. Lagipula apa kata Mami Citra sama Papi Jonas, kalau tahu gue biarin anaknya yang lagi hamil muda begini pulang ke rumah mereka. Kalau dikira gue punya masalah lo mau tanggungjawab?" Jevina menggigit bibir bawahnya. Ia tahu permintaannya begitu egois, tapi Jevina benar-benar kesepian di sana. Wanita itu sudah terbiasa dengan keberadaan Reina dan Caca di sisinya. Reno kan juga kerja terus.
Suara bel rumah Melviano berbunyi keras. Dari pintu yang terbuka lebar tampak Reno yang ngos-ngosan. Sepertinya lelaki itu berlari saat mendapat telepon dari Melviano. Apalagi dari nada suara Melviano yang terdengar begitu kesal sekaligus frustasi, Reno yakin teman barunya itu sudah sangat kesal dengan tingkah Jevina.
"Jevina! Kamu ngapain disini, baju-baju kamu tuh belum dimasukin ke koper!" Omel Reno, Jevina memanyunkan bibirnya.
"Aku gak mau pulang! Mau pulang asal Caca sama Reina ikut!" Kedua pria itu menghela nafas.
Akan terjadi perdebatan alot kalau mereka yang membujuk. Dari dalam, Caca keluar dengan santai lalu mendudukkan diri di sebelah Melviano. Tangan Melviano ia lingkarkan ke pinggangnya, lalu Caca bersandar di dada Melviano. Wanita itu belum mengerti apa yang sedang terjadi.
"Jevina kenapa sih kok mukanya kesel banget?" Tanya Caca pada Melviano yang kini sudah mengusap-usap pinggang istrinya dengan lembut.
"Caca ikut gue balik yuk. Mau ya?"
"Gak ah jellybean gak mau jauh-jauh dari daddy-nya." Jawab Caca, membuat Melviano tersenyum senang.
"Anggap aja Reno bapaknya si jellybean." Melviano mendelik. Enak saja usaha dan keringatnya diakuisisi Reno semudah itu.
"Gak mau! Pokoknya daddy-nya jellybean cuma Daddy Melviano, iya kan sayang?" Caca mengerucutkan bibirnya lalu mengusap rahang Melviano. Reno sampai geli sendiri melihat mereka.
"Caca tolong dong, gue kesepian di sana nanti." Kini Jevina sudah berkaca-kaca siap menangis.
"Minta dihamilin aja sama Reno Jev." Jawab Caca enteng, Melviano terkekeh dengan jawaban istrinya.
"Nah bener tuh yang, ayo pokoknya sampai rumah kamu langsung isi deh biar gak kesepian. Gimana?" Tawar Reno, namun istrinya tak mau.
"Lo mau nanti kalo sibuk sama Caca terus Reno ternyata main sama sekretarisnya Jev?" Ucap Melviano menakut-nakuti wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Blessing In Disguise
FanfictionKehidupan Marisca yang bebas tiba-tiba berubah dalam waktu 3 hari. Punya suami, pindah ke tempat terpencil, dan tidak memiliki pekerjaan. Namun menikah dengan Melviano tak seburuk yang ia bayangkan. Segala potensi yang ada pada diri Caca sebagai se...
