"Bisa dong, hari minggu masa kamu kerja?"
Rengekan Caca terus memenuhi pendengaran Melviano sepanjang perjalanan kembali ke kantor. Keduanya baru saja selesai makan siang. Biasanya Bianca yang akan memesankan makan secara online, namun siang itu nyonya besar menginginkan makan di restoran Chinese langganannya. Mau tidak mau tentu Melviano menurutinya, walaupun taruhannya ia harus mengundurkan rapat pemegang saham selama satu jam. Untung saja para rekannya pengertian.
Saat ini mereka sudah sampai di basement parkir kantor Melviano. Pria itu berjalan sedikit lebih cepat dari istrinya. Ia sudah hampir terlambat, menurut Bianca semuanya sudah ada di ruang rapat. Walaupun diberi kelonggaran waktu, tetap saja ia merasa tak enak hati. Nama Jayden dipertaruhkan jika ia bertindak seenaknya. Dari belakang Caca merajuk karena Melviano tak menjawab pertanyaannya tadi, ia bermonolog sendiri mengeluarkan kekesalan dalam dirinya. Ditambah pria itu malah hampir meninggalkannya jauh di belakang. Hey apakah Melviano lupa kalau istrinya ini sedang hamil besar?
"Jalannya pelan-pelan dong! Aku susah jalan!" Melviano memperlambat langkahnya dan tetap berjalan. Tak seperti biasanya, ia akan berhenti dulu menunggu Caca mensejajarkan posisinya. Tentu hal itu menyulut kekesalan Caca, ia berhenti berjalan membiarkan Melviano sadar dengan sendirinya bahwa ia tertinggal begitu jauh.
Benar saja, setelah beberapa meter berjalan Melviano membalikkan badannya. Ia menghela nafas panjang, lalu berlari kecil untuk menghampiri Caca. Kalau ditinggal malah makin ngambek nanti.
"Ayo Ca, kenapa malah diam aja disini?"
"Kamu jalannya kecepetan, aku capek mau istirahat dulu." Helaan nafas panjang lolos lagi dari bibir Melviano. Pria itu melirik arloji di tangan kirinya.
"Udah kan istirahatnya?" Caca menggeleng pelan membuat Melviano makin kesal.
"Sayang tolong ngertiin dong, aku ada rapat ini. Manjanya ditahan dulu ya?" Melviano memasang tampang memelas, namun tetap Caca malah makin mengerutkan keningnya.
Dari kejauhan Kinan tampak berjalan mendekati mereka bersama seorang bocah laki-laki yang ia gandeng. Caca menaikkan sebelah alisnya saat Kinan benar-benar berhenti di depan mereka. Wanita itu tersenyum lebar, dan anak laki-laki di sampingnya tampak memekik kegirangan seolah mendapat hadiah bagus.
"Papa!" Keduanya terkejut saat bocah itu melompat ke gendongan Melviano. Untung Melviano sigap langsung menangkap anak laki-laki itu, sehingga ia dan bocah itu tak terjatuh.
"Kino jangan begitu dong jatuh nanti." Bocah itu terkekeh geli, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Melviano.
Jelas Melviano dan Caca kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Bahkan Melviano sampai lupa bahwa ia barusan terburu-buru untuk menghadiri rapat.
"Maaf ya papa?" Caca mendelik saat mulut kecil anak itu dengan lancarnya memanggil Melviano dengan sebutan papa. Hei, bukankah seharusnya anak mereka yang melakukan panggilan itu pertama kali pada Melviano?
"Tapi ini bukan papa." Ucap Melviano, mencoba meluruskan kesalahpahaman bocah kecil tadi.
"No! Mama bilang ini papa!" Bocah itu menaikkan nada suaranya. Marisca mendelik menatap Kinan yang tampak kikuk. Lihat sekarang Melviano malah tampak seperti seorang pria beristri 2.
"Mel maaf kayanya Kino kangen sama papanya. Ya kamu tahu sendiri kan gimana hubunganku sama papanya Kino. Tolong maklumi aja ya kalo dia panggil kamu papa." Kini Caca benar-benar melayangkan tatapan tak suka pada wanita berambut panjang di sampingnya. Apakah ia tak terlihat di mata Kinan sampai selancang itu?
Melviano buru-buru menurunkan bocah kecil itu saat menyadari istrinya tampak sangat kesal. Menjaga kestabilan suasana hati Caca sangat penting bagi Melviano. Soalnya kalau Caca suasana hatinya buruk, bisa jadi malapetaka bagi hidup Melviano. Tidak mau makan, tidur, diajak berbicara, pokoknya semua serba tidak mau. Terkadang Melviano sampai bingung sendiri, bagaimana bisa wanita itu berganti perasaan secepat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Blessing In Disguise
Fiksi PenggemarKehidupan Marisca yang bebas tiba-tiba berubah dalam waktu 3 hari. Punya suami, pindah ke tempat terpencil, dan tidak memiliki pekerjaan. Namun menikah dengan Melviano tak seburuk yang ia bayangkan. Segala potensi yang ada pada diri Caca sebagai se...
