Pagi ini keduanya sudah disibukkan dengan kesibukan keduanya masing-masing. Namun salah satu dari mereka ada yang cemberut, merenggut, dan cemburu. Bagaimana tidak, Halenta menganga melihat Celinesse yang masih setia mengelus ketiga kucing anggora dan persia nya dengan sangat manja, ketiga kucing itu juga bergenit ria pada istri nya. Ia ingat betul saat ia bertanya jika ketiga kucing itu berjenis kelamin apa, lalu dijawab oleh Celinesse bahwa ketiga kucing itu berjenis kelamin laki-laki. Mengingat itu semakin membuatnya terbakar api cemburu.
Halenta menahan kecemburuan dengan memakan sarapan roti tawar dibaluri selai srikaya, memakannya dengan sekali suap dan segelas susu putih hangat tandas hingga tak tersisa. Kemudian ia terbatuk saat melihat kucing tersebut mencium pipi dari istrinya itu. Dengan cepat ia menarik sang istri agar mendekat ke arahnya. Dan itu membuat Celinesse terkejut.
"Aku ingatkan agar kamu nggak kelupaan tentang ucapan kamu semalam. Aku tagih ucapan itu. Selesai aku dari kantor, aku bakal antar kamu ke rumah temanmu itu."
"Aku bakal pergi sendiri. Dan aku izin menginap, boleh?"
"Itu tidak mungkin, Sayang. Tunggu aku atau ketiga kucing kamu bakal aku jual."
"Dan itu bukan pertanyaan." ucap Celinesse sebal lalu memutarkan kedua bola matanya.
"Good! Dan jangan lagi-lagi aku liat kamu memutarkan bola mata kamu kayak tadi. Kalo sampe aku liat lagi, aku bakal cium kamu sampai pingsan."
"Gila, kamu!"
Kecupan cepat tepat di bibir Celinesse membuatnya melipat bibirnya.
Kecupan kedua.
"Kamu lipat bibir gitu aku masih bisa cium kamu tuh." ungkapnya sambil menyeringai.
Celinesse kesal dan memberontak minta dilepaskan. Sedangkan Halenta tersenyum melihat tingkah kesal dari istri kecilnya itu. Dan ia tetap mengeratkan pelukan nya. Lalu berbisik.
"Jangan pergi keluar atau aku bakal kurung kamu. Mata-mata aku banyak, Sayang. Jadi, aku harap kamu mendengar ucapan aku."
"Bukan ucapan tapi itu ancaman!" kesal Celinesse dengan sang suami, masih pagi seperti ini Halenta sudah membuatnya kesal setengah mati.
Ia tau bahwa sang suami sangatlah posesif dan bisa dilihat sendiri bagaimana lagi kan orangnya, sangat mendominasi untuk dirinya. Semuanya harus dituruti, bahkan itu bukanlah sebuah ucapan tetapi ancaman. Dan itu juga bukanlah pertanyaan tetapi pernyataan. Terakhir, itu adalah perintahnya dan tidak boleh melanggar ataupun menolak.
Bahkan pernah sesekali Celinesse di kunci di dalam rumah hanya karena waktu itu ia pergi keluar bersama teman-teman kerjanya. Yang membuat dirinya sekarang tidak boleh bekerja kembali. Ia sudah mati kesal. Bahkan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti kemauannya.
**
Siang harinya, Celinesse bertelponan dengan Zoya. Membuat sang suami yang juga ikut telpon tak dapat tersambung. Dan hal itu membuat Halenta mengamuk di kantor. Sedangkan Celinesse masih terus bercanda ria dengan Zoya. Keduanya menceritakan hal apapun yang membuat keduanya tak berhenti tertawa.
"Aku anak satu aja belum ada." ucapnya dengan nada rendah.
"Disabar terus hatinya ya, Cantik. Nanti kalo Tuhan sayang, siapa tau nanti langsung dikasih dua. Mantep nggak tuh?!" Zoya cekikikan sesekali ia sambil berbicara dengan anaknya.
"Kamu mau nambah lagi nggak, Kak?"
"Boleh, si, kalo dikasih lagi. Kan, banyak anak banyak rezeki." cekikikan nya lagi. "Jangan sedih, nanti kucingnya dititipin ke aku nanti hamil loh." ungkapnya membuat Celinesse tertegun. "Semangat, Tuhan sayang sama kalian berdua. Aku yakin Tuhan bakal kasih buat hambanya yang terkasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
HALENTA (Completed)
Roman d'amour^Blurb^ [16+] Halenta. Adalah seorang cowok dingin yang sangat manis. Akan bersatu dengan air yang mengalir penuh rahasia kehangatan adalah. Celinesse. #31 August 2021
