28 - Acting

573 51 10
                                        


Fani membersihkan mangkuk kotor bekas makanan Aizi tadi. Matanya tak bisa memandang hal-hal kotor sekalipun pasti akan langsung ia bersihkan.

Berbicara Tentang Aizi, gadis itu berjalan sendiri keruangan Nathan. Kondisinya sudah semakin membaik setelah diberi perawatan dua hari.

Pintu ruangan terbuka dan ia menemukan Sofia tengah berdiri di ambang pintu.

"Padahal Aizi ke ruangan Nathan, kalian nggak ketemu?"

Sofia melangkah masuk.

"Aku ketemu tadi, aku kesini karena perlu sama kamu"

Fani terhenti. Ia menangkap maksud tujuan Sofia kemari untuk apa. Fani memilih acuh seolah tak paham.

"Perlu apa?"

"Aku mau bicara soal ucapan kamu waktu itu. Kamu nggak serius, kan, Fan?"

Jarum jam terasa lambat bergerak. Atmosfer mendadak pula berubah mencekam.

"Aku serius"

Jangan lupa kalau Fani itu sosok Ibu yang sangat menyayangi anaknya, ia tidak main-main jika itu menyangkut anaknya.

"Fan, tapi Aizi bisa tambah stress kalau kamu lakuin itu. Aizi udah kayak orang depresi semenjak Nathan koma mungkin kalau kamu pisahin mereka Aizi bisa depresi beneran"

Sofia mendekati Fani. Fani menatap tajam Sofia tapi Sofia menatap Fani dengan tatapan teduh menghangatkan. Sofia si mantan geng motor berubah menjadi lembut lagi.

"Jangan lakuin ini, Fan. Tindakan kamu malah akan jadi masalah baru"

Fani menghela napasnya seperti kelelahan. Fani memilih duduk di soffa karena capek berdiri.

"Duduk, Sof. Ingat tulang kamu udah mulai rapuh" Fani menepuk soffa disampingnya menyuruh Sofia duduk disitu.

"Hah?"

Ayolah, Sofia sedang serius sekarang ini.

"Udah duduk dulu, kita butuh santai sekarang"

Sofia duduk dengan buru-buru, ia menatap Fani serius.

"Fan, aku lagi bahas masalah penting soal anak-anak kita. Ini serius"

"Aku nggak budek, Sofia. Aku tahu kamu lagi bahas itu, tapi itu masalah yang nggak usah terlalu kamu pikirkan" kata Fani santai. Demi apapun kalau di zaman Sofia muda, Fani ini sudah penuh memar di wajahnya karena membuat Sofia kesal.

"Fan.."

Sofia hendak bersuara lagi tapi kemudian Fani menutup mulutnya dengan jari telunjuk.

"Aku nggak akan pisahin mereka. Kamu terlalu khawatir" ungkap Fani agak kesal.

Sofia mengerutkan dahinya, mulutnya juga mendadak cengo. Maksudnya.

"Maksud kamu?" tanya Sofia tak paham, ia takut salah dengar. Tidak lucu kalau ia sudah senang tapi malah salah dengar.

"Ya nggak jadi. Aku udah bicara sama Aizi dan hasilnya aku nggak jadi pisahin mereka"

Kejadian saat Fani meminta sesuatu pada Aizi itu membuahkan hasil manis. Keputusan sang Bunda berubah karena luluh pada putrinya.

Pembicaraan malam itu.

Flashback.

"Bunda ngomong apa? Aizi nggak mungkin pisah sama Nathan. Kenapa Bunda jadi gini?" Aizi nampak kebingungan. Raut wajahnya menyiratkan banyak kebingungan.

"Kamu gini karena pernikahan ini, kan? Andaikan perjodohan ini nggak terjadi kamu pasti nggak akan berada di posisi ini sekarang"

"Bunda nggak gitu. Jangan salahkan perjodohan ini, Bun"

NATHARAIZITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang