Bab 13 - Peringatan Awal

37 2 0
                                        

"Aku sangat terluka ketika mencintaimu dalam naungan bisu dan aku juga begitu sengsara ketika merindukanmu"

~ilma zakia~
Kenan

Sudah dua hari Adis tidak berangkat ke sekolah. Bahkan ketika di rumah, Adis hanya berada di dalam kamarnya. Selama itu pula, Husna selalu menjenguk Adis. Husna ikut merasa bersalah karena tidak bisa menemani Adis pada saat kejadian itu.

Seperti sore ini, Husna sedang berkunjung ke rumah Adis. Kedatangannya di sambut hangat oleh Mbak Nunik.

"Mbak Husna...." Sapanya.

"Assalamu'alaikum, Mbak Nunik."

"Eh, Wa'alaikumsalam, Mbak Husna." Jawabnya.

"Adis masih gak mau keluar ya, Mbak?"

"Masih, Mbak. Padahal Ibuk udah bujuk dengan berbagai cara buat Mbak Adis keluar kamar, tapi tetep aja gak mau Mbak Adisnya." Ucapnya Nunik.

Nunik izin ke belakang dan meninggalkan Husna sendiri di ruang tamu.

Husna menghembuskan nafas panjang. "Mau sampai kapan, Dis?" Tanyanya dalam sunyi.

Husna merasa rumah ini sangat sepi. Terkadang pada saat seperti ini, ada suara Omar dan Hazel yang sedang bermain di ruang tamu sembari menunggu Amar pulang dari kantor.

Ia abaikan kesepian rumah ini dan langsung pergi menuju lantai atas.

Saat masuk kamar Adis, ia disuguhkan dengan pemandangan Adis yang duduk memeluk kakinya sendiri sambil menatap langit luar dari bilik jendela.

"Dis..." Panggilnya.

Adis hanya mengangguk menatap Husna. Setelahnya, ia kembali melanjutkan lamunannya.

"Hey, Kamu mau sampai kapan? Aku tau kamu pasti masih takut, tapi kamu lupa sesuatu. Kamu masih punya Abi Amar, Umma Hazel, Kak Adit, Aku, Kak Ochad, dan masih banyak orang yang sayang kamu dan bakal ngejagain kamu."

Perlahan, Husna mendengar isak kecil dari mulut Adis.

"Aku takut, Na." Lirih Adis.

"Stop bilang gitu. Aku akan jadi pelindung kamu samapi kamu tua. Kita akan sama-sama terus dan aku pastiin kamu gak akan kenapa-kenapa. Aku gapapa jika harus terkena tembakan seribu peluru kalau itu demi kamu. Bahkan seribu peluru itu tidak ada apa-apanya sama kebaikan keluarga kamu untuk aku dan nenek. So, kamu gak boleh sedih lagi. Oke?"

Adis tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan dari sahabatnya itu.

"Dan aku gak akan pernah buat sahabat aku terkena ribuan peluru itu. Aku tak akan pernah membiarkan sahabatku terkapar demi aku, karena aku ingin sahabatku yang cantik ini selamanya tersenyum."

Mereka saling memeluk satu sama lain dan tertawa ceria. Dari arah luar, Adit tersenyum senang melihat tawa adiknya dan sahabatnya.

"Aku tahu kamu bisa buat dia tertawa, Na. Tunggu aku. Aku akan membuatmu selalu ada disampingnya sampai kapanpun." Lirihnya.

Saat ini, Kenan sedang berada diatas motornya menatap jendela yang terbuka dan menampilkan dua perempuan yang sedang tertawa bahagia.

"Tetaplah seperti ini, Dis. Wanita secantik kamu tidaklah pantas disapa oleh air mata apalagi lara yang membuat senyum dan tawa itu hilang."

Sesudah puas menatap gelak tawa Adis, Kenan melajukan motornya ke suatu tempat.

Motornya melaju dengan kecepatan sedang. Ia merasakan ada yang mengikutinya dari arah belakang, namun ia mengabaikan itu. Ia tahu siapa yang sedang membuntutinya saat ini.

KENAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang