Dimas menatap nanar penampilan anaknya tersebut, Bryan. Jauh dari kata rapih dan kondisinya ada beberapa luka yang memenuhi sekujur tubuhnya.
" PUAS! PAPAH PUAS LIAT BRYAN HANCUR!!." Teriak Bryan di rumah yang sudah lama tak ia kunjungi.
Ayu hanya menatap Bryan malas." Kamu gak punya sopan santun sekali datang, teriak teriak gak jelas gini." Ucap Ayu.
Bryan menatap tajam Ayu." Gue gak ada urusan sama lo." Sentaknya.
Dimas menghampiri Bryan dan menepuk pundaknya pelan." Ikut papah." Ucapnya dingin.
Bryan bergeming namun sebelum itu suara bentakan kembali terdengar. " IKUT PAPAH SEKARANG!!." Bentak Dimas. Ayu hanya menatap sinis kedua pria yang berbeda generasi tersebut.
" Awas aja kamu Bryan." Batin Ayu.
Bryan menyusul Dimas yang sudah lebih dulu pergi menuju Ruang kerjanya.
" Duduk!." Suruh Dimas. Bryan hanya mengikuti semua perintah Dimas dan menggelamkan kepalanya dimeja kerja Dimas.
" Kamu! Maksud kamu apa Bryan? Penampilan kamu acak acakan kaya gini."
" berantem lagi? Tawuran lagi? itu aja kemampuan kamu!."
" Ingat kamu itu anak Dimas Alaska, pemilik saham terbesar di perusahan Asia."
Bryan terkekeh lirih." Anak? Emangnya mereka pada tau kalo aku anak papah."
" Enggak kan."
" Jadi papah tenang aja, Bryan gak bakal ngerusak reputasi seorang Dimas Alaska dimata publik." Sambung Bryan.
Dimas menatap tajam." Cepat katakan apa mau kamu."
" Berbulan bulan gak pulang, sekali pulang dengan penampilan acak acakan kaya gini."
Dimas yang melihat respon Bryan hanya terdiam tidak menjawab pertanyaannya, ia merasakan emosi yang membara.
" Jangan bikin papah lepas kendali Bryan." Sambungnya pelan setelah menetralkan emosinya.
Bryan menatap Dimas dengan pelupuk mata yang menggenang." Papah kenapa lakuin ini sama Bian."
" Papah tau? Bian anak yang asal usulnya gak jelas. Tapi kenapa papah...." ucap Bryan dipotong oleh Dimas.
" Kamu memang gajelas asal usulnya! tapi kamu anak saya. Tapi saya gak mau mengakui kamu anak saya kepada publik, karena kamu....."
" Kamu apa? Penyakitan pah." Ucap Bryan tersenyum pedih. Sudah ketebak pungkirnya.
" Bisa bisa rusak reputasi saya di mata rekan bisnis saya!." Ucap Dimas.
Dimas mengakui kalo Bryan anaknya, Namun masa lalu yang membuatnya,Enggan menguak ke publik kalo Bryan adalah anaknya.
Tes.. air mata menetas dari mata lengam
Bryan." Sekali aja pah."
" Hampir seumur hidup Bryan gak pernah rasain kasih sayang orang tua Bian."
Bryan meringis pelan ketika menyebut dirinya dengan nama Bian, karena itu kenangan yang ia miliki bersama Dimas ketika Ia di tinggal sendiri di Mansion.
Flashback on
Anak kecil 5 Tahun merengek didekapan seorang pembantu, Anak kecil itu berjenis kelamin laki laki.
" Bi Bian mau ikut Papah....." ucap Bryan kecil.
" Papah aden berangkat kerja dulu ya, nanti pulang kok." Ucap Bi inah menenangkan Bryan kecil.
