𝓓𝓸𝓴𝓽𝓮𝓻 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓲𝓪𝓰𝓷𝓸𝓼𝓲𝓼 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷
𝓣𝓾𝓱𝓪𝓷 𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓾𝓪𝓼𝓪 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪
"Sejak saat itu aku mengenal Kak Alva"
"Dengan sejuta kebohongan yang ia tutupi dari ku dan orang-orang t...
Suasana kamar yang gelap dan tenang. Sudah lama ia tidak memandangi langit-langit kamarnya yang penuh bintang-bintang berwarna dan bercahaya.
Dalam hati "sudah lama sekali ternyata aku tidak melihatnya" sambil memandangi atas dengan tersenyum-senyum sendiri. Azhima memejamkan matanya dan tertidur pulas.
><
"Apa?" Sontak Azhima berdiri usai shalat tahajud nya akibat melihat postingan di ig. Beberapa hari ini ia tidak memainkan handphone nya, karena suasana duka. Wajar saja, saat sekali online, langsung bermunculan berbagai notifikasi. Postingan yang berisi poster yang telah lama terposting juga ikut muncul. Ternyata hari ini kesempatan terakhir pendaftaran kejuruan. Sebab itu yang membuat Azhima pagi-pagi sudah kena pukul abis.
Azhima mulai bergegas membereskan barang-barang nya untuk pulang ke Bogor. Andai ia tidak ceroboh dengan selalu memantau media sosial dan informasi tentang pendaftaran kejuruan itu. Pasti ia tidak terburu-buru seperti ini.
Azhima keluar dengan membawa barangnya. Ia meninggalkan sebentar dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat segar. Melihat ibunya, yang sedang memasak di dapur, ia langsung menghampirinya.
"Ibu. Maaf banget Bu. Azhima harus berangkat ke Bogor. Maafin Azhima ya Bu" dengan tergesa-gesa, ia berpamitan dan mencium tangan ibunya.
"Lo, kok mendadak banget. Ada apa?" mengikuti langkah Azhima yang keluar menuju depan rumah.
"Maafin Azhima ya Bu. Nanti Azhima ceritain kalo Azhima udah selesai urusannya." "Ibu juga ga perlu khawatir" menaiki ojek online yang telah datang.
"Assalamualaikum Bu" melambai kepada ibunya dengan memasang senyuman selebar mungkin. Sampai bibir menipis.
Sesungguhnya Azhima masih ingin menemani ibunya. Namun, untung saja tahlilan tujuh hari untuk almarhum bapaknya sudah selesai. Dan ia telah berjanji kepada almarhum bapaknya untuk menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan orang-orang. Ia tak ingin menyia-nyiakan nyiakan kesempatan ini. Secara juga, ia ingin berkuliah di universitas tempat Alva belajar. Bukan karena adanya Alva. Namun karena keinginan dari hati Azhima sendiri. Lagipula ia sudah nyaman dan sulit juga menemukan kos-kosan baru dan tetangga yang baik seperti tetangga-tetangganya.
><
Terdapat banyak calon mahasiswa yang terdampar di teras menunggu untuk mendaftar. Antrian yang sangat panjang bagaikan ombak terjang tanpa putus.