𝓓𝓸𝓴𝓽𝓮𝓻 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓲𝓪𝓰𝓷𝓸𝓼𝓲𝓼 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷
𝓣𝓾𝓱𝓪𝓷 𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓾𝓪𝓼𝓪 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪
"Sejak saat itu aku mengenal Kak Alva"
"Dengan sejuta kebohongan yang ia tutupi dari ku dan orang-orang t...
Pak Tomi yang sedang siap-siap pergi ke masjid, tak sengaja melihat Azhima yang datang tiba-tiba. Ia menghampiri Azhima yang wajahnya terlihat letih usai dari luar.
"Zima?" Terkejut sekaligus heran. "Sejak kapan kamu kembali ke kosan?" Menatap kebingungan badan Azhima dari bawah ke atas. Kanan ke kiri. Azhima menceritakan singkat. Bahwa ia sudah kembali sejak dari pagi, saat kosan masih sepi.
Pak Tomi mengucapkan belasungkawa kepada Azhima atas kepergian bapaknya di pangkuan Tuhan. Azhima mengangguk pelan dan berterima kasih atas perhatian dan pengertiannya.
Azhima mulai memainkan alat elektronik tipis nya yang sudah seharian penuh belum sempat ia pegang. Saat ia menyalakan datanya, seketika beberapa notifikasi muncul di bar layar handphone nya tanpa jeda ataupun koma. Ia hanya bisa terdiam kesal melototi notifikasi yang terkirim. Tak mengira akibatnya akan seperti ini.
Pusat notifikasi yang paling menduduki peringkat pertama yaitu di WhatsApp. Salah satunya di chat grup kelas 12 Akuntansi. Chat yang berisi konflik-konflik yang tidak terlalu penting. Sering saja dikirimkan oleh teman-temannya yang kurang kerjaan. Hanya keusilan yang unik. Tiba-tiba ada pesan memiliki nama Universitas Pakuan lewat WhatsApp nya. Tentang pengumuman kelulusan jurusan kedokteran.
Tiba-tiba jantung Azhima berdegup kencang. Matanya melotot seakan ingin keluar. Berharap diterima dan lolos di jurusan kedokteran. Semua doa telah keluar dari mulutnya. Sangat berharap bisa diterima di jurusan kedokteran. Tak butuh waktu lama ia langsung membuka file yang dikirimkan itu. Jantungnya semakin berdetak kencang. Tangannya dingin seketika.
"Bismillah, bapak ibu, semoga Zima keterima" dengan berharap restu kepada almarhum bapak dan ibu nya yang tak ada kehadirannya sama sekali. Namun ia yakin mereka pasti merestuinya. Jika hadirnya tak ada maka doanya selalu menyertai anak semata wayangnya. Ia mengklik file itu dengan jari yang bergetar dingin.
"Aaaaaa. Ya Allah" refleks ia menjerit menyebut nama Tuhannya. Ia melompat-lompat kegirangan kesana-kemari. Seperti orang tidak waras. Dihiasi tawa lepas yang terukir dalam di wajahnya yang manis. Tidak menyangka akan diterima di jurusan kedokteran. Ia bersujud syukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan doanya. "Alhamdulillah ya Allah.... Makasih."
Malam itu Azhima sangat senang dan tertawa sangat lepas. Hingga tetangga-tetangga samping kamarnya datang berlarian menuju ke kamar Azhima. Mengira ada sesuatu. Atau kejadian buruk yang menimpa Azhima. ''Ada apa?'' tanya Ririn. ''Saya keterima di jurusan kedokteran mbak Rin'' melotot tersenyum.