𝓓𝓸𝓴𝓽𝓮𝓻 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓲𝓪𝓰𝓷𝓸𝓼𝓲𝓼 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷
𝓣𝓾𝓱𝓪𝓷 𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓾𝓪𝓼𝓪 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪
"Sejak saat itu aku mengenal Kak Alva"
"Dengan sejuta kebohongan yang ia tutupi dari ku dan orang-orang t...
"Tio. Aku ijin nggak berangkat dulu. Ada urusan penting." "Urusan apa Va? Sepenting itu? Mana Lian nggak berangkat lagi. Sekarang lo juga ikutan nggak berangkat." "Sehari aja. Nggak seumur hidup, udah titip ya. Thanks." "Iya oke."
Hari ini Alva izin tidak berangkat ke kampus, karena ada jadwal kemoterapi. Mau tidak mau Alva harus mengikuti prosedur dari dokter Erwin, agar dapat mencegah penyebaran yang semakin hari semakin ganas.
Saat Alva menuju ke garasi mobilnya untuk berangkat, handphone nya berdering seperti ada yang menelponnya, ternyata itu Tiara sahabat Azhima.
"Kak Alva tau kan perasaan Azhima ke Ali si anak hukum itu?" "Terus?" "Ih, Azhima kemarin nyatain perasaannya ke Ali." "Ya terus?" "Diem dulu bisa nggak sih?" Pinta Tiara sebel.
"Ali itu udah kasih perhatian lebih ke Azhima, udah kayak pacarnya gitu. Tapi, semua yang ia kasih ke Azhima hanya sebatas teman. Ya mana mungkin Azhima yang baperan orangnya, nggak bakal kebawa sama perhatian itu." Celetuk Tiara panjang.
"Pas kemarin lagi ngasih kejutan ke Ali dan ngungkapin perasaannya. Malah si Ali bawa tunangannya." "Azhima ya sedih, kecewa, nangis, emosi. Sekarang dia lagi sakit, sendirian di kos"
"Sekarang kamu tahu Ali dimana?" "Kemarin Ali kelar lulus skripsian. Mungkin lagi kerja. Aku kirim alamat tempat kerjanya."
Alva bergegas menemui Ali sambil mengotak-atik handphone nya. Menelfon seseorang. "Doktor Erwin, saya hari ini nggak bisa. I'm really sorry. Maybe another time" sambil masuk kedalam mobilnya. "Nggak bisa gitu Alva. Alva" pekiknya dari telfon.
Alva langsung masuk ke tempat kerja Ali, juga tempat kerjanya Azhima yang pernah diberitahu Azhima. "Ini kan tempat kerjanya Azhima. Jadi dia satu_" bergegas membuka pintu. Ia bertanya pada kasir. Dimana Ali? Pelayan kasir menunjukkan keberadaan Ali yang ada di dapur. Alva langsung menarik baju Ali, mengajaknya ke depan toko.
"Kamu siapa?" Menepis tangan Alva dari bajunya.
"Minta maaf" pinta Alva datar. "Maksudnya apa?" Kebingungan. "Kamu sudah permainkan perasaan Azhima. Udah bikin dia nangis sampek sakit" jelasnya dengan keras. "Aku nggak ada niat untuk membuatnya baper. Aku memang orangnya begini" jelasnya. "Bagaimana bisa Azhima tidak baper dan suka sama kamu, kalo kamu udah beri dia perhatian yang lebih. Kalo kamu tahu akibatnya" sambungnya "seharusnya kamu ga perlu kasih perhatian segitunya. Apalagi kamu sudah punya tunangan". "Dia perempuan, sewajarnya hati perempuan bisa lumpuh hanya dengan sebuah perhatian manis sekecil biji sawi" puitisnya.
"Sekarang aku ingin kamu minta maaf ke Azhima dan jelaskan semuanya" pintanya dengan napas tersengal-sengal.
"Baik. Aku akan minta maaf sekarang juga" menyetujuinya. Alva melepas cengkraman tangannya dari kerah baju Ali. Setelah itu, mereka pergi menemui Azhima untuk memberi kejelasan.