𝓓𝓸𝓴𝓽𝓮𝓻 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓲𝓪𝓰𝓷𝓸𝓼𝓲𝓼 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷
𝓣𝓾𝓱𝓪𝓷 𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓾𝓪𝓼𝓪 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪
"Sejak saat itu aku mengenal Kak Alva"
"Dengan sejuta kebohongan yang ia tutupi dari ku dan orang-orang t...
"Va, Lo ada perlu sama Azhima?" Bergegas menelpon Alva. "Nggak ada, emangnya ada apa?" "Kayaknya dia mau kerumah lo deh." Alva yang mendengarnya sontak terkejut. "Permisi. Assalamualaikum" didengarnya dari dapur.
Alva nyengir kesal. "Kamu kenapa nggak telpon aku dari tadi?" Langsung mematikan sambungan dari Tio.
Ia bergegas menghampiri asal suara itu. Alva dengan sigap mengunci pintu luar yang dibaliknya terdapat Azhima yang berdiri.
"Permisi. Maaf kok dikunci? Kak Alva ya? Kok dikunci sih kak?" Sambungnya dengan mengetuk-ngetuk pintu "kak tolong aku. Ini penting, super gawat" mengambil napas "tolong kak. Jujur aku nggak mau ketergantungan terus sama kak Alva. Tapi aku udah berusaha cari semua materinya di perpus, di medsos, di koran. Tetap aja hasilnya nihil kak" terdiam lalu merengek. "Kak..... Bantuin ya" memohon-mohon belas kasihnya.
Alva yang duduk santai di sofa sangat tidak peduli. Ia tidak mau lagi membantunya. "Kak......" Mendengar keluhan Azhima, Alva merasa tidak tega. Lalu ia berdiri dan mendekat ke pintu.
Alva berbicara dibalik pintu "nggak mungkin materinya nggak ada. Pasti ada. Lagipula, kamu juga pinter anaknya. Masa gampang nyerah gitu aja?" Memberi semangat ke Azhima dengan nada datar. "Bener kak. Aku udah cari ke semua laman. Tetep aja nihil" sambungnya "kalo aku tahu, pasti aku juga nggak akan kesini dan ninggalin sisa mata kuliah" tergesa-gesa.
"Kak janji. Ini yang terakhir" keluar saja dari mulut Azhima tanpa berpikir dua kali. Ia sadar dan menutup mulutnya.
Alva kaget dengan ucapan Azhima sebelumnya, lalu membukakan pintu untuk Azhima. "Kamu ninggalin sisa mata kuliah?" Azhima mengangguk benar. "Kamu ini_"
"Masuk" pintanya datar.
Mau bagaimana lagi. Alva terpaksa membantu Azhima. Lagipula Azhima sudah mengorbankan sisa mata kuliahnya untuk datang mengerjakan tugasnya. Tugas yang selalu mendadak.
Azhima sedikit tersenyum lega mendengarnya. Ia mengangguk berterimakasih.
"Inget" sambil jalan "ini yang terakhir. Setelah itu nggak ada lagi" tegasnya. Azhima menurut karena ucapannya yang jiplak begitu saja.
Mereka berhenti. "Tunggu bentar" berdiri menunggu di depan kolam.
Sampai Alva datang membawa setumpuk buku. "Kenapa harus disini kak?" Sambungnya "nanti kalo tugas pengerjaannya jatuh kedalam kolam gimana kak? Kan basah jadinya!" "Sambungnya "Terus kalo jatuh beneran siapa yang mau ngambil? Aku? Nggak. Kak Alva? Nahan napas aja nggak kuat" Ngegas di kata akhir. "Udah. Nggak usah banyak ngomong" sambungnya "nggak akan jatuh."