𝓓𝓸𝓴𝓽𝓮𝓻 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓲𝓪𝓰𝓷𝓸𝓼𝓲𝓼 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷
𝓣𝓾𝓱𝓪𝓷 𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓾𝓪𝓼𝓪 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪
"Sejak saat itu aku mengenal Kak Alva"
"Dengan sejuta kebohongan yang ia tutupi dari ku dan orang-orang t...
Setelah mencuci wajahnya dan mematikan keran, Alva mengambil handuk untuk mengelap. Ia mengaca pada cermin lebar yang di depannya. Sambil memandang wajahnya sendiri, lalu masih terpikirkan oleh pertengkaran Vano dan Vatma. Juga tentang hidupnya yang kini tengah dimasuki seseorang begitu saja. Azhima.
Alva ngelamun dengan sosok dirinya di kaca. Memandangi wajahnya. Tiba-tiba cairan merah segar keluar mengalir dari kanan lubang hidungnya.
Darah itu mengalir dan menetes di atas wastafel. Lalu telapak tangannya menengadah dan tertetesi oleh darahnya. Segera ia membasuh asal keluarnya darah.
Setelah membasuh bersih, ia terdiam merenungkan ada apa dengannya. Seketika terdiam kembali. Lalu ia pergi dari hadapan kaca.
Terduduk di atas ranjang. Wajahnya terlihat bingung, bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi padanya? Setelah kejadian-kejadian yang menyerang tubuhnya akhir-akhir ini.
Tidak tinggal diam saja, ia terbangun menuju rak yang dipenuhi buku-buku pengetahuan tentang kesehatan dan beberapa kamus.
Kemudian ia mengambil sebuah buku pengetahuan jenis-jenis penyakit. Setelah itu, Alva duduk di kursi belajarnya. Lalu membuka buku itu, dan dibacanya setiap halaman.
Alva tertuju pada gejala-gejala penyakit pada lembar cetak tulis. Ia membaca kembali hingga berulang-ulang kali. Lalu, teringat pada suatu penyakit yang pernah dipelajari kembali bulan lalu. Sontak ekspresinya terlihat datar, pandangannya kosong. Retina nya menatap lemah, mulai berair mata.
Menggeleng-geleng, dalam hati "nggak." Tubuhnya terpaku tidak menerima. Masih tidak percaya dan belum sepenuhnya yakin. Air matanya keluar meluncur sambil menyandarkan dadanya dalam. Menarik napas dan menghempaskan pelan.
Air matanya kembali terjatuh, Alva memikirkan apabila benar-benar memang itu dan akan separah apa nantinya. Apa yang harus ia lakukan kedepannya? Bagaimana dengan orang-orang yang ia sayang? Alva mencoba menenangkan hati walau masih terbayang di pikirannya.
Cukup lama hingga menjelang pagi, ia baru tertidur sambil duduk bersandarkan punggung kursi yang keras.
><
Alva keluar dengan terburu-buru selepas jam kampus selesai. Tio dan Lian yang melihatnya sudah lama menunggu kedatangan Alva yang berjanji lama untuk nongkrong selepas kuliah. Lalu keduanya menghampiri Alva.
"Alva" teriak Tio yang mengarah ke Alva. Melihatnya, Alva menghentikan langkahnya untuk berbicara sebentar. Sejak keluar dari kelas pelajaran terakhir. Alva sangat terlihat terburu-buru. Tidak mempedulikan Tio dan Lian. Padahal mereka sudah ada janji.