Bab 25

9 2 0
                                    

ᴀꜱꜱᴀʟᴀᴍᴜᴀʟᴀɪᴋᴜᴍʜᴀɪ ꜰʀɪᴇɴᴅʟʏ 👋••ᴶᵃⁿᵍᵃⁿ ᴸᵘᵖᵃ ⱽᵒᵗᵉ ʸᵃ⭐ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᴹᵉᵐᵇᵃᶜᵃ

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ᴀꜱꜱᴀʟᴀᴍᴜᴀʟᴀɪᴋᴜᴍ
ʜᴀɪ ꜰʀɪᴇɴᴅʟʏ 👋


ᴶᵃⁿᵍᵃⁿ ᴸᵘᵖᵃ ⱽᵒᵗᵉ ʸᵃ⭐
ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᴹᵉᵐᵇᵃᶜᵃ

><

Hari ini Alva izin tidak masuk kampus dulu, sebab kemarin malam penyakitnya kambuh lagi. Seharusnya ia dirawat di rumah sakit, namun ia menolaknya. Alva bersikeras pada Vatma bahwa ingin cepat menyelesaikan skripsi dan sidang. Agar ia cepat meraih mimpinya menjadi dokter yang dapat menolong setiap insan yang membutuhkan kesehatan.

Di dalam kamar, Alva belajar menyiapkan berbagai materi dengan tertancap kan jarum infus di punggung tangannya. Karena kondisinya yang semakin melemah setiap harinya.

Didepannya disiapkan setumpuk buku yang tebal-tebal, teringat pada saat ia memberi setumpuk buku yang sama pada Azhima saat datang belajar di rumahnya. Ingatan itu cukup membuatnya tersenyum sedikit, menghapus sakit yang masih ia rasa saat ini.

Tidak sengaja menatap foto-foto polaroid yang tergantung dihiasi lampu kuning kelap-kelip. Foto-foto saat kemarin di Jungleland.

Lalu beralih menatap ke samping. Terdapat beberapa foto kenangan dengan sahabatnya Tio dan Lian. Saat itu, Alva teringat pada satu sahabatnya yang lama sekali tidak bertemu dan berbicara, Lian.

Alva sudah mencoba berkali-kali untuk menghubungi Lian, menemui ke rumahnya, mendekati saat di kelas. Namun, semua usahanya sia-sia. Lian malah berusaha menjauh dan semakin menjauh.

Jika mereka tidak mengetahui penyakit Alva, seharusnya disaat-saat ini kedua sahabatnya hadir di sampingnya seperti dulu. Tertawa bareng, bertukar cerita, bisik-bisik tetangga. Setidaknya ada, sebagai penghibur Alva yang tengah berjuang.

Teringat tuduhan Lian  yang ternyata benar sesuai kenyataan. Alva sangat merasa bersalah. Berniat selesai mengerjakan skripsi, hari ini ia akan mengunjungi makam ibunya Lian.  Sebab, hanya dia orang yang belum sempat melayat ke makam orang tua sahabatnya.

Saat kehabisan ide untuk menyusun kata-kata, ia melihat kearah bola lampu kristal pemberian Azhima yang tidak menyala.

Alva terbangun mengarah ke lampu itu untuk menghidupkannya. Ditengah perjalanan ia kehilangan keseimbangan, semuanya tidak bisa terkontrol seperti biasanya. Lalu ia terjatuh berteriak lantang sebab sakit yang semakin menusuk. Sampai terdengar keluar dan hingga pak satpam datang.

Alva setengah sadar saat dibopong ke atas ranjang. Tubuhnya lemas dan sakit. Pak satpam berniat untuk menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Alva. Namun, Alva menolaknya. Ia berkata, jika ia baik-baik saja, hanya butuh istirahat. Jika begitu, pak satpam akan memanggil papa dan mamanya. Alva juga menolaknya, karena tidak ingin mengganggu dan merepotkan mereka. Pak satpam menurut saja dan pergi mengambilkan air untuk Alva.

Cukup lama setelah pak satpam pergi, tiba-tiba saja Tio datang begitu saja ke kamarnya. Awalnya Tio sudah mengetuk pintu, namun Alva pikir itu adalah pak satpam yang kembali membawa air. Sontak keduanya saling terkejut. Tio terkejut dengan mata melebar melihat Alva yang terbaring ditempat tidur dengan tangan terpasang selang infus. Dan Alva terkejut melihat kedatangan Tio secara tiba-tiba dari balik pintu yang pikir pak satpam.

AlvandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang