𝓓𝓸𝓴𝓽𝓮𝓻 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓲𝓪𝓰𝓷𝓸𝓼𝓲𝓼 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷
𝓣𝓾𝓱𝓪𝓷 𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓾𝓪𝓼𝓪 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪
"Sejak saat itu aku mengenal Kak Alva"
"Dengan sejuta kebohongan yang ia tutupi dari ku dan orang-orang t...
"Hai Kiki, sudah pulang?" Menyapa ceria. "Iya kak Zima. Gimana kak hasilnya, kak Zima pasti lulus bukan? Kak Zima kan pintar" menunggu kabar. Tiba-tiba ada suara telfon dari saku Azhima. ''Sebentar ya Kiki'' sembari mengingat nomor telepon tanpa nama itu.
"Assalamualaikum Azhima.'' "Waalaikumsalam, iya siapa? "Ini mbok de Azhima." "Mbok de Nur?" "Ya ampun apa kabar mbok? Azhima sudah lama ga dengar suara mbok."
Azhima sangat semangat karena lama tak mendengar suara dari bude Nur. Akhirnya yang ia inginkan terwujud juga. Bisa kontak kembali dengan keluarga yang di rindu berbulan-bulan.
"Kamu diam dulu ya, dengerin baik-baik omongan mbok."
".....''
"Bapakmu sakit. Semalam dibawa ke rumah sakit. Kamu pulang ya"
Azhima terdiam sebentar.
"Bapak....Bapak sakit apa mbok. Kenapa baru cerita?"
Nada semakin rendah.
"Kami ingin cerita, tapi kami sulit mendapatkan nomor kamu. Kamu pulang ya. Bapak mu butuh kamu ada disampingnya."
Mendengar itu, Azhima kembali terdiam dengan mata berkaca-kaca.
"Iya mbok, aku pulang sekarang juga." "Assalamualaikum." "Wa'alaikumussalam" Suara telepon dimatikan "ti...."
"Kiki, kakak pergi dulu ya" bergegas lari dengan mata yang berlinang air mata. "Ada apa kak?" Tanpa jawaban.
Azhima langsung berkemas membawa sedikit barang yang ia butuhkan. Tidak banyak, hanya yang penting-penting saja. Ia langsung pergi dan mengunci pintu kosannya. Berlari dan memesan taksi. Wajahnya sangat khawatir dengan keadaan bapaknya.
Ia menunggu taksi dengan menangis tersedu-sedu. Bukannya kabar baik yang datang, malah kabar buruk yang ia terima setelah lamanya menunggu.
Saat ada mobil berhenti di depannya, ia pikir itu taksi yang ia pesan. Tanpa ragu ia masuk "pak tolong ke bandara. Cepat ya pak" dengan tergesa-gesa dan suara membesar. Tapi itu bukan taksi yang ia pesan.