bab 1 6

12 2 0
                                    

ᴀꜱꜱᴀʟᴀᴍᴜᴀʟᴀɪᴋᴜᴍʜᴀɪ ꜰʀɪᴇɴᴅʟʏ 👋••ᴶᵃⁿᵍᵃⁿ ᴸᵘᵖᵃ ⱽᵒᵗᵉ ʸᵃ⭐ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᴹᵉᵐᵇᵃᶜᵃ

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ᴀꜱꜱᴀʟᴀᴍᴜᴀʟᴀɪᴋᴜᴍ
ʜᴀɪ ꜰʀɪᴇɴᴅʟʏ 👋


ᴶᵃⁿᵍᵃⁿ ᴸᵘᵖᵃ ⱽᵒᵗᵉ ʸᵃ⭐
ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᴹᵉᵐᵇᵃᶜᵃ

><

"Kak Alva? Secara tidak sengaja Azhima bertemu Alva yang duduk di halte bus saat ingin pulang. Azhima duduk disamping Alva mulai mengajaknya berbicara. Sebab terlihat sekali wajah Alva lesun.

"Kak Alva ngapain disini?" "Dijawab kak!" Hampir frustasi. "Masih mikirin kejadian mama dan papa kak Alva? Tanyanya ragu. Tapi, bukan itu yang ada dipikiran Alva saat ini.

"Boleh nyandar bentar nggak?" Saut Alva lemah. Seperti tidak punya tenaga. Azhima terdiam sejenak. Memilih antara kata boleh dan nggak.

Azhima menggerakkan tangannya dan merangkul pundak Alva. Lalu menyandarkannya dibahunya penuh kelembutan.

"Maaf kak. Nggak bisa ngertiin" pinta Azhima mencoba memahami masalah Alva saat ini. "Kalo aku pergi. Mama dan papa akan tetep begitu atau makin_"

"Kak!" pekiknya memotong. "Kak Alva harus percaya. Takdir nggak seburuk yang kak Alva katakan barusan." Saat bus mulai datang, Alva menegakkan kembali dadanya.

Ada-ada saja yang mengganggu dua insan yang lagi adem-ademnya.

"Udah. Busnya udah dateng. Aku mau pulang dulu kak. Udah ditungguin mbak Rani di kosan" meninggalkan Alva yang masih diam seperti patung.

Setelah Azhima duduk di dua bangku kosong. Tiba-tiba saja Alva datang dan menduduki bangku disebelahnya. Azhima menolehkan kepala. Dikagetkan dengan kedatangan Alva secara mendadak disampingnya.

"Kak Alva?!" Bingung sekaligus mengernyit. "Kok kak Alva ada disini?" "Pak de nggak bisa jemput." Pak de, supir pribadi Alva.

Mendadak saja nggak bisa jemput sebab mobilnya lagi di servis, tadi setelah dari kampus. Mobil Vatma juga dipakai sendiri. Mobilnya Alva lagi masih di bengkel. Karena ulah Tiara kemarin pas ospek. Jadi terpaksa ia harus pulang naik bus.

Azhima mengangguk paham.

Alva ingin menyampaikan sesuatu pada Azhima. Namun ia masih saja ragu.

Beberapa menit berlalu. Azhima mulai ngantuk sampai tertidur dipundaknya Alva.

Alva benar-benar canggung saat pundaknya tersandar oleh wanita. Tidak pernah ia sedekat ini dengan wanita lain. Vatma saja nggak pernah. Alva berdiam membiarkan Azhima tertidur dibahunya. Mungkin ia tengah lelah dengan materi di jurusan kedokteran.

Sekali ia memandang wajah manis Azhima. Begitu indah dibayangkan. Alva tersenyum-senyum sendiri. Lalu tertawa tipis namun sangat manis. Segera ia tersadar dalam hanyut itu.

Baru bus berhenti di halte selanjutnya, Alva tidak enak untuk membangunkan Azhima. Terpaksa ia harus membangunkan. Takut salah pemberhentian. Jika memang berhenti disini, Azhima harus segera turun.

AlvandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang