Tiada gading yang tak retak, artinya tak ada sesuatu yang benar-benar sempurna. Kalimat itu bukan hanya sekedar pribahasa, namun memang benar adanya.
-Utuh bukan berarti sempurna-
••••
Ansel, cowok tampan, berotak encer, yang terlahir dari sendok em...
Sebelum lanjut janlup klik bintangnya dulu yaaaa...
Happy reading guys!! Enjoy!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
◾◽◾
Ansel menatap kepergian mobil fortuner hitam milik Pak Broto yang baru saja melesat secepat kilat meninggalkan area sekolah, membawa Deon, anak kelas dua belas yang menjadi korban kemarahan Arsel hari ini ke rumah sakit. Napas yang tak beraturan itu Ansel atur ritmenya, diseka pula cucuran keringat yang mengalir dipelipis cowok itu.
Entah karena alasan apa Arsel bisa semarah itu pada kakak tingkatnya sampai-sampai membuat Deon babak belur dengan luka dibagian kepala, bahkan Deon tak sadarkan diri setelah mendapat pukulan telak diperutnya.
"Ansel, bisa Ibu bicara sebentar sama kamu?" Itu suara Bu Heti, guru BK yang tadi ikut andil melerai perkelahian.
Tanpa banyak bicara Ansel menganggukkan kepalanya dan berjalan mengekor di belakang Bu Heti. Ansel duduk di sofa ruang kepala sekolah, disana sudah ada Pak Tama yang menunggu.
"Ansel, bapak tau ini masalah Arsel bukan masalah kamu, tapi bapak ingin bertanya sesuatu pada kamu" Prolog Pak Tama dengan nada datar.
"Apa Arsel pernah bilang ke kamu kalau dia ada masalah sama Deon?" Lanjut Pak Tama.
Dengan jujur Ansel menggeleng pelan, jangankan bercerita, ngobrol saja keduanya seperti tak pernah. "Arsel tidak pernah cerita apapun ke saya Pak"
Pak Tama memanggut beberapa kali. "Jujur bapak sangat menyayangkan kejadian ini. Pihak sekolah sudah memberitahu orang tua Deon dan mereka bilang akan menuntut Arsel dan juga pihak sekolah karena telah lalai menjaga muridnya. Bapak tau usia seperti kalian adalah usia mencari jati diri, tapi tetap bapak sangat kecewa hal seperti itu dilakukan oleh anak dari keluarga terpandang sekaligus donatur sekolah, Arsel juga adik dari ketua OSIS yaitu kamu sendiri, jadi benar-benar sangat disayangkan hal itu terjadi" Turur Pak Tama panjang lebar.