Tiada gading yang tak retak, artinya tak ada sesuatu yang benar-benar sempurna. Kalimat itu bukan hanya sekedar pribahasa, namun memang benar adanya.
-Utuh bukan berarti sempurna-
••••
Ansel, cowok tampan, berotak encer, yang terlahir dari sendok em...
Gimana, masih bertahan meski updatenya ga jelas banget kapan waktunya😭 makasii buat support kalian yang bikin aku gak berhenti ngelanjutin cerita ini meski udah pengen rehat dari wattpad❤
Cerita sebelah udah end tuh, sedangkan ceritanya Ansel masih diombang-ambing updatenya 😭😭 Buat yang baca ceritanya Arsel dan udah tau gimana nasib si kembar habis ini pliss tetap baca versi Ansel yaa, soalnya banyak perbedaan dalam segi penyelesaian konflik antara kembar, terus stay sampai cerita ini end yupss🤗
Oke sebelum lanjut baca jangan lupa votenya dulu yaaa
Happy reading!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
◽◾◽
Satu hati, satu misi
🍇🍇
Ansel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar cenderung pelan. Badannya yang terasa lemas dan lelah itu menjadi alasan mengapa Ansel memilih langsung pulang daripada ke rumah sakit untuk menemui Arvino. Tak tau kenapa Ansel merasa tubuhnya sakit semua, kaki, tangan dan pundaknya terasa begitu pegal, sesekali pening juga menyerang kepalanya. Untung saja Ansel masih bisa berkendara dengan selamat sampai rumah.
Semakin mendekati gerbang tinggi yang menutupi rumahnya laju mobil Ansel kian memelan, matanya mengerjap beberapa kali lalu menyipit saat mendapati sebuah mobil terparkir di depan gerbang. Dari posisinya sekarang, Ansel bisa melihat seorang laki-laki dewasa tengah bersandar pada mobilnya dengan memainkan ponsel, tak jarang netra pria itu menatap gusar ke arah rumahnya.
"Kaya gak asing" Gumam Ansel begitu mobilnya bebar-benar ia hentikan dengan jarak kurang dari 1 meter dengan mobil lelaki itu.
Ansel merunduk, mengamati lebih jelas siapa pria berpakaian kemeja dengan lengan digulung sesiku itu. Gigi Ansel seketika menggertak dibarengi dengan kedua tangannya yang mencengkeram kemudi dengan kuat saat teringat siapa laki-laki itu. Dia pria yang menjadi alasan Anya meninggalkan Arvino. Entah siapa namanya yang jelas Ansel sudah berhasil mengingat siapa pria itu karena beberapa kali Ansel sempat melihat saat dia mengantarkan Anya pulang.