Tiada gading yang tak retak, artinya tak ada sesuatu yang benar-benar sempurna. Kalimat itu bukan hanya sekedar pribahasa, namun memang benar adanya.
-Utuh bukan berarti sempurna-
••••
Ansel, cowok tampan, berotak encer, yang terlahir dari sendok em...
Ada yang udah nunggu chapter ini??? Gimana part sebelumnya??
Semoga kalian gak bosen dan cerita ini jadi teman malan senin kalian sebelum kembali beraktivitas ☺☺
Gimana nih weekend nya??
Jangan lupa ramaikan part nya yaaa, vote dan komen untuk support cerita ini 🥰👌
Happy reading
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
◾◽◾
Sellina menutup pintu kamarnya dengan penuh semangat hingga menimbulkan suara gaduh, cewek itu melangkahkan kakinya, berjalan sedikit pincang menuju kasur berukuran besar. Sellina duduk, ransel yang semula berada digendongannya itu kini berpindah menjadi dipangkuannya. Senyumnya bertambah lebar kala gantungan yang ia temukan tadi ia keluarkan dari dalam ransel. Tatapannya saat menatap gantungan kunci berukuran 7×3 cm itu masih sama dengan tatapan saat pertama kali ia menemukan benda itu. Kagum sekaligus tak menyangka, binar bahagia itu juga tersorot jelas dikedua bola matanya.
Sellina memeluk erat gantungan itu, matanya terpejam, seketika bayangan saat Ansellio memberinya plester tadi terputar kembali, pipi Sellina sampai merona hanya karena teringat kejadian itu.
"Aaaaa Ansell gue baperrr!!!" Teriak Sellina tak kuasa menahan rasa bahagianya. Sejak kejadian tadi gadis itu tak henti-hentinya mengusung senyum hingga kedua pipinya terasa pegal.
Sellina berjalan kearah meja belajarnya, mengambil box kecil berwarna putih dari dalam laci, gantungan itu Sellina bungkus kain lalu ia masukkan kedalam box tadi, dalam hati Sellina berjanji akan menyimpan gantungan itu selamanya, menjadikannya bukti bahwa dirinya pernah mengidolakan seorang cowok hanya dalam sekejap mata.
Sellina beralih pada plester yang masih tertempel dilututnya, perlahan plester itu ia lepas, Sellina meraih hand sanitizer lalu menyemprotkannya pada plester pemberian Ansel tadi.