Menurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas.
kalau menurut kamu, keluarga itu apa?
#picbypinterest
#...
Jamal memicingkan mata, menatap bergantian antara kemasan kuning mencolok bergambar buah lemon dan wajah istrinya, Naya.
"Kamu... nyuruh aku pake, errr..." Jamal meringis geli. " kondom?"
Naya memutar bola mata malas. "Aku dapet itu dari kamarnya Jashan."
"Oh—WHAT?!"
Naya mengangguk mantap. "What!"
Jamal seketika menutup laptopnya dengan suara keras. "Kamu serius nemuin benda ini—" Jamal memungut bungkus kecil itu dengan dua jari, seolah memegang bahan peledak, "—di kamar anak sulung kita?!"
Naya mengangguk lagi, bersedekap dada.
"Gak mungkin!" Jamal melempar benda itu asal ke atas meja. "Jashan gak akan se-nakal itu. Aku tahu anak aku, dia tuh sama persis kaya aku waktu muda dulu—Oh, Jesus Christ!" Jamal mendadak berdiri, memegangi kepalanya yang mendadak pusing tujuh keliling.
Jamal baru sadar... waktu muda kan dia memang brengsek setengah mati. Dan Jashan memang jiplakan dirinya!
"It is!" bantah Naya tegas. "Dan kamu tahu yang lebih parahnya lagi? Benda ini—" Naya memungut bungkus itu lalu melemparkannya kembali, "—ada satu dus besar di bawah kasurnya!"
"Wow." Jamal memegang dadanya, matanya berbinar takjub. "Anak kita... lumayan juga performanya."
TAK!
Naya menggebrak meja makan dengan brutal. "Apanya yang hebat, Jamal?!"
Jamal meloncat kaget. "S-sorry! Refleks! DIMANA SI JASHAN SEKARANG?!" berteriak panik melampiaskan rasa takutnya pada sang istri.
Satya yang baru keluar dari dapur sambil memegang gelas air mendadak berhenti. "Kenapa, Pa?"
"Mama kamu nemuin alat kontrasepsi selusin di kamar abang kamu!" adu Jamal.
Satya melirik Juan yang baru saja bergabung. "Jashan belum pulang dari kemarin," kata Satya santai.
"Telepon dia sekarang!" perintah Naya tajam.
"HP-nya udah mati dari semalam," sahut Juan melengkapi.
Wajah Naya makin menggelap. "Berarti anak itu udah sadar kalau dosanya terbongkar!"
"Kalau gitu fix dia gak bakal berani pulang, Babe," keluh Jamal.
Naya tersenyum miring, mengeluarkan ponselnya. "Gampang. Kirim chat ke Jashan sekarang. Bilang kalau papa barusan beliin dia mobil Lambo baru, suruh ambil kuncinya di rumah."
Jamal mengetik pesan singkat itu secepat kilat.
***
"Shit!"
Jashan memaki dalam hati saat membaca notifikasi dari papanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Begitu melangkah melewati pintu depan, Jashan sadar dia sudah masuk ke dalam sarang macan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.