•••
Dari jutaan hal di alam semesta yang paling James benci, menjemput Eden sepulang sekolah menduduki peringkat pertama.
Gini loh, logika James simpel: kenapa Pak Supir yang digaji mahal-mahal malah berubah profesi jadi supir pribadinya Jaka? Kenapa itu supir gak jemput Eden sekalian habis mengantar Jaka? Atau kenapa gak nambah supir satu lagi aja sekalian?
Waktu James mengajukan protes bergelombang ini ke Rosa, Maminya itu cuma menjawab dengan nada santai: "Cari supir yang terpercaya kayak Pak Supir kita tuh susah, James. Mami gak gampang percaya sama orang baru."
Ujung-ujungnya? James yang harus mengalah. Dia terpaksa membelah kemacetan dari kampus menuju sekolah TK adiknya. Tapi makin dipikir-pikir... bukannya di rumah ada Jeno yang lagi menganggur?
"Anjir. Kena tipu gue!" James menyerapah di dalam mobil. Baru sadar kalau di rumah bukan cuma ada dia sama Jake, tapi ada Jeno yang harusnya bisa ditumbalkan.
Tapi ya sudahlah. Rencananya simpel, jemput Eden, lalu angkut itu bocah ke kampus karena James masih ada satu mata kuliah lagi. Terserah Rosa mau ngamuk atau apa. Kalau ditanya, James tinggal jawab: "Makanya jangan nyuruh James. James kan anak durhaka." Beres.
Setelah hampir setengah jam bertapa di depan gerbang, bel sekolah akhirnya berbunyi. James berdiri tegap di samping mobil, bersiap menahan gempuran gelombang bocah-bocah TK yang berhamburan keluar. Para orang tua dan pengasuh sudah siap siaga di posisinya masing-masing.
Beberapa menit berlalu, gerbang terbuka lebar. Anak-anak berhamburan bagaikan tawon lepas dari sarang. Satu per satu dari mereka dijemput dan menghilang. Sementara James? Masih celingukan di tempat.
"Ini bocah ke mana sih? Kata Mami dia yang paling gercep kalau urusan pulang."
James mulai mati gaya. Kelasnya dimulai satu jam lagi dan si bungsu belum muncul juga. Baru saja dia hendak melangkah, berniat untuk menyisir area kelas, terlihatlah sosok Eden. Tapi tunggu dulu... Eden tidak jalan sendirian.
Gadis kecil itu diapit oleh dua bocah laki-laki di kiri-kanannya, plus satu bocah laki-laki lagi yang berjalan kaku mengekor di belakangnya dengan aura ala ksatria cilik.
James melongo. Lah? Kok adik gue bentukannya kayak mau diculik sindikat bocil?
Sebagai kakak laki-laki yang protektif, alarm bahaya di kepala James langsung menyala merah membara dengan bunyi sirene meraung-raung. Padahal anak-anak itu cuma sekadar jalan bareng.
"Kakaaaak!" Eden berseru heboh begitu melihat James. Dia berlari-lari kecil menghampiri kakak ketiganya.
Tiga bocah laki-laki tadi ikut berlari mengekor, memastikan sang "putri raja" sampai dengan selamat ke tangan James.
"Kakak nungguin Eden, ya?"
"Iya," jawab James pendek. Tapi matanya menyipit tajam, melemparkan tatapan mengintimidasi ke arah tiga bocil di belakang Eden.
Eden yang sadar arah pandang kakaknya langsung memperkenalkan rombongannya. "Kakak, ini teman-teman Eden. Mereka—"
"Udah, gue lagi buru-buru." James langsung menyambar dan menggendong Eden di pinggangnya. Dia lalu menatap ketiga bocil itu dengan raut muka paling galak yang dia punya. Dua dari mereka langsung ciut, sementara satu lagi malah menatap balik James dengan muka lempeng.
"Nama lo pada siapa?" tanya James ala preman pasar.
"A-aku Ryan, Kak..." jawab bocah pertama dengan wajah paling imut. Suaranya gemetar bagai dedaunan tertiup angin malam.
"Aku Isa," sahut bocah kedua, kepalanya menunduk dalam-dalam menatap ujung sepatunya sendiri.
James manggut-manggut. Lalu matanya beralih ke bocah terakhir yang dari tadi diam membisu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
