23. Rasa sakit yang paling romantis dalam hidupnya.

72 7 0
                                        

•••

Malam ini, setelah berjibaku dengan makaroni dan keju di dapur demi menuruti ngidamnya Karina, Jeno butuh udara segar. Ia melangkah ke halaman belakang yang sepi.

Jeno hendak mengeluarkan sebatang rokok, memantik apinya. Namun, gerakan dan langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet di atas ayunan kayu di bawah pohon pinus.

Di sana, terbungkus selimut tebal bermotif kotak-kotak, Delia tertidur pulas.

Jeno mematung. Rokok di jemarinya terabaikan. Ia mengira Delia tidak akan  menginjakkan kaki di liburan keluarga ini karena sibuk mengurus vendor pernikahan yang tinggal hitungan bulan. Tapi nyatanya, perempuan itu turut hadir.

Delia tampak tidak berubah, kecuali gurat kelelahan yang terlihat di wajahnya yang tenang saat terlelap. Ayunan itu bergerak sedikit tertiup angin, membuat selimut yang menutupi bahu Delia perlahan merosot, memaparkan bahunya pada hawa dingin yang menusuk.

Jeno menghela napas panjang. Logikanya menyuruhnya berbalik dan lari kembali ke dapur, tapi instingnya sebagai pria yang pernah mencintai perempuan ini selama bertahun-tahun menang telak.

Jeno membuang rokok di tangannya sebelum mendekat dengan langkah sangat pelan, hampir tidak bersuara di atas rumput yang basah oleh embun. Ia membungkuk, meraih ujung selimut Delia, dan menariknya kembali ke atas hingga menutupi leher perempuan itu.

Dari posisinya, Jeno menatap wajah Delia. Wajah yang selama bertahun-tahun hanya ia lihat melalui layar ponsel di tengah badai Laut Utara, atau ia bayangkan di sela-sela kegelapan dek kapal saat jaga malam. Lima tahun di laut lepas menjadikannya seorang Mualim 1 yang tangguh, namun di depan perempuan yang sedang memejamkan mata ini, ia hanyalah seorang pria yang kapalnya kehilangan arah kompas.

Ia memperhatikan bagaimana helai rambut Delia tertiup angin, menutupi sebagian pipinya. Jeno merasakan jemarinya berkedut, sebuah impuls alami untuk menyingkirkan rambut itu, namun ia menahannya kuat-kurap di dalam saku celana. Baginya, menyentuh Delia sekarang adalah sebuah pelanggaran—perempuan ini sudah milik orang lain, atau setidaknya, akan segera menjadi milik orang lain dalam hitungan bulan.

Tiba-tiba, ayunan itu berderit lebih nyaring. Delia bergerak gelisah, tarikan napasnya berubah pendek, dan sedetik kemudian kelopak matanya terbuka.

Pandangan mereka bertemu.

Dunia seolah berhenti berputar di halaman belakang Villa Arimbi. Delia tidak berteriak, tidak juga langsung duduk tegak. Ia hanya diam, menatap sosok di depannya yang dibalut sweater gelap, siluet yang sangat ia kenali namun terasa sangat asing setelah bertahun-tahun lamanya.

"Jeno...?" suara Delia pecah, nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin di sela pohon pinus.

Jeno menarik napas dalam, berusaha menetralkan gemuruh di jantungnya. Ia menarik tubuhnya, dan berdiri tegak. "Kamu kedinginan. Tidur di luar bukan ide bagus untuk orang yang mau jadi pengantin."

Delia mengerjapkan mata, kesadarannya mulai pulih sepenuhnya. "Ah, ya, kayaknya, Aku ketiduran."

Jeno tersenyum kecil. "Aku kira kamu nggak datang."

"Aku datang belakangan. Aku sempat lihat kamu sama Jashan masakin sesuatu buat Karina."

Jeno mengangguk. "Kamu... sendirian?"

Delia mengangguk sembari memeluk tubuhnya dari balik selimut. "Tadi cuma dianterin, terus Dion balik lagi, soalnya ada pasien yang harus di operasi," katanya. "Kamu... nggak bawa kak Lia?"

"Lia?" Jeno lantas mengerutkan kening, mencari-cari dalam ingatannya, siapa perempuan bernama Lia yang Delia sebutkan, kemudian sebuah wajah muncul di kepalanya. "Oh, Nathalia. Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa."

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang