[ 7 ]
••
Begitu melangkah masuk ke kamarnya, hal pertama yang Ningning lakukan bukan meratapi nasib, melainkan ngacir ke depan cermin. Air matanya langsung dilap kasar. Baju atasannya dilepas tanpa rem, menyisakan tank top hitam.
Dan jeng jeng... terpampang nyata di depan cermin: leher, tulang selangka, sampai ke bahunya dipenuhi bercak merah keunguan. Banyak banget! Sudah mirip pola kain batik motif cupang!
"Ningsiiiiiiih..." Ningning memegangi kepalanya yang mulai berdenyut bagai dihantam palu Thor. "Lo ngapain aja semalam, goblok?!"
"Glorya."
Pintu kamar terbuka. Jean—Mamanya—masuk dengan raut wajah khawatir. "Kamu semalam kamu tid—JESUS CHRIST ON A BICYCLE!"
Jean yang tadinya mau menginterogasi, mendadak menjerit melihat tubuh putrinya yang penuh 'tato merah' mendadak.
"Ma-Mama..."
PLAK!
"Aduh! Mama!" Ningning meringis memegangi lengannya yang ditampol Jean.
"Kamu ngapain, huh?!" omel Jean dengan mata melotot. "Mama melahirkan kamu sembilan bulan susah payah bukan buat tidur sama sembarang cowok ya!"
"Mam, pelan-pelan ngomongnya!" pangkas Ningning panik sambil melirik pintu. "Nanti kedengaran Papa!"
"Kamu beneran tidur sama—"
"Aku bukan hooker, Mam! Demi Allah... eh, demi Tuhan! Aku yakin seribu persen aku belum 'diapa-apain'. Cuma luarannya doang!"
"Jadi kamu hampir tidur sama laki-laki?!"
Ningning mengangguk pasrah. "Selain bercak-bercak ini, bawah aku gak kerasa ngilu atau aneh kok."
Jean mengelus dadanya, mengelus ginjalnya, mengelus segalanya karena hampir serangan jantung. "Sekarang kamu mandi! Entah gimana caranya, gosok itu bercak sampai hilang! Jangan sampai Papa kamu lihat. Kalau Papa kamu sampai tahu, besok subuh kamu sudah di-kargo-in ke China!"
Ningning merinding diselingi histeris pelan. Jean lalu keluar kamar, meninggalkan Ningning yang melangkah lemas ke kamar mandi.
Di bawah guyuran shower dingin, pikiran Ningning berputar keras. Ia memejamkan mata, memohon agar ingatan semalam kembali.
Tiba-tiba, sebuah potong memori meledak di otaknya.
"Glorya, stop."
"AAAH!" Ningning mundur selangkah di bawah shower, kaget setengah mati karena mendengar suara cowok berbisik tajam di dalam ingatannya sendiri.
Di memori itu, Ningning yang mabuk berat malah tersenyum nakal. Tangan Ningning yang kurang ajar menyusup masuk ke balik kemeja Polo Ralph Lauren milik si cowok. "Why? Gue pikir... cowok yang pakai kemeja begini... sexy," bisik Ningning dalam ingatannya.
Lalu jemari cowok itu mencengkeram pergelangan tangan Ningning, menahannya kencang. Netra segelap malam milik si cowok menatap langsung ke manik mata Ningning.
"Glorya... stop."
Mata Ningning membelalak lebar di bawah kucuran air shower.
"SI-SILAS?!"
Ningning mendadak linglung. Tangannya bertumpu pada dinding kaca shower yang berembun. "Silas Dhanu Daksatama?! Are you freaking kidding me?!"
Dari sekian banyak cowok ganteng, badboy, dan kaya raya di party semalam... kenapa harus Silas?!
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
