"May i never forget on my best day, that i still need God as desperatly as i did on my worst."
- Chacha.
•••
Jashan melempar ponselnya ke ujung kasur dengan gaya pasrah ala prajurit tumbang di medan perang. Detik berikutnya, tubuhnya ikut ambruk, menubruk kasur empuk dengan bunyi BOK! yang amat memuaskan, disusul sebuah desahan napas lelah yang panjangnya setara dengan rute busway koridor satu.
Baru saja dia mendarat dari perjalanan bisnis yang menguras mental—jenis pekerjaan yang tidak membakar kalori tapi ajaibnya bikin otak jadi kayak keripik—ponselnya berdering.
Notifikasi dari Jeno: "Gue OTW jemput lo, Bro. Gereja jam 5!"
Masa bodoh, batin Jashan sambil memejamkan mata erat-erat. Jangankan ke gereja, diseret pakai buldozer pun dia tidak akan mau bergeser satu milimeter pun dari kasur ini. Jashan cuma butuh tidur. Titik.
Menghela napas untuk kesembilan kalinya hari ini, Jashan berguling telentang, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan kenangan dan sedikit debu AC. Otaknya mendadak recap kehidupan.
Kapan terakhir kali gue tidur nyenyak delapan jam tanpa kepikiran revisi proposal? Kapan terakhir sarapan tenang sama Mama-Papa tanpa ditanya target bulan depan? Kapan terakhir kali nongkrong sama teman-teman tanpa ada yang sibuk buka laptop kerjaan?
Menjadi remaja di usia 17, 18, 19 tahun itu seru banget, tanpa beban, tanpa tagihan. Masuk usia 20 awal, masalah hidupnya tergolong ramah lingkungan. Di saat anak-anak lain pontang-panting mikirin uang UKT, Jashan bersyukur nasib finansial keluarganya cukup stabil. Musuh terbesar Jashan saat umur 20 cuma satu: tugas kuliah rumit yang bikin puyeng.
Tapi begitu wisuda tiba-tiba menyapa di usia 23... BAM! Kerasnya dunia nyata langsung menabraknya tanpa ampun.
Malu kalau masih minta uang jajan sama Papa, ditambah melihat teman-teman seangkatan sudah sibuk merintis karier, Jashan pun mulai kepanasan. Dia ikut magang, masuk ke perusahaan keluarga—yang meskipun milik keluarga, dia tetap ditumbalkan dari level kroco paling bawah—sampai akhirnya jadi pegawai tetap. Sibuknya? Jangan ditanya. Sibuk tingkat dewa.
Saking sibuknya, Jashan baru sadar kalau status jomblo-nya sudah berakar, berdaun, dan hampir berbuah. Dia meratapi nasib tatkala mengingat betapa rajinnya Mama Naya menanyakan calon menantu tiap kali mereka berpapasan di meja makan.
"Shan... kapan ya Mama bisa dengar kabar baik dari kamu?"
"Shan, calon menantu Mama apa kabar? Kok hilalnya belum kelihatan juga?"
"Kemarin Mama dari nikahannya Nikolas, lho. Duh, istrinya cantik banget, perawat lagi. Adem liatnya."
Bahkan pernah suatu hari, Mama Naya menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan prihatin luar biasa, lalu bertanya dengan suara berbisik...
"Shan... jujur sama Mama. Kamu... masih suka cewek, kan? Atau pesona kamu emang udah kadaluarsa di pasaran?"
Jashan cuma bisa mengelus dada sambil mengurut dadanya sendiri dalam hati. Sabar, Shan. Itu Mama kamu sendiri. Jangan dipencet tombol mutenya. Sabar.
Tiap kali teringat pertanyaan ajaib Mama Naya, Jashan mendadak menyesal dulu pernah mati-matian menentang niat adiknya, Satya, yang mau melangkahi dia untuk nikah duluan.
Sebenarnya kalau cuma dilangkahi nikah sih Jashan santai saja, tidak bakal masuk hitungan gengsi. Masalah utamanya adalah Satya minta izin mualaf demi bisa nikah sama pacarnya. Papa Jamal langsung ngamuk, dan Jashan refleks ikut-ikutan jadi kompor. Kalau tahu masa depannya bakal digencet pertanyaan menantu tiap hari begini, dulu Jashan pasti sudah memasang karpet merah dan membantu Satya membujuk Papa Jamal sampai direstui!
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
