[ 20 ]
•••
"Coba baca lagi soalnya," kata Silas.
Jein menghela napas berat, menatap kertas soal seolah-olah itu tulisan hieroglif. "Permen tersebut memerlukan tempat berukuran 900 sentimeter kubik. Jika kotak yang akan ia gunakan memiliki ukuran alas 9 x 9 sentimeter, berapa seharusnya tinggi kotak tersebut supaya permennya muat di dalamnya?"
Silas mengangguk. "Nah. Di mananya yang gak jelas?"
Jein menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Semuanya, Kak! Aku gak paham gimana caranya melipat dimensi dan menjejalin volume ke dalamnya!"
Silas memijat pelipisnya. "Kemarin kan udah aku kasih tahu rumusnya. Coba sebutkan rumus volume prisma."
"Panjang dikali lebar dikali tinggi," sahut Jein yakin.
"Tulis."
Jein menunduk, coret-coret di kertas:
V = p × l × t
"Udah," lapor Jein bangga.
"Masukkan angkanya."
"Alasnya kan bentuknya bujur sangkar, masing-masing sisinya 9 sentimeter. Jadi..." Jein mulai memasukkan angka dengan dahinya yang berkernyit hebat.
V = 9 × 9 × t = 81t
Jein menatap Silas penuh harap. "Gini?"
Silas cuma bisa tertawa kecil, menggelengkan kepala.
Jein berdecak sebal. "Kak Silas maaaaah! Malah ketawa!"
"Ayo terusin dulu. Kerjain kayak yang kemarin aku ajarin," kekeh Silas.
"Aku gak bisa, Kak!"
"Kemarin-kemarin bisa, masa soal beginian gak bisa? Ini tuh soal paling gampang di jagat raya, Jein..."
Jein memutar bola matanya malas. "You build different, Kak."
"Ayo kerjain," desak Silas tegas. "Aku gak mau bantu. You do it."
Dengan bibir yang makin cemberut, Jein akhirnya menurut. Dia mencoba mencerna sisa-sisa memori penjelasan Silas. "Karena volumenya 900 sentimeter kubik, berarti rumusnya jadi... 900 = 81t."
Silas mengangguk puas. "Nah! Pintar! Pertanyaannya tadi apa?"
"Tinggi kotak..."
"Trus?"
Jari Jein bergerak lagi di atas kertas. "900 / 81 = t. Jadinya... 11 1/9!"
Silas langsung bertepuk tangan heboh ala penonton acara kuis. "Pinteeeer! Nah, gampang kan?"
"Tetep aja aku gak ngerti faedahnya hitung kotak permen..." gumam Jein sewot.
"Udah, udah, udahan dulu belajarnya!" seru Jean yang tiba-tiba muncul dari arah dapur, masih mengenakan celemek. "Kita makan malam dulu. Silas, ikut makan sekalian ya! Tante masak banyak banget malam ini."
"Eh, gak usah Tante, nanti repot—"
"Tenang, Tante gak pernah masak babi kok di rumah," potong Jean santai.
Silas tersenyum canggung. "Eh... iya, Tante, terima kasih."
"Cool!" Jean menepuk bahu Silas. "Jein, panggilin cici kamu di atas."
"Cici ada di rumah?" tanya Jein sambil membereskan buku-bukunya.
"Ada. Dari kemarin mengurung diri terus di kamar kayak pangeran kesiangan," omel Jean. "Panggilin, suruh turun makan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
