•••
"Tante bersyukur banget kamu datangnya hari ini, Je!" seru Soraya heboh begitu membukakan pintu untuk Jeno. Tangannya sudah sigap menyangklong tas belanja.
Matahari sedang terik-teriknya, dan Soraya sebenarnya sudah panik setengah mati. Dia harus belanja bulanan, tapi tidak tega meninggalkan Karina sendirian di rumah. Mbak ART yang biasa bantu-bantu malah izin sakit, Wini belum pulang dari kampus, dan Milan sedang ada urusan di luar kota. Kedatangan Jeno di pintu depan benar-benar serasa mukjizat yang dikirimkan langit.
"Tante mau belanja sendiri?" tanya Jeno ramah.
"Iya, terpaksa. Kamu gak apa-apa kan Tante tinggal sebentar buat nemenin Karina?"
Jeno tersenyum menenangkan, memamerkan eye smile-nya yang khas. "I'll take care of her, Tante. Santai aja."
"Duh, makasih banyak ya, Je! Oh iya, Karina belakangan ini lagi susah banget dibujuk makan. Muntah terus-terusan sampai lemes. Coba nanti kamu bujuk, siapa tahu kalau kamu yang nyuruh, nasinya mau bertahan lebih dari lima menit di perut dia."
"Siap, Tante. Nanti Jeno coba bujuk."
"Yaudah, Tante jalan dulu ya. Hati-hati di rumah!"
Sepeninggal Soraya, Jeno langsung bergerak cepat menuju dapur. Dia menyendok seporsi kecil nasi hangat, sedikit lauk yang aroma amisnya tidak menyengat, plus menambahkan mangkuk berisi irisan buah apel segar yang tadi sempat dia beli di jalan.
Semua makanan itu ditata rapi di atas nampan. Jeno lalu melangkah menuju kamar Karina yang kini sudah dipindahkan ke lantai bawah. Maklum, Milan kelewat protektif sampai takut anak sulungnya terpeleset atau kelelahan menaiki tangga—yang bisa bahaya buat kehamilannya.
Knock, knock.
"Karina?" panggil Jeno pelan.
Tidak ada sahutan.
Knock, knock, knock.
"Karina?" panggilnya lagi. Keheningan yang menyapa membuat dada Jeno berdesir cemas. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Jeno memutar knop pintu yang untungnya tidak terkunci.
"Aku masuk ya..."
Kamar itu sepi. Kasurnya berantakan dengan selimut yang menumpuk tak beraturan. Tapi dari arah kamar mandi yang remang-remang, terdengar suara bisikan samar dan hembusan napas berat yang tersiksa. Jeno menaruh nampan di atas nakas secara kilat, lalu setengah berlari menghampiri kamar mandi.
Di sana Karina sedang berdiri membungkuk di depan wastafel, tubuhnya berguncang hebat menahan mual.
"Karina! God," Jeno menekan saklar lampu. Cahaya putih menyala terang, memamerkan pemandangan yang membuat hati Jeno mencelos.
Karina terlonjak kaget saat lampu menyala, tapi rasa mual yang melilit perutnya langsung membatalkan niatnya untuk memprotes. Kepalanya berputar hebat, tenggorokannya panas dan perih karena sudah berkali-kali memuntahkan cairan asam. Perutnya kosong melompong, tapi organ tubuhnya seperti dipaksa menguras isi yang tak ada. Menyiksa luar biasa.
Tanpa banyak bicara, Jeno mendekat. Tangan kanannya dengan cekatan mengumpulkan rambut panjang Karina yang berantakan lalu mengikatnya asal agar tidak terurai, sementara tangan kirinya memijat tengkuk leher cewek itu dengan tekanan yang pas dan lembut.
"Uegh... jangan—ugh... jangan dilihat, Je..." gumam Karina merintih. Wajahnya memerah padam campuran antara lemas dan malu setengah mati.
Jeno malah berdecak kasar. Bukan marah pada Karina, tapi gemas dan kasihan melihat cewek itu tersiksa sampai seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
