24. Gue capek kuliah, mau jadi ani-ani aja.

57 2 0
                                        


•••

Liburan telah berakhir, Mika kembali ke kebiasaannya. Sibuk sebagai mahasiswi.

Angin siang itu berembus malas, menggoyang helai-helai akar udara pohon beringin yang menjuntai seperti jenggot. Di bawah naungannya, Mika dan Berlian duduk bersila, mengabaikan gengsi mahasiswi semester empat demi seporsi cilok legendaris.

"Gila, bumbunya masih konsisten dari zaman purba," gumam Mika sambil menusuk butiran cilok terakhir.

Cilok Om Jek adalah artefak hidup di kampus ini. Konon, sejak zaman orang tua Mika masih saling lirik di kantin lama, bulatan tepung kanji ini sudah bertahta. Kini, tongkat estafet bumbu kacang itu jatuh ke tangan Jek Junior—pria yang lebih sering dibilang mirip drummer band indie daripada tukang cilok.

Berlian tidak menyahut. Ia justru menatap kosong ke arah gerbang kampus, jemarinya memainkan tusuk sate yang sudah bersih. Ada gurat serius yang mendadak muncul di wajahnya yang biasanya ceria.

"Mik," panggil Berlian pelan.

"Hmm?"

"Papa lo... masih sendiri, kan? Maksud gue, beneran duda yang masih available? Enggak lagi dideketin tante-tante sosialita?"

Mika nyaris tersedak butiran bumbu kacang. Ia menoleh cepat, menatap sahabatnya dengan mata membelalak. "Kenapa lo tiba-tiba nanya Bokap gue? Mau minta sumbangan buat himpunan?"

Berlian menghela napas, menyampirkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Di usia dua puluh tahun, saat mahasiswi lain sibuk memuja aktor drama Korea atau kakak tingkat ketua BEM yang hobi orasi, Berlian punya radar yang berbeda. Ia menyukai ketenangan, wibawa, dan aroma parfum maskulin yang sudah bercampur dengan aroma tanggung jawab.

"Om Wiksa itu... punya vibe yang beda. Matang, nggak grasak-grusuk kayak cowok seumuran kita yang kalau PDKT cuma nanya 'sudah makan belum' lewat watsap," ujar Berlian dengan nada yang sangat dewasa, namun terdengar sangat absurd di telinga Mika.

Mika terdiam sejenak, menatap Berlian dengan tatapan ngeri sekaligus takjub. "Ian, lo itu cantik, pinter, idola jurusan. Tapi selera lo... kenapa harus yang seumuran sama Om Jek Senior sih?"

Berlian tertawa kecil, sebuah tawa yang elegan namun menyiratkan tekad. "Ya gimana yah, gue capek kuliah, mau jadi ani-ani aja. Mau jadi peliharaannya Om Wiksa."

Mika bergidik ngeri dibuatnya.

Namun Beelian tidak menghiarukan sahabtnya itu, ia malah memberikan senyum paling manis yang pernah Mika lihat. "Jadi, Sabtu besok Om Wiksa di rumah, nggak? Gue mau balikin buku yang waktu itu gue pinjam," katanya dengan nada centil.

Mika hanya bisa melongo. Cilok di mulutnya seolah kehilangan rasa. Di bawah pohon beringin yang saksi bisu ribuan kisah cinta kampus, ia menyadari satu hal: mulai hari ini, persahabatannya dengan Berlian terancam berubah menjadi hubungan anak dan calon ibu tiri.

"Gausah ngadi-ngadi, bokap gue lagi PDKT sama cewek," cetus Mika ketus, meski di sudut bibirnya terselip senyum tipis.

Mika tahu Berlian hanya sedang kumat mode absurd-nya. Sahabatnya itu memang punya selera humor yang agak gelap dan selera pria yang terlalu jauh melampaui usianya.

"Duh, sensi amat calon anak tiri," canda Berlian sambil terkikik, lalu ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai. "Eh, anyway, malam ini gue nginep di kosan lo ya? Gabut banget gue di rumah, nyokap lagi ke Bandung."

Mika menggeleng cepat. "Nggak bisa. Malam ini gue mau nginep di rumah James."

Berlian langsung menegakkan punggung. "Lho, kok tumben? Mau bongkar muatan kah?" godanya seraya menaik turunkan alis.

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang