3. Si cupu yang mengejutkan.

483 25 10
                                        

- Warning : Typo bertebaran
Warning paling warning : Ada. Pokoknya ada.

•••

Danielle
whr tf are y?

Jein meringis menatap layar ponselnya. Pesan dari Danielle—sahabatnya yang emosinya setipis tisu dibagi dua—terpampang nyata. Mereka memang ada janji buat nongkrong cantik hari ini.

Jein
Call of duty.

Jawab Jein singkat, padat, dan jelas. Dia baru saja menyelesaikan panggilan alam mendesak yang tidak bisa ditawar maupun ditunda demi keselamatan pencernaan.

Danielle
Cepatan. I wait.

Jein
On my way.

Selesai mengetik, Jein buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas. Dia mencuci tangan, mengeringkannya, lalu melirik cermin sebentar untuk memastikan penampilannya masih dalam kategori slay.

"Oke, masih cantik," gumamnya tersenyum puas.

Jein melangkah keluar dari toilet. Namun begitu melihat lorong kampus yang membentang luas, badannya mendadak lemas.

"Duh, ke parkiran masih sejauh jalan menuju surga..." keluh Jein sambil melirik jam tangan. "Lewat Lorong Medisin aja deh!"

Medisin. Lorong legendaris yang sudah sangat terkenal di seantero kampus. Dan untuk pertama kalinya, Jein nekat mau lewat sana. Katanya sih, lorong itu sepi, berhawa mistis, dan angker. Banyak mahasiswi mengaku pernah melihat penampakan. Tapi Jein? Alah, dia sama sekali tidak percaya hantu! Apalagi semenjak dia tahu kalau Lorong Medisin adalah saksi bisu sejarah ciuman Silas dan Ningning. Bagi Jein, lorong itu lebih mirip tempat keramat ketimbang tempat angker.

Jadi tanpa ragu, Jein melangkah mantap. Dia ingin cepat-cepat sampai parkiran sebelum Danielle menjelma jadi monster.

Namun, baru lima langkah masuk... langkah Jein mendadak terhenti. Matanya menyipit menatap dua sosok laki-laki yang berdiri berhadapan di ujung lorong sepi itu.

Satu di antaranya sangat amat Jein kenal: Keagan.

Si Kakak Tingkat paling ngeselin sejagad raya! Ganteng sih, cowok idaman hampir semua cewek kampus. Tapi kelakuannya? Nyampe ke DNA ngeselinnya! Keagan itu tipe kutu buku dingin, kejam, dan irit bicara. Jein benci setengah mati sama cowok itu gara-gara Laporan Praktikum atau Laprak milik Jein selalu dicoret-coret penuh tinta merah tanpa ampun. Entah dendam kesumat apa yang disimpan Keagan padanya.

"Dih, si kakek sihir..." desis Jein sebal ketika matanya tak sengaja beradu pandang dengan Keagan.

Jein berniat jalan lempeng mengabaikan keberadaan kating laknat itu. Tapi, baru mau melangkah lagi... cowok di depan Keagan mendadak meraih kedua tangan Keagan dan menggenggamnya erat-erat!

DEG!

Jein menahan nafas. Mukanya syok berat, tapi otak positifnya masih mencoba mengelak.

"Keagan, please... Jangan kayak gini..." suara cowok itu terdengar amat memohon.

Jein refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. WADAW! ADA DRAMA APA NIH?!

"Apa semuanya gak ada artinya buat kamu? Apa selama ini perasaan aku cuma sepihak?!"

AAAAAAAAAHHHH! Jein berteriak histeris... tentu saja cuma di dalam hati. Bekapan tangannya makin kencang, matanya melotot selebar bola pingpong.

"Aku tahu ini salah! Kita, perasaan aku ke kamu, ini gak logis! Tapi Keagan... aku sayang sama kamu. Kamu juga sayang sama aku, kan?"

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang