19. Akhir dari rencana Satya

94 9 0
                                        

***

Tebak apa yang terjadi? Yepp, betul sekali.

Euforia di dalam Avanza silver itu bertahan tepat selama empat puluh menit—sebelum akhirnya sebuah mobil SUV hitam dengan sirine meraung-raung memotong jalur mereka di lampu merah. Rencana yang tadinya terasa seperti Action-Comedy Hollywood, mendadak berubah genre menjadi sinetron Indosiar.

Bapaknya Mega, si Mulyono, ternyata bukan cuma kolektor batu akik, tapi juga kolektor relasi pejabat.

Akhirnya, kelima laki-laki tersebut beserta Mega, di bawa ke kantor polisi.

Malam itu, kantor Polsek berubah fungsi menjadi panggung drama keluarga paling kolosal tahun ini. Bau ruangan yang khas—perpaduan antara kopu instan, kertas lama, dan sisa asap rokok—terasa mencekik leher kelima pemuda yang kini duduk berjajar di kursi besi panjang.

Satya masih pakai kemeja putih katering yang kancing atasnya lepas, wajahnya di tekuk dalam-dalam. Jake duduk paling ujung, menyandarkan kepala ke tembok sambil komat-kamit istighfar, menyesali keputusannya untuk andil dalam penculikan ini.

Kalau dia sampai masuk penjara, siapa yang kasih makan Digta? Masa iya pas Digta lahiran nanti Jake malah berdekam di penjara? Kasihan banget anaknya baru lahir udah punya bapak kriminal.

Sementara Jashan cuma duduk diam di samping Satya. Jayden berdempetan diantara Satya dan Jake. Jeno sendiri, cuma bisa menghela napas, entah untuk kesekian kalinya.

Di hadapan mereka, suasana jauh lebih mencekam daripada film Civil War. Dua kepala keluarga sedang duduk berhadapan, dipisahkan oleh satu meja kayu dan seorang Polisi yang tampak sudah ingin pensiun dini.

Jangan tanyakan bagaimana raut muka Mulyono—Ayah Mega—pria paru baya tersebut bahkan sudah meledak satu kali sebelum Jamal datang. Kemarahannya memuncak saat Mega berdiri menghalanginya yang hendak melayangkan tamparan pada wajah Satya.

Peci hitamnya miring ke kanan, wajahnya merah padam seperti kepitng rebus.

Jayden berbisik sangat pelan pada Satya, "Sat, menurut lu kita bakal di pejara berapa tahun?"

Satya membalasnya dengan mata melotot, memuat Jayden langsung mingkem.

Sementara itu, Mega duduk di ruangan terpisah. Dia sedang diintrogasi polwan sambil menangis—bukan karena takut, mungkin perempuan itu sedang merasa overwhelm.

Satya mengerti bahwa keadaan saat ini benar-benar serius. Pihak keluarga Mega bersikeras menuntut pasal penculikan. Satya mengerti, harga diri Pak Mulyono terluka. Sebagai pemuka masyarakat, dia tidak hanya kehilangan pengantin di depan ribuan mata, ia merasa bukan hanya anaknya yang dicuri tapi juga kehormatannya.

Sementara Jamal... Satya tidak berani melihat ke arah Jamal. Dia tahu Jamal marah besar dan kecewa.

"Pak Jamal," suara Pak Mulyono dalam dan bergetar karena emosi yang ditahan. "Satya dan Mega sudah lama berpacaran, saya cukup mengenal anak Pak Jamal sebagai laki-laki yang baik dan jujur, selama pacaran juga dia tidak pernah melakukan hal-hal yang salah terhadap Mega. Tapi apa yang dilakukan Satya hari ini... saya benar-benar tidak menyangka, dan itu sudah melampaui batas toleransi saya."

Jamal menatap lurus mata Pak Mulyono. "Saya tidak pernah membenarkan cara Satya. Dia salah. Dia melanggar hukum, dia melanggar tata krama. Saya disini sebagai ayahnya, siap meminta maaf secara terbuka."

"MAAF TIDAK CUKUP, PAK JAMAL!" Pak Mulyono menggebrak meja. "Anak saya itu perempuan! Dia punya marwah! Di depan jemaah saya, di depan keluarga besar, anak Bapak membawanya, mengacaukan pernikahan yang sudah di atur. Mau di taruh di mana muka saya?!"

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang