[ 19 ]
•••
"Dua belas lima puluh tujuh," bisik Jamal dingin, matanya melirik tajam ke jam dinding besar yang menggantung tepat di atas TV.
Jamal sudah menebak alur takdir malam ini. Kalau Jean yang mengompori geng sosialita itu keluar, Naya pasti pulang larut malam. Ini bukan kali pertama. Dulu waktu zaman pacaran juga begini.
Bedanya, kalau dulu Jamal cuma bisa memendam dongkol karena statusnya masih pacar, sekarang beda cerita. Hak cipta, hak paten, dan hak marah atas Naya sudah dipegang penuh oleh seorang Jamal!
Sejak jam 10 malam, Jamal sudah bersedekap di sofa ruang tengah, menjelma jadi hakim agung yang siap membacakan vonis.
Naya masuk mengendap-endap seperti pencuri, berjinjit pelan. Tapi suaminya sudah siap menyambut.
"Kenapa gak sekalian pulang jam satu pagi?"
Naya menghentikan langkah. Kicep. Hanya diam yang bisa dia lakukan sekarang.
"Restoran China-nya rame banget ya? Porsinya banyak sampai makan dari jam tujuh malam gak selesai-selesai?" pancing Jamal, suaranya teralu tenang—dan itu berbahaya.
"Jawab, Naya."
"K-kamu kan tahu... kalau perempuan lagi ngumpul tuh ceritanya banyak... seru... sampai lupa waktu..." cicit Naya pelan.
Jamal mengulurkan senyum miringnya. Sumpah, Naya sampai merinding ke tulang belakang. Senyuman miring Jamal itu adalah pertanda bahaya skala internasional!
"Oh... gitu ya." Jamal mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. "Padahal tadi aku dapat kiriman foto unik dari Wiknal. Let's see..." Jamal menggeser-geser layar HP-nya santai. "Ah, ini dia."
Brak. Jamal meletakkan HP-nya di meja kaca. "Coba kamu lihat, ada kembaran kamu di sana."
Naya mengerutkan kening. "Aku gak punya kembaran..."
"LIHAT!"
Naya langsung mencondongkan tubuhnya ke meja. Matanya membulat sempurna. Di layar HP itu, terpampang foto HD Jean, Rosa, dan... dirinya sendiri! Naya terduduk lemas di lantai, menyambar HP Jamal.
"Ini... kamu dapat dari mana?!"
"Dari Wiknal," jawab Jamal ketus. "Jangan digeser ke slide selanjutnya kalau gak mau aku bakar rumah."
Naya buru-buru menaruh HP itu kembali. Dengan jurus memelas tingkat tinggi, Naya ngesot dari lantai mendekati kaki Jamal. "Sayang... maafin—"
"DON'T!" gertak Jamal menusuk.
Naya menelan ludah, badannya kaku melihat kilatan amarah di mata suaminya.
"Izinnya pamit ke butik Soraya, makan dimsum di restoran China, terus langsung pulang... gitu kan skenarionya?"
Naya mengatupkan bibir rapat-rapt.
"Rupanya 'restoran China' yang kamu maksud itu Savanna Club punya Wiknal ya?" Jamal tertawa sinis. Dia benar-benar murka.
"Jean yang ngajak, Yang... aku gak—"
"Dan kamu gak bisa nolak?!"
"Aku gak enak sama yang lain..."
"YOU ARE NOT A TEENAGER, NAYA!" tekan Jamal setengah berbisik tapi penuh intimikasi. "Kamu berhak nolak! Kamu punya mulut buat bilang 'enggak'!"
Naya menunduk dalam. "Maaf..."
"Ngomong-ngomong, minum apa aja di Savanna?"
"Cuma koktail!" jawab Naya secepat kilat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
