[ 13 ]
•••
Jaka dan James berdiri membatu. Pandangan mereka tertuju pasrah pada dua manekin yang mendampingi Rosa di ruang tamu. Masing-masing manekin dengan anggunnya mengenakan... kostum maid ala pelayan anime lengkap dengan renda-renda dan bando telinga kucing.
Firasat Jaka dan James langsung turun ke titik nadir.
Jaka harus mengakui, kehamilan Rosa yang kali ini benar-benar menguji batas kesabaran dan akal sehatnya. Ngidamnya bukan cuma di luar nalar, tapi sudah di luar galaksi! Setiap hari Jaka harus berkomat-kamit memantrai dirinya sendiri: "Sabar, Jaka... Ini kehendak si jabang bayi, bukan Rosa. Lagian ini juga hasil perbuatan lo sendiri."
"Mam—" James mencoba interupsi.
"TARAAAAA!" Belum sempat James menyelesaikan kalimatnya, Rosa sudah bertepuk tangan heboh, memamerkan sepasang kostum pelayan tersebut dengan wajah sumringah.
James berbisik sangat pelan, hampir tak bernapas. "Pa... jujur, fikiran aku udah gak enak banget."
"Diem! Pura-pura senyum aja!" bisik Jaka tak kalah panik, sambil memaksakan senyum pepsodent ke arah istrinya.
"Jadi gini, Pa, James," Rosa memulai presentasinya dengan mata berbinar. "Kemarin Mami ngeliat video lucu banget di TikTok. Ada cowok-cowok pada pake maid costume gitu. Lucu deh!"
James memejamkan mata dengan syahdu. Habis sudah, pikirnya.
"Mami mau liat kalian pake kostum ini juga!" lanjut Rosa tanpa dosa.
"GAK!" tegas Jaka spontan.
Dalam selusin detik, raut ceria Rosa lenyap. Matanya menyipit tajam menatap suaminya. "Kamu... bilang apa barusan?"
"Ya masa aku disuruh pake kostum cewek sih, Yang?" protes Jaka merengek. "Anak-anak aja! Triple J aja!"
"Tapi Bubu mau liat Papanya ikut pakaaaai!"
Nah, kan. Tombol drama ibu hamil resmi tertekan.
"Aku gak mau pake kostum pelayan," tolak Jaka, mencoba mempertahankan sisa-sisa martabatnya sebagai kepala keluarga.
Rosa cemberut, bibirnya mengerucut 5 sentimeter. "Kamu yakin gak mau?"
Jaka menggeleng mantap.
"Yaudah, kita cerai."
BLAM!
Dua pasang mata bapak-anak itu membelalak sempurna.
"Rosella?!" kaget Jaka.
"Pake kostum maid sekarang, atau kita ke pengadilan agama?" tantang Rosa dingin. Tanpa meragukan ucapannya, tangan Rosa dengan lincah membuka ponsel dan mencari kontak. Tak sampai 3 detik, dia menekan tombol panggil.
Panggilan tersambung. "Halo, selamat sore dengan kantor hukum—"
Jaka dengan cekatan menyambar ponsel itu dan mematikan telepon secepat kilat. "Seriously, Rosa?!"
Rosa cuma mengangkat bahu santai. "You choose, Papa. Dress up or sign the paper."
James di samping cuma bisa menggelengkan kepala meratapi nasib. Belum lahir saja si "Bubu" sudah minta tumbal kehormatan bapak dan kakak-kakaknya. Kalau sudah lahir nanti, jangan-jangan dia ngidam kapling tanah di Planet Saturnus.
"Oke! Aku pake!" pasrah Jaka akhirnya. Martabat bisa dicari lagi, tapi janda anak tiga plus satu jabang bayi jelas bukan pilihan.
Senyum Rosa langsung terbit mengalahkan indahnya mentari pagi. "Nah gitu dong! Papa pake yang ada rok imut ini ya!" Rosa menyodorkan rok putih super mini yang Jaka yakini bahkan tidak bakal sanggup menutupi setengah pahanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
