18. Menjalankan rencana Satya yang GILA.

105 5 0
                                        

•••

Jeno tidak tahu lagi, apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya sampai tidak bisa menolak desakan Jashan yang memaksanya untuk ikut andil dalam menjalankan rencana Satya.

Sekarang, mereka berada di depan gedung serbaguna yang dipenuhi dengan janur kuning dan aroma sate ayam yang menggoda iman. Satya, Jayden, Jake, Jashan dan Jeno masih berada di sebuah mobil Avanza silver, di parkiran.

Di dalam mobil yang kecil dan sempit itu, kelimanya berkeringat dingin, bukan karena gugup, tapi karena AC mobilnya memang lagi diservis.

"Gue punya Jeep dirumah," kata Jayden. "Kenapa musti Avanza kecil ini, tuhaaaaaaaan!"

"Mana sumpek lagi," protes Jake.

"Budget gue cukupnya cuma ngerental Avanza," kata Satya.

"Makanya ngomong, Sat. Kan bisa minjem mobil Jeno!" kata Jake.

"SSSSHHHHHH!" seru Jashan. "Ini tuh rencana rahasia, jadi kita gak boleh menggunakan sesuatu yang milik kita. Kalau kita make mobil Jeno, atau jeep punya Jayden, terus ke tracking sama polisi kan bisa berabe urusannya. Gak lucu nahkoda di tangkap karena kasus penculikan."

Semua orang langsung mingkem.

"Ingat ya, sandi kita: Mendoan Anget. Kalau gue bilang Mendoan Anget, artinya target sudah terpantau," ucap Satya serius, meskipun dia pakai kumis palsu yang sebelah kirinya agak copot.

Jeno, yang paling waras tapi terpaksa ikut, menepuk jidat. "Sat, lu mau nyulik pengantin apa mau pesan gofood? Sandinya nggak ada yang lebih kerenan dikit?"

"Udah, bang. Yang penting misi penculikan kita berhasil hari ini," Sahut Jayden, yang tadinya datang karena setia kawan, kini berakhir totalitas. Pemuda itu bahkan tengah sibuk memoles bedak ke wajahnya biar kelihatan kayak perempuan tulen.

"Oke, sekarang kita turun." kata Jashan.

Satu-persatu, para laki-laki tersebut turun dari mobil. Jeno dan Jake menyamar jadi kru dokumentasi bermodal kamera DSLR mati dan tripod yang sebenarnya jemuran baju lipat, tak lupa membawa lightning ring milik Rosa yang sudah lama nganggur di gudang.

Satya dan Jashan menyamar jadi petugas katering bagian angkut piring kotor. Kenapa petugas katering? Biar Satya bebas keluar masuk tanpa dicurigai.

Dan begitu saja, masing-masing dari mereka berdiri di posisinya.

Di Pos samping pelaminan, Satya berdiri kaku sambil memegang nampan plastik besar. Kumis palsunya mulai gatal karena keringat, tapi dia tidak berani menggaruk. Di sampingnya, Jashan tampak lebih profesional—dia benar-benar memungut sisa tulang ayam dari meja tamu agar tidak dicurigai.

"Sat, lu jangan kaku banget, elah. Udah kek kanebo kering bae lu," bisik Jashan lewat sudut mulutnya. "Rileks, biasa-biasa aja."

"Tetap aja gue tegang bang,"

"Buaya lo maksudnya?" Jashan melirik selangkangan Satya.

"Bajingan!"

Jasha tertawa kecil. "Biar lo gak tegang-tegang amat."

"Lo liat noh, Bapaknya Mega, banyak banget batu akiknya di jari. Kalau rencana kita gagal, gue bakal kena gaplok, bisa rontok gigi gue," sahutnya gemetar.

"Cemen lu!" kata Jashan. "Kita udah setengah jalan, Jayden udah totalitas bantuin lo. Sekarang lo gemetar? Ngide doang lu, nyali kagak ada."

Sementara adu mulut kecil terjadi di divisi piring kotor, divisi dokumentasi sedang melakukan tugasnya. Jeno memegang kamera DSLR—yang baterainya sudah dicabut—dengan gaya ala fotografer profesional kelas dunia.

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang